Hendrik Julieus Mantiri

Hendrik, Maestro Musik Bambu

A PONCO ANGGORO dan NASRULLAH NARA

Sumber:http://oase.kompas.com/  15 Juni 2010 

Dari bambu, Hendrik Julieus Mantiri menciptakan suara-suara indah, yang lalu membawa namanya dikenal sampai ke luar negeri. Bambu yang dijadikannya alat musik itu telah menghasilkan berbagai penghargaan untuknya.

Halaman sekaligus garasi rumahnya di Desa Lemoh, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara, sekitar 30 kilometer arah selatan Kota Manado, seakan menjadi saksi bisu keberhasilan Hendrik.

Bambu yang telah disulapnya menjadi berbagai macam alat musik bambu terlihat di setiap sisi garasi. Mulai alat musik berbentuk sederhana, seperti suling, hingga yang rumit, semisal saksofon, klarinet, dan cello.

Di dekat pintu masuk rumah, penghargaan yang diraihnya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2009) dan Kementerian Budaya dan Pariwisata (2008) terpampang. Ia mendapat penghargaan sebagai maestro seni tradisi dan maestro musik tradisional bambu.

Di garasi seluas sekitar 100 meter persegi itu, mulai tahun 1975 Hendrik mematangkan tekad menjadi pemusik dengan alat musik bambu sekaligus membuat sendiri alat-alat musiknya.

Cintanya pada bambu muncul sejak ia duduk di sekolah dasar. Saat itu, anak dari Lambertus Mantiri dan Hermina Sualang ini terkesan pada alat musik bambu di sekolahnya di Desa Boroko, Kecamatan Kaidipang, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

Ketika pembuat alat musik bambu itu meninggal, dan ”mewariskan” sejumlah alat musik bambu rusak, Hendrik kecil berusaha membuat alat musik bambu sejenis.

”Setiap pulang sekolah saya cari bambu, melubanginya, dan membentuk nada yang sama dengan alat musik bambu di sekolah,” ceritanya. Setelah berulang kali gagal, dia akhirnya menemukan ”rumusnya”, dan berhasil membuat satu alat musik bambu.

”Sehari lima alat musik bambu saya buat, mulai yang mengeluarkan nada rendah sampai tinggi,” katanya, tentang alat musik sederhana berbentuk batang bambu yang dipotong dan dilubangi di beberapa sisinya. Setelah mahir, dia bersama teman-teman membuat kelompok musik. Lagu-lagu daerah Minahasa mereka mainkan pada saat berkumpul, dan kala bersama warga desa lain.

Hobinya bermain musik tak berhenti meski tahun 1975 Hendrik mengikuti orangtua yang pindah dari Boroko ke Desa Lemoh. Justru di tempat tinggal barunya ini tekad dia semakin kuat untuk menjadi seniman.

Bersama kelompok musiknya, ia rajin berlatih. Sebagai ketua grup, Hendrik-lah yang menyemangati rekan-rekannya berlatih. Seiring berjalannya waktu, undangan untuk bermain di desa-desa tetangga pun mengalir.

Grup ini mulai tenar di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, mereka sampai bermain di Jakarta pada 1991. ”Pengalaman di Jakarta menjadi bagian penting dari karier saya.”

Awal dari kritik

Obsesi Hendrik membuat sendiri alat musik bambu, berawal dari ”sentilan” Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (kala itu Fuad Hassan) saat menonton pertunjukan mereka. Fuad Hassan mengkritik dia, katanya, kelompok Hendrik belum bisa disebut kelompok musik bambu tradisional. Alasannya, alat musik yang digunakan, seperti saksofon, klarinet, dan cello, terbuat dari kuningan, bukan bambu.

Oleh karena itulah, sepulang dari Jakarta, Hendrik berupaya membuat alat musik dari bambu. Ini tak mudah. Ia harus mencari bambu yang layak, memotong batang bambu, dan merekatkannya dengan lem kayu, lalu melubanginya hingga keluar nada yang sama dengan alat musik biasa. Setelah tiga bulan mencoba, dia baru berhasil.

”Suara yang keluar (dari alat musik bambu) tidak pecah. Ini seperti alat musik berbahan kuningan,” katanya bangga.

Dengan tuntasnya pembuatan alat musik itu, kelompok musiknya murni menjadi grup musik bambu. Semua alat musik yang dimainkan 30 anggota grupnya terbuat dari bambu. Selanjutnya, Hendrik pun melatih teman-temannya memainkan alat-alat musik itu.

Tahun 1995 ia bersama kelompok musiknya, Nada Satria, mengikuti festival internasional di Bali. Mereka mewakili Indonesia berkompetisi dengan kelompok musik dari 24 negara. Mereka berhasil menjadi juara pertama.

Pamor Hendrik pun meroket. Undangan untuk bermain di kota-kota besar di Indonesia, hingga ke luar negeri seperti Beijing, China, berdatangan.

Selain itu, banyak orang asing datang ke rumahnya membeli alat musik bambu. Saksofon yang dijualnya seharga Rp 1 juta dan klarinet Rp 500.000 menjadi favorit orang asing.

”Sudah 166 alat musik yang saya jual kepada orang asing dari 18 negara. Utusan Bill Clinton saat masih Presiden Amerika (Serikat) juga datang membeli saksofon saya,” katanya.

Musik Minahasa

Sebagian uang hasil penjualan alat musik bambu itu kemudian digunakan Hendrik untuk membiayai operasional Pusat Pelatihan dan Pengembangan Musik Bambu Minahasa, yang didirikannya. Pusat pelatihan itu melatih kaum muda di desa untuk bermain dan membuat alat musik bambu. Mereka yang mengikuti pelatihan itu tak dikenai biaya.

Hasilnya, 10 kelompok musik bambu baru muncul dari pusat pelatihan ini. Selain itu, juga bermunculan sejumlah kelompok musik bambu dari desa-desa lain yang mengikuti pelatihan di tempat Hendrik.

”Lewat pelatihan ini belum ada anak muda yang bisa membuat alat musik bambu seperti saya. Sudah ada yang mirip bentuknya, tapi nada yang muncul belum sama. Masih diperlukan naluri, talenta, dan analisis yang kuat agar bisa membuat alat musik bambu,” ujarnya.

Meski tak lagi berusia muda, Hendrik tetap bersemangat melestarikan alat musik bambu yang menjadi salah satu ciri khas budaya Sulawesi Utara. Ia bahkan bercita-cita membangun sekolah seni budaya Sulawesi Utara di Desa Lemoh.

”Lembaga pendidikan itu nantinya tak hanya melatih dan mengembangkan alat musik bambu, tetapi juga tarian dan budaya dari berbagai etnis di Sulut yang kian terjepit modernisasi,” katanya.

Seperti kolintang, alat musik tradisional lain dari Sulut, yang bisa mendunia berkat festival berskala internasional, Hendrik pun ingin musik bambu mendapat pengakuan serupa.

Maestro Musik Bambu Meninggal Dunia

Sumber: http://regional.kompas.com/ 29 Januari 2012 

MANADO, KOMPAS.com — Hendrik Julies Mantiri (64), maestro musik bambu asal Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara, meninggal dunia pada Sabtu (28/1/2012) pukul 20.00 Wita. Ia meninggal di Rumah Sakit Ratumbuisang, Manado, akibat serangan jantung. Sejak 23 Desember 2011, Hendrik dirawat di rumah sakit yang sama.

“Kepergian beliau sangat mendadak. Padahal, 30 menit sebelum meninggal, saya masih sempat berbincang dengan baik,” tutur Katrina Mandagi (57), istri Hendrik Julies Mantiri, saat mengabarkan wafatnya suami tercintanya itu kepada Kompas, Minggu (29/1/2012).

Jenazah Hendrik masih disemayamkan di rumah duka di Desa Lemoh, Kecamatan Tombariri, Bolaang Mongondow Utara. Rencananya, Hendrik akan dimakamkan di pemakaman umum di desa itu pada Selasa (31/1/2012). Hendrik meninggalkan seorang istri dan dua orang putri.

“Saat ini, seluruh sanak saudara sudah berkumpul di rumah. Beberapa seniman masih dalam perjalanan menuju rumah kami,” ujar Katrina.

Selain mahir memainkan berbagai alat musik dari bambu, Hendrik sekaligus pembuat alat musik itu. Alat musik yang ia buat di rumahnya adalah seruling, saksofon, klarinet, dan selo. Pembuatan alat musik itu ia tekuni sejak tahun 1975. Pada 2008 dan 2009, Hendrik menerima penghargaan sebagai Maestro Seni Tradisi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: