Wawan Sujarwo, dkk

POTENSI BAMBU TALI (Gigantochloa apus J.A. & J.H. Schult. Kurz) SEBAGAI OBAT DI BALI

Wawan Sujarwo, Ida Bagus Ketut Arinasa, dan I Nyoman Peneng (UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Bali – LIPI) 

Bul. Littro. Vol. 21 No. 2, 2010, 129 – 137

Download file: 4-wawan 

ABSTRAK

Publikasi yang mengungkap tentang penggunaan bambu dalam dunia pengobatan masih sedikit sekali bila dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Penelitian ini bertujuan mengangkat kearifan lokal  yang ada di Bali tentang penggunaan  bambu tali sebagai obat, mengetahui  komponen kimia dasar penyusun bambu  tali dan mengetahui kandungan senyawa  kimia aktif yang berpotensi sebagai obat.  Metode yang digunakan dalam penelitian  ini adalah metode wawancara, eksplorasi  materi genetik, dan laboratorium (uji  proksimat dan GCMS). Hasil penelitian  menunjukkan bahwa empat belas responden  (51,85%) menyatakan bahwa bambu  tali berpotensi sebagai obat, berdasarkan  lontar usada (kitab pengobatan tradisional  Bali) dan sudah mempraktekannya secara  langsung terhadap pasien. Akar bambu tali  dapat mengobati kencing manis, kencing  batu, maag, liver (sakit kuning), hipertensi,  ginjal, kanker payudara, limpa, kanker  darah, dan batuk. Sedangkan batang  (buluh) bambu tali dapat digunakan untuk  meremajakan kulit bekas luka, memperlancar  persalinan, mengobati luka, dan  mengobati panas dalam. Pengujian proksimat  menunjukkan bahwa bambu tali  mengandung protein 2,02% (akar)-4,72%  (batang), lemak 6,71% (batang)-7,78%  (akar), abu 4,05% (batang)-11,21%  (akar), air 8,51% (akar)-8,51% (batang),  karbohidrat 70,49% (akar)-76% (batang),  pati 12,18% (batang)-13,07% (akar),  serat 59,21% (batang)-62,67% (akar) dan  antioksidan 29,91 ppm (batang)-42,88  ppm (akar). Pengujian gas chromatography  mass spectrometry (GCMS)  menggunakan pelarut non polar (hexane)  menunjukkan bahwa bambu tali mengandung  asam lemak, baik asam lemak jenuh  (palmitic acid, myristic acid, stearic acid,  dan lain-lain) maupun asam lemak tidak  jenuh (oleic acid dan lain-lain) serta  senyawa lainnya (kurkumin, limonen, dan  lain-lain). Ditemukan pula senyawa  aromatik seperti toluene, naphthalene, dan 1,3,5-trimethyl benzene.

Kata kunci : Bambu tali (Gigantochloa apus J.A & J.H. Schult. Kurz), kearifan lokal, obat

ABSTRACT

The Potential of Tali Bamboo  (Gigantochloa apus J.A & J.H.  Schult. Kurz) As Medicine In Bali  Publications that revealed about the  utilization of bamboo in the world of  medicine are still very little compared to  other plants. The objectives of this  research were to understand indigenous  knowledge of tali bamboo as medicine,  basic chemical components, and active  chemical compounds which are potential  for medicine. The methods used were  interview, exploration, and laboratory  analysis (proximity and GCMS tests).  Results showed that 51.85% of  respondents clarified that tali bamboo is  potential as medicine. The respondent’s  statement was based on lontar usada (a  manuscript about healing system, the  medicinal ingredients, and the method in  Bali traditional healing) and results from  direct practice to the patient. The roots of  tali bamboo were used to cure cough,  liver, hypertension, breast cancer,  diabetic etc. While the culms were used  to cure heartburn, skin rejuvenation etc.  Results of proximity test showed that  root and culms of tali bamboo contained  2.02 and 4.72% protein; 7.78 and 6.71%  fat; 11.21 and 4.05% ash; 8.51 and  8.51% water; 70.49 and 76% carbohydrate;  13.07 and 12.18% starch; 62.67  and 59.21% fiber; and 42.88 and 29.91  ppm antioxidant. The GCMS test with nonpolar  solvent (hexane) revealed that tali  bamboo contained saturated fatty acid  (palmitic, myristic, and stearic acids etc.)  and unsaturated fatty acid (oleic acid). The  other compounds were also found such as  curcumene, limonene etc. Some aromatic  compounds were also found such as  toluene, naphthalene, and 1,3,5-trimethyl benzene.

Keywords : Tali bamboo (Gigantochloa apus J.A &  J.H. Schult. Kurz), indigenous knowledge, medicine

PENDAHULUAN

Bambu tali (Gigantochloa apus)  termasuk jenis bambu dengan rumpun  simpodial, rapat, dan tegak. Masyarakat  pedesaan, khususnya di pulau  Jawa dan Bali, telah menanam bambu  tali. Hal ini terbukti dari banyaknya  pemberian nama daerah seperti pring  tali, pring apus (Jawa), awi tali  (Sunda), tiing tali (Bali), dan pereng  tale (Madura) (Widjaja 2001). Bambu  tali biasanya ditanam di pinggiran  sungai, batas desa, dan lereng perbukitan  dari dataran rendah hingga  dataran tinggi (±1.300 m dpl). Tujuan  utama penanaman bambu tali adalah  pengambilan batangnya yang untuk  berbagai keperluan diantaranya sebagai  bahan konstruksi bangunan  (rumah dan jembatan), peralatan  rumah tangga, kerajinan mebel, atap  rumah, dan alat musik tradisional  (angklung) (Dransfield dan Widjaja  1995). Selain itu, penanaman bambu  tali dapat menjaga kestabilan siklus  hidrologi air di daerah sekitarnya. Akan  tetapi pemanfaatan bambu sebagai  bahan obat nyaris belum banyak yang  mengetahuinya. Tengah et al. (1995)  dengan mengacu pada lontar usada  menyebutkan bahwa ada lima jenis  bambu yang digunakan dalam pengobatan  tradisional Bali, salah satunya  adalah bambu tali. Lontar Usada  merupakan manuskrip yang mengandung  sistem pengobatan, bahan obat,  dan cara pengobatan tradisional di Bali (Tengah et al. 1995).

Penggunaan bambu tali dalam  dunia pengobatan belum sepenuhnya  dapat diterima masyarakat luas,  karena secara klinis belum diketahui  pasti senyawa kimianya. Demikian  juga penggunaan dosis belum ada  yang baku dan hanya berdasarkan  pada pengalaman empiris (Sutarjadi  1991). Beberapa penelitian bambu  telah menghasilkan informasi tentang  senyawa kimia, tetapi evaluasi secara  sistematik belum dilakukan, termasuk  senyawa kimia yang mungkin berfungsi  sebagai obat. Dharmananda  (2004) menyatakan bahwa bambu  umumnya mempunyai tingkat acetylcholine  yang tinggi, khususnya pada  beberapa bagian tanaman (misalnya  bagian atas rebung). Senyawa acetylcholine  dapat meningkatkan fungsi  otak. Sedangkan Sujarwo et al.  (2010) menyebutkan bahwa bambu  ampel gading (Bambusa vulgaris)  mengandung asam lemak jenuh  (palmitic, myristic, lauric, behenic,  dan arachidic) maupun asam lemak  tidak jenuh (linolenic) serta senyawa  tidak jenuh lainnya (curcumene).  Selain itu, juga ditemukan senyawa aromatik seperti naphthalene.

Publikasi yang mengungkap  tentang penggunaan bambu dalam  dunia pengobatan masih sedikit sekali  bila dibandingkan dengan jenis  tanaman lainnya. Tulisan ini bertujuan  untuk mengangkat kearifan lokal yang  ada di Bali untuk dilestarikan dan  dikembangkan menjadi sesuatu yang  lebih bernilai. Kearifan budaya lokal  merupakan warisan leluhur yang harus  dilestarikan. Salah satu kearifan lokal  yang ada di Bali yaitu penggunaan  bambu sebagai bahan obat. Selain itu,  pembahasan tentang komponen kimia  dasar penyusun bambu tali serta  pembuktian kandungan senyawa kimia  aktif yang terkandung dalam bambu tali akan diulas dalam tulisan ini.

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilakukan sejak Juni  sampai November 2009. Material  genetik yang digunakan dalam penelitian  adalah bambu tali (Gigantochloa  apus). Metode pengambilan sampel  secara purposif dilakukan di beberapa  wilayah yang diperkirakan mempunyai  keragaman bambu tali sebagai obat,  yaitu di tiga Kabupaten yaitu Bangli,  Karangasem, dan Buleleng. Untuk  memperoleh keragaman jenis-jenis  bambu yang berpotensi sebagai obat  dilakukan beberapa tahap kegiatan yaitu

a. Wawancara untuk mengetahui  potensi bambu tali sebagai bahan  obat beserta cara-cara pemanfaatannya,  dengan para balian  usada, rohaniwan Hindu (pedanda  dan pemangku) dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

b. Eksplorasi materi genetik bambu tali yang berpotensi sebagai bahanobat di tiga Kabupaten di Bali.

c. Pengujian proksimat (kadar air,  kadar abu, kadar protein, kadar  lemak, kadar karbohidrat, kadar  pati, kadar serat, dan kapasitas  antioksin) menggunakan beberapa  metode diantaranya gravimetri dan  titrimetri. Pengujian proksimat  dilakukan di Laboratorium Analisis  Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana.

d. Analisis senyawa kimia spesimen  bambu yang berpotensi sebagai  obat dengan menggunakan Gas  Chromatography Mass Spectrometry  (GCMS), di Pusat Penelitian Kimia LIPI Bandung.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penggalian informasi potensi  bambu tali sebagai obat dan cara-cara pemanfaatannya di Bali

Keanekaragaman bambu di  Bali cukup tinggi. Bambu ditanam  pada tanah tegalan dan pinggiran  jurang yang sekaligus berfungsi sebagai  konservasi tanah dan air. Secara  keseluruhan dari kegiatan penelitian  di Bali yang meliputi Kabupaten  Bangli, Karangasem dan Buleleng  diperoleh 27 responden yang berhasil  diwawancarai, yaitu para balian usada  (praktisi pengobatan tradisional),  pemuka masyarakat, dan rohaniwan  Hindu (pemangku dan pedanda).  Didapatkan 14 responden (51,85%)  menyatakan bahwa bambu tali berpotensi  sebagai obat. Para responden  mendasarkan keterangannya dari  lontar usada (kitab pengobatan tradisional  Bali) dan sudah mempraktekannya  secara langsung terhadap  pasien yang diobati, bahwa bambu tali dapat berfungsi sebagai obat.

Hasil wawancara didapatkan  informasi mengenai bagian bambu,  kegunaan bambu sebagai obat, dan  cara penggunaannya. Ada dua bagian  bambu tali yang berpotensi sebagai  obat yaitu akar dan batang. Berdasarkan  hasil wawancara dengan para  responden didapatkan informasi yang  sangat beragam tentang kegunaan bambu tali sebagai obat (Tabel 1).

Analisis proksimat

Pengujian proksimat komponen  kimia dasar, menggunakan sampel  bambu tali asal Kabupaten Buleleng,  dilakukan untuk mengetahui komponen  kimia penyusun bambu tali. Uji  proksimat terdiri dari protein, lemak,  abu, air, dan karbohidrat. Selain uji  proksimat juga dilakukan pengujian  terhadap kadar pati, serat, dan antioksidan (Tabel 2).

Berdasarkan Tabel 2 didapatkan  bahwa batang dan akar tanaman  bambu tali mengandung karbohidrat,  serat, pati, abu, lemak, protein dan antioksidan, serta air.

Sudarmadji et al. (1996)  mengemukakan bahwa protein berguna  untuk penyusunan senyawa – senyawa  biomolekul yang berperan  penting dalam proses biokimia, untuk  mengganti sel-sel jaringan yang rusak  (karena adanya penyakit). Lemak  dalam bidang biologi dikenal sebagai  salah satu bahan penyusun dinding  sel dan penyusun bahan-bahan biomolekul.  Dalam bidang gizi, lemak  merupakan sumber biokalori yang  cukup tinggi nilai kalorinya yaitu  sekitar 9 kilokalori setiap gramnya.  Penentuan kadar abu sangat berguna  sebagai parameter nilai gizi bahan  makanan. Adanya kandungan abu  tidak larut dalam asam yang cukup  tinggi menunjukkan adanya pasir atau  kotoran yang lain. Air meskipun  bukan merupakan sumber nutrisi  seperti bahan makanan, namun  sangat esensial dalam kelangsungan  proses biokimiawi organisme hidup.  Karbohidrat merupakan sumber kalori  atau makronutrien utama bagi organisme.  Karbohidrat erat kaitannya  dengan pembentukan kalori dan  pencegahan penyakit (diabetes, karies  gigi, kegemukan, dan lain-lain). Serat  berguna dalam proses pencernaan  (dietary fibers) sedangkan pati hampir  sama fungsinya dengan karbohidrat  yaitu sebagai sumber kalori. Antioksidan  berguna untuk mengikat radikal bebas.

Kaitan antara jenis dan bagian  bambu dengan hasil pengujian dan  korelasinya terhadap jenis penyakit  yang dapat diobati, memang sangat  luas kajiannya. Belum ada standar  baku mengenai nilai batas minimal  parameter-parameter pengujian proksimat  yang memperkuat bahwa nilai  tersebut dapat berpotensi menyembuhkan  penyakit. Parameter pada  pengujian proksimat sangat subyektif  terhadap jenis penyakit tertentu   begitu juga halnya pada pengujian  kadar serat dan pati. Misalnya,  semakin tinggi nilai lemak maka dapat  meningkatkan nilai kalori yang berkorelasi positif meningkatkan bahan  penyusun dinding sel dan bahan-bahan  biomolekul. Di lain pihak kelebihan  lemak dapat menyebabkan over kolestrol  yang dapat menyebabkan stroke.  Sedangkan pengujian antioksidan  dapat disimpulkan bahwa semakin  tinggi nilai inhibition concentration (IC  >50%) maka akan semakin banyak  radikal bebas yang dapat diikat  (Tengah 2010), sehingga mempunyai  korelasi terhadap penyembuhan suatu  penyakit. Akan tetapi penyakit yang  bisa disembuhkan masih general dan  belum spesifik menunjuk pada jenis penyakit tertentu.

Pengujian proksimat hanya  ditujukan untuk mengetahui kandungan  kimia dasar penyusun bambu. Hal  ini sangat diperlukan sebagai studi  pendahuluan dan data pembanding  sebelum dan setelah dilakukan analisis  senyawa kimia dengan menggunakan  GCMS atau NMR (nuclear magnetic  resonance). Hasil pengujian dengan  GCMS atau NMR diharapkan dapat  diketahui senyawa aktif yang berperan dalam mengobati suatu penyakit.

Analisis senyawa kimia

Analisis senyawa kimia dengan  menggunakan GCMS ditujukan untuk  mengetahui senyawa kimia yang terkandung  pada akar dan batang bambu  tali asal Kabupaten Buleleng. Selain  itu, hasil uji GCMS dapat digunakan  untuk menjawab hipotesis tentang  penggunaan bambu tali sebagai obat,  sebagaimana yang sudah berkembang  di masyarakat. Banyak masyarakat  yang percaya akan khasiat bambu tali  sebagai obat pemali ngancuk (sakit  pada badan seperti tertusuk jarum),  kamatus rambat (reumatik), lumpuh,  impoten, luka dan keseleo (Suwidja  1989). Hasil analisis senyawa kimia  menggunakan GCMS secara lengkap ditampilkan pada Tabel 3.

Berdasarkan Tabel 3 pengujian  senyawa kimia dengan GCMS dan  penggunaan pelarut non polar (hexane),  ditemukan asam-asam lemak  pada bambu tali, baik asam lemak  jenuh (palmitic acid, myristic acid,  stearic acid, dan lain-lain) maupun  asam lemak tidak jenuh (oleic acid,  dan lain-lain) serta senyawa tidak  jenuh lainnya (curcumene, limonene,  dan lain-lain). Ditemukan pula senyawa  aromatik pada bambu seperti  toluene, naphthalene dan 1,3,5-trimethyl benzene.

Hasil penggalian informasi,  disebutkan bahwa akar bambu tali  dapat mengobati kencing batu, maag,  liver (sakit kuning), hipertensi, ginjal,  kanker payudara, limpa, kanker  darah, kencing manis, dan batuk.  Sedangkan batang bambu tali dapat  digunakan untuk meremajakan kulit  bekas luka, memperlancar persalinan,  mengobati luka dan panas dalam.  Berbagai macam penyakit yang  berhasil diperoleh informasinya, ada  beberapa penyakit yang kemungkinan  besar dapat diobati dengan akar  dan batang bambu tali. Ogunjinmi et  al. (2009) menyatakan bahwa banyak  nutrisi dan mineral aktif seperti  vitamin, asam amino, flavine, asam  fenolik, polisakarida, dan steroid  dapat diekstrak dari akar, batang,  daun, dan rebung bambu dan  semuanya mempunyai anti-oxidation,  anti-aging, anti-bacterial, dan antiviral.  Menurut Tengah (2010)  senyawa yang cukup aktif berperan  sebagai obat, diantaranya adalah kurkumin  dan asam lemak tak jenuh  (oleic acid). Hal ini karena senyawa  kurkumin dapat mengikat radikal  bebas, yang merupakan salah satu  penyebab penyakit. Hal ini dapat dilihat  dari penggunaan kunyit (Curcuma  domestica) sebagai obat liver oleh  sebagian besar masyarakat di pedesaan,  karena senyawa kurkumin banyak  terdapat pada kunyit. Selain itu juga  ditunjang dengan data pengujian antioksidan  yang menunjukkan bahwa  kadar antioksidan pada batang dan  akar bambu tali sekitar 29,91 dan 42,88 ppm.

Mengacu pada data hasil  pengujian GCMS, bagian akar dan batang  bambu tali mengandung palmitic acid yang cukup tinggi yaitu 16,15 dan  49,99%. Hal ini mengindikasikan  bahwa kandungan asam lemak jenuh  pada bambu tali cukup tinggi. Pengaruh  asam lemak jenuh memang sangat  bertolak belakang dengan penggunaan  bambu sebagai obat. Kebanyakan  asam lemak jenuh mengakibatkan  naiknya tekanan darah.  Perlu disadari bahwa asam palmitat  (palmitic acid) memang merupakan  asam lemak jenuh, tetapi menurut  Benoit et al. (2009) palmitic acid  sangat berguna untuk merangsang  pertumbuhan insulin yang berperan  dalam mengobati diabetes. Hal tersebut  sesuai dengan hasil penelitian ini  yang menunjukkan bahwa akar bambu tali dapat digunakan untuk mengobati  kencing manis. Salah satu contoh  penggunaan asam lemak jenuh ada  pada virgin coconut oil (VCO), yang  dipercaya dapat mengobati berbagai macam penyakit.

Berdasarkan data hasil pengujian  proksimat dan GCMS menunjukkan  bahwa penggunaan akar dan batang  bambu tali sebagai obat sangat mungkin.  Hal ini karena bambu tali mengandung  antioksidan yang cukup tinggi  dan ditemukannya beberapa senyawa  kimia seperti palmitic acid, curcumene,  limonene, toluene, naphthalene, dan  1,3,5-trimethyl benzene sehingga kemungkinan  beberapa penyakit dapat  diobati. Tingginya kadar antioksidan  dapat digunakan untuk mengikat radikal  bebas yang merupakan salah satu  penyebab timbulnya penyakit (Tengah 2010).

Pengujian dengan GCMS menggunakan  pelarut non polar (hexane)  sangat berpengaruh pada hasil pengujian.  Hal ini terlihat dari banyaknya  senyawa asam lemak yang berhasil  diidentifikasi. Apabila dikaitkan dengan  kegunaannya sebagai obat, memang  masih sangat luas. Hal ini dimungkinkan  adanya senyawa yang mempunyai  kandungan aktif sebagai obat tidak  bisa diidentifikasi dengan menggunakan  pelarut non polar (hexane) saja.  Ada kemungkinan senyawa tersebut  bisa diidentifikasi dengan pelarut semi  polar atupun polar. Selain itu, dibutuhkan  pengujian lebih lanjut tentang  senyawa-senyawa kimia yang terkandung,  karena senyawa seperti toluene,  naphthalene dan 1,3,5-trimethyl benzene  yang berperan sebagai obat adalah senyawa turunannya.

KESIMPULAN

Sebanyak empat belas responden  (51,85%) menyatakan bahwa  bambu tali berpotensi sebagai obat,  berdasarkan lontar usada (kitab pengobatan  tradisional Bali) dan sudah  mempraktekannya secara langsung  terhadap pasien. Akar bambu tali dapat  mengobati kencing manis, kencing  batu, maag, liver (sakit kuning),  hipertensi, ginjal, kanker payudara,  limpa, kanker darah, dan batuk.  Sedangkan batang (buluh) bambu tali  dapat digunakan untuk meremajakan  kulit bekas luka, memperlancar persalinan,  mengobati luka dan mengobati panas dalam.

Bagian akar dan batang dari  bambu tali mengandung protein 2,02  dan 4,72%; lemak 7,78 dan 6,71%;  abu 11,21 dan 4,05%; air 8,51 dan  8,51%; karbohidrat 70,49 dan 76%;  pati 13,07 dan 12,18%; serat 62,67  dan 59,21%; dan antioksidan 29,91  dan 42,88 ppm. Bambu tali juga  mengandung asam lemak, baik asam  lemak jenuh (palmitic acid, myristic  acid, stearic acid, dan lain-lain) maupun  asam lemak tidak jenuh (oleic  acid, dan lain-lain) serta senyawa  lainnya (kurkumin, limonene, dan  lain-lain). Ditemukan pula senyawa  aromatik seperti toluene, naphthalene, dan 1,3,5-trimethyl benzene.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyampaikan ucapan  terima kasih kepada Dr. I Gusti Putu  Tengah dan Prof. Dr. Elizabeth Anita  Widjaja atas saran dan masukannya,   serta kepada Direktorat Jenderal  Pendidikan Tinggi melalui program  hibah penelitian insentif peneliti dan  perekayasa DIKTI-LIPI 2009 yang telah membiayai penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Benoit, S.C., C.J. Kemp, C.F. Elias, W.  Abplanalp, J.P. Herman, S. Migrene,  A.L. Lefevre, C.C. Guglielmacci, C.  Maagnan, F. Yu, K. Niswendar, B.G.  Irani, W.L. Holland, and D.j. Clegg.  2009. Palmitic Acid Mediates  Hypothalamic Insulin Resistance by  Altering PKC-θ Subcellular  Localization in Rodents. Journal  Clinical Investigation 119 (9) : 2577- 2589.

Dharmananda, S. 2004. Bamboo as  Medicine. Institute of Traditional Medicine Portland. Oregon. pp. 1-7.

Dransfield, S. and E.A. Widjaja. 1995.  Bamboos Plant Resources of South- East Asia No. 7. Bogor. Indonesia. pp. 189.

Ogunjinmi, A.A., H.M. Ijemoah, and A.A.  Aiyeloja. 2009. Socio-Economic  importance of Bamboo (Bambusa  vulgaris) in Borgu Local Government  Area of Niger State, Nigeria. Journal  of Sustainable Development in Africa Vol. 10 No. 4. pp. 284-289.

Sudarmadji, S., B. Haryono, dan Suhardi.  1996. Analisa Bahan Makanan dan  Pertanian. Liberty Press. Yogyakarta. hlm. 57-158.

Sujarwo, W., I.B.K. Arinasa, dan I N.  Peneng. 2010. Potensi Rebung  Bambu Ampel Gading (Bambusa  vulgaris Schrad. Ex wendl. Var  sticta) sebagai Bahan Baku Obat  Liver di Bali. Prosiding Seminar  Nasional “Pengembangan Teknologi  Berbasis Bahan Baku Lokal”. BPPTK LIPI. Yogyakarta. hlm. 877-881.

Sutarjadi. 1991. Dari Jamu menjadi Obat  Tradisional Menuju ke Fitofarmaka.  Laboratorium Botani Farmasi-  Farmakognosi. Fakultas Farmasi  Universitas Airlangga, Surabaya. hlm. 18-19.

Suwidja, K. 1989. Berbagai Cara  Pengobatan Menurut Lontar Usada  Pengobatan Tradisional Bali. Indra Jaya. Singaraja. hlm. 211.

Tengah, I.G.P., I.W. Arka, N.M.  Sritamin, I.B.K. Gotama, dan H.  Sihombing. 1995. Studi Tentang :  Inventarisasi, Determinasi, dan Cara  Penggunaan Tanaman Obat Pada  “Lontar Usada” di Bali. Puslitbang  Farmasi, Balitbang Kesehatan,  Departemen Kesehatan RI. Jakarta. hlm. 740.

Tengah, I.G.P. 2010. Komunikasi Pribadi. Diakses 3 September 2010.

Widjaja, E.A. 2001. Identikit Jenis-jenis  Bambu di Jawa. Bidang Botani Pusat  Penelitian Biologi LIPI. Cibinong. hlm. 96.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: