Dasep Arifin

Abah Dasep, Sang Inovator Alat Musik Bambu

Oleh: Rahmi Fitria

Sumber: http://loveburgundy.wordpress.com/  10 April 2011 

Lelaki berpakaian serba hitam itu mengacungkan jari telunjuknya tinggi ke udara. Sontak terdengar suara riuh pipa-pipa bambu yang saling berbenturan. Sekali lagi, lelaki itu mengacungkan jarinya, kali ini telunjuk dan jari tengah, riuh benturan pipa bambu kembali terdengar. Namun dengan suara berbeda. Rupanya ini bunyi nada ‘da’, sedangkan yang sebelumnya ‘mi’, dalam tangga nada pentatonis alat musik Sunda.

Begitu berulang seterusnya. Suara benturan pipa bambu terdengar silih berganti, tiap kali lelaki itu mengacungkan jari-jarinya ke udara. Alunan musik angklung pun mengisi udara sore yang basah di perbukitan Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Dia adalah Dasep Arifin, seniman Sunda yang mendedikasikan hidupnya bagi pengembangan seni tari dan musik tradisi Jawa Barat. Sore itu, ia tengah mengajarkan sekitar 30-an pemuda bagaimana cara memainkan alat musik angklung.

Semangatnya untuk memajukan kesenian Sunda memang tak pernah padam. Sejak umur 10 tahun, Dasep kecil sudah rajin ikut dalam berbagai pentas kesenian di kampungnya. Hingga beranjak remaja, ia mulai serius menekuni tari Jaipongan. Obsesinya adalah membawa tarian tradisional Sunda itu mendunia. Selama lebih dari 30 tahun berkesenian, Dasep kerap diundang berpentas di berbagai negara. Di dalam negeri, ia berupaya melestarikan dan memasyarakatkan tari Jaipongan dengan cara mengajar. Mulai dari para pemuda tingkat RT hingga puteri presiden. “Abah sempat diundang ke Cendana untuk mengajari mbak Tutut menari Jaipongan,” kata Dasep menyebut nama puteri sulung mantan Presiden Soeharto itu.

Semenjak tahun 2007, Dasep Arifin lantas memutuskan untuk fokus mengembangkan alat musik bambu yang, menurutnya, mulai dilupakan masyarakat. Di penghujung sisa usianya, ia ingin berbuat sesuatu sebagai bentuk baktinya pada dunia seni tradisi. ”Identitas masyarakat Sunda itu bambu, masyarakat kita itu masyarakat agraris, tidak mungkin membuat alat dari besi yang mahal dan makan waktu membuatnya,” ujarnya bersemangat.

Inovasi Alat Musik Bambu

Ruangan seluas 40 meter persegi ini sesak oleh berbagai jenis alat musik berbahan bambu. Bentuknya unik bahkan, buat saya, terlihat asing. Maklum, sebagian besar merupakan alat musik tradisional Sunda yang sudah jarang dipertunjukkan, diantaranya talawangsa, angklok, lantung atau gintung. Pantas saja, namanya pun begitu asing di kuping saya.

Di tengah ruangan, saya menemukan alat musik yang bentuknya cukup familiar. Rupanya mirip kolintang dari Minahasa, Sulawesi Utara namun bukan terbuat dari kayu, melainkan bilah bambu.

Abah, demikian Dasep Arifin biasa disapa, lantas memukul-mukul susunan bilah bambu itu dalam bunyi yang berirama. Suaranya terdengar empuk dan merdu, meski tidak terlalu keras. Menurut Abah, bunyi alat musik inovasi buatannya ini memang tidak sekeras alat musik aslinya. Itu lantaran kadar air dalam bambu yang tinggi. “Sampai sekarang Abah masih mencari cara mengatasinya,” ujarnya. Namun ia menambahkan, kelemahan ini bisa disiasati dengan bantuan teknologi. “Mau suara sekeras apa sih, sekarang kan sudah ada teknologi, pakai saja spool dan amplifier,” jawabnya.

Saya lantas menjelajah area pinggir ruangan, disana berderet sembilan buah batang pipa bambu berdiameter 15 sentimeter, berdiri tegak, dengan tinggi bervariasi. Cara memainkannya dengan memukul tiap-tiap lubang bambu dengan alat seukuran raket pingpong. Tiap pipa bambu akan menghasilkan suara berbeda. Seru juga melihat Abah beraksi ‘menggebuk’ batang-batang bambu itu, bunyinya seperti alat musik drum namun lebih pelan.

Keterampilan berkesenian dipelajari Dasep secara otodidak. Bermodal pengalaman dari panggung ke panggung, ia terus mengasah kemampuannya sehingga menjadi seorang seniman tradisi yang handal. Rambutnya yang dibiarkan panjang sebahu, ditambah seutas kain batik yang melingkari kepalanya hingga menutupi sebagian rambutnya yang berwarna keperakan itu, menambah eksentrik penampilan Abah.

Abah tidak hanya bereksperimen dengan alat-alat musik tradisional namun juga alat musik moderen, seperti harpa dan biola. Layaknya eksperimen, ia pun harus melewati berkali-kali uji coba sebelum menemukan bentuk akhir. Biola bambu yang saya lihat di workshop ini, menurut Abah, merupakan versi ketiga hasil uji coba sehingga bobotnya lebih ringan dan suaranya pun lebih bagus. Lantaran terbuat dari bambu, bentuknya tidak bisa menyerupai biola asli, melainkan ramping dan memanjang.

Karakteristik bambu memang mengharuskan adanya modifikasi pada bentuk alat musik inovasi buatan Abah ini. Namun cara memainkannya tetap mengacu pada alat musik aslinya agar tidak membingungkan pemakainya.

Alat-alat musik inovasi bambu buatan Dasep Arifin ini diberi nama Sangkia, artinya maju ke depan. Ia berharap karyanya ini dapat bermanfaat bagi kemajuan kesenian tradisi Sunda. Sangkia sendiri telah dipakai berpentas dalam sejumlah pertunjukkan, bahkan kecapi Sangkia telah dipakai dalam sebuah pementasan seni di Belanda.

Jawa Barat Sebagai Sentra Bambu Dunia

Tahukah Anda bahwa sebanyak 105 dari 127 spesies tanaman bambu yang ada di dunia berasal dari Indonesia, dan sebanyak 90 diantaranya berasal dari Jawa Barat? Tak heran, tanaman bambu begitu lekat dalam kehidupan tradisional masyarakat Jawa Barat sejak berabad-abad silam. Tanaman jenis rerumputan ini kerap dipakai sebagai bahan pembuat rumah, jembatan, perkakas rumah tangga, alat musik hingga menjadi lauk santapan.

Sampai tahun 1960-an, bambu merupakan perkakas rumah tangga utama dalam masyarakat Sunda. Namun seiring modernisasi, ditandai dengan pembukaan areal perkebunan bambu untuk perumahan dan masuknya barang-barang industri plastik, keberadaan perkakas bambu lambat-laun mulai terpinggirkan.

Begitu pun dengan alat-alat musik bambu. Padahal ada begitu banyak alat musik Sunda yang terbuat dari bambu, namun hanya sedikit saja yang dikenal masyarakat seperti suling dan angklung. Selebihnya, relatif tak berkembang. “Sekarang ada kecenderungan teknologi akan membunuh tradisi,” kata Dasep prihatin. Namun ia tak anti teknologi, justru menurutnya seni tradisi harus bisa mengikuti perkembangan teknologi agar tidak tergilas jaman. Karena itu, Dasep tak keberatan jika generasi penerusnya kelak melakukan modifikasi teknologi terhadap alat musik bambu ciptaannya. “Abah sudah membuka jalan, selanjutnya silahkan dikembangkan,” ujar Dasep.

Inovasi alat musik bambu ciptaan Dasep ini merupakan hasil kerja keras selama hampir empat tahun. Puluhan truk batang bambu sudah dihabiskan untuk melakukan uji coba, bahkan untuk itu ia harus menjual sebuah mobil pribadinya. Menurut Dasep, bagian tersulit adalah mencari dan memodifikasi bentuk alat musik sesuai dengan karakteristik bambu agar dapat menghasilkan suara seperti alat musik aslinya. Hingga kini, Dasep telah membuat inovasi atas sembilan jenis alat musik.

Proses pembuatan alat musik bambu bukan hal sembarang. Butuh pengetahuan khusus dan makan waktu. Salah-salah mengolahnya, alat musik bambu bisa bersuara sember atau rusak dimakan rayap.

Tahap awal adalah pemilihan batang bambu. Dasep hanya menggunakan bambu hutan jenis bitung, gombong dan tamiang yang didatangkan dari Majalengka, Jawa Barat, sebab berkualitas super dan berukuran besar. Bambu Majalengka diameternya bisa mencapai 18 sampai 22 sentimeter, sedangkan diameter bambu umumnya hanya 15 sentimeter. Tak hanya jenisnya, menebang pohon bambu pun ada aturannya. Ini adalah pengetahuan yang telah dipraktekkan secara turun-temurun sejak jaman nenek moyang, antara lain tidak boleh menebang bambu pada hari setelah malam bulan purnama, pada pagi hari, saat pohon bambu sedang beranak atau muncul rebung dan saat sedang berbunga.

Aturan penebangan pohon bambu yang merupakan tradisi leluhur itu ada alasannya. Pada saat bulan purnama, kadar air dalam tanaman bambu tinggi, sedangkan pagi hari adalah saatnya tanaman bambu menghisap makanan sehingga kandungan gulanya tinggi. Batang bambu yang demikian itu kualitasnya kurang baik dan mudah dimakan rayap. Tanaman bambu yang sedang beranak diketahui hanya memiliki berat setengah dari yang semestinya, lantaran ada sebagian zat pada tanaman bambu tua yang diberikan pada bambu muda atau rebung. Sementara tanaman bambu yang sedang berbunga menandakan kondisi bambu yang sudah rusak dan akan mati.

Usai direpotkan dengan pemilihan bambu, masih ada serangkaian proses pengolahan bambu yang juga tak kalah rumitnya dan makan waktu. Pertama-tama, batang bambu direndam dalam air yang telah dicampur zat kimia selama 1 jam untuk mengawetkan bambu. Dahulu, masyarakat tradisional merendam batang bambu selama berhari-hari di kolam. Tradisi ini tentu lebih ramah lingkungan, sayangnya kurang praktis.

Selanjutnya, bambu dikeringkan dengan cara diangin-angin tanpa boleh terkena panas matahari, agar batang bambu tidak pecah. Proses pengeringan ini lamanya bisa mencapai 2 bulan. Setelah kering sempurna, barulah batang bambu bisa dipotong-potong. Namun tak berhenti disitu, bilah-bilah bambu masih harus direndam lagi dalam minyak solar supaya lebih keras. Terakhir, bambu lalu direndam dalam campuran minyak tanah dan camphor supaya tahan rayap.

Tentu saja, jangan membayangkan proses ini harus berulang setiap kali pembuatan alat musik bambu. Pengolahan batang bambu dilakukan secara masal, lalu disimpan di tempat kering dan sejuk dan siap dipakai kapan pun. Sementara proses pembuatan alat musik bambu sendiri butuh waktu antara 7 sampai 10 hari. Pembuatan dilakukan secara manual, menggunakan gergaji dan pisau raut.

Alat musik bambu hasil inovasi Dasep Arifin telah dipamerkan di Taman Budaya, Sentul City, Bogor. Harganya lebih murah, sekitar 20 persen, dibanding alat musik aslinya. Dasep berharap alat musik bambu ciptaannya dapat menjadi alternatif pembuatan berbagai jenis alat musik selain kayu.

“Saya membayangkan dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang kita sudah tidak punya kayu, hutan-hutan sudah dijarah,” ujarnya prihatin. “Lalu bagaimana, apa seniman tidak bisa bermain musik lagi?”

Bambu memang mudah dibudidayakan. Masa tanamnya hanya 3 sampai 5 tahun, bandingkan dengan kayu keras pada umumnya yang butuh waktu 20 sampai 30 tahun. Tanaman bambu juga baik bagi pelestarian lingkungan yakni mencegah tanah longsor, memperbaiki sirkulasi udara dan menyimpan air tanah.

Lantaran segudang manfaatnya itu, tak heran jika Dasep begitu ‘mengagungkan’ tradisi bambu. Ia pun mengajak masyarakat untuk menengok tradisi nenek moyang dalam memanfaatkan bambu, sebagai tanaman multiguna, untuk kesejahteraan masyarakat dan melestarikan budaya bangsa.

“Terimakasih kepada Mutia Muliasih, http://mutiamuliasih.blogspot.com, atas pinjaman foto-fotonya”

Note: Versi penyuntingan dari tulisan ini dimuat dalam majalah Intisari edisi Juni 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: