Pameran tentang Bambu

Februari  2010

Pameran ‘Jejak’ Bambu di CCF

Sumber:  http://bandung.detik.com/ 4 Februari 2010

Cukup beralasan seniman kelahiran Klungklung Bali tahun 1967 ini memilih bambu sebagai ide utama. Dibesarkan di keluarga petani yang sudah akrab dengan alam dan tentunya bambu.

Terinspirasi dari penggunaan bambu oleh para petani, Suklu menerapkan konsepnya menjadi instalasi bambu. Dimana dikatakan Suklu instalasi hadir sebagai bentuk simbiosis antara ruangh nyata dengan ruang gagasan.

Akhirnya terwujud dalam bentuk daun, meja, kursi dan pintu gerbang yang kini menghiasi CCF Jalan Purnawarman Bandung dari 2 Februari-31 Maret mendatang.

Sarat akan estetika dan mengingatkan kembali tentang bambu serta maknanya. Juga menggambarkan jejak Suklu di masa lalu, bersama bambu dan kehidupan petani.

Begitupun Jejak kehidupan Suklu sendiri yang dalam catatannya Wawan Husein mengatakan bahwa ini juga jejak manusia di bumi peradaban jejak.(ema/tya)

Juli 2011

Bambu Menjadi Ikon Pameran KRIDAYA 2011

Sumber:  http://www.suarapembaruan.com/29 Juli 2011 

Panitia Kridaya 2011 (Foto: SP/Hendro Situmorang)

[JAKARTA] Sebagai apresiasi pengakuan UNESCO terhadap angklung, bambu yang menjadi bahan dasarnya menjadi ikon Pameran Kerajinan Indonesia dalam Warisan Budaya (KRIDAYA) 2011. Untuk itu, ditampilkan produk-produk yang terbuat dari bambu seperti kerajinan tangan bambu, angklung, anyaman, bangunan bambu dan lainnya.

Pameran yang berlangsung di Main Loby Pnenary dan Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC) pada 3-7 Agustus 2011 ini mengangkat tema “Meningkatkan Penggunaan Produk Kerajinan dalam Keseharian”.

Ketua Umum KRIDAYA 2011, Triesna Wacik menuturkan, ikon bambu yang ditampilkan dalam pameran bermaksud untuk mengapresiasi dan melestarikan angklung yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia.

“Dalam acara pembukaan pameran akan ditampilkan pegelaran musik Simponi Musik Bambu yang dimainkan beberapa instrumen musik terbuat dari bambu seperti angklung, jegog Bali, calung, suling, saluang. Semua itu sebagai kolaborasi seni dari berbagai daerah yang dipadukan menjadi kesatuan arasemen irama musik dan lagu,” ujarnya di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Kamis (28/7).

Selama pameran juga ditampilkan alat musik angklung yang dimainkan dengan tenaga listrik. Inovasi baru ini bernama angklung tradigi (tradisional dan digital) yang bunyinya akan disetel lewat ipod, sedangkan sumber suara tetap dari angklung, namun digerakkan secara mekanikal.

Dikatakan, angklung listrik ini sangat unik karena tidak memerlukan banyak pemain. Dia secara otomatis dikendalikan dengan komputer. Nuansa bambu modern juga ditampilkan dalam dekorasi pameran, alat musik seperti biola bambu, furniture hingga souvenir berbahan dasar bambu, karena mendapat sentuhan desainerdan tak dianggap kuno lagi yang menjadi sebuah ciri kebudayaan Indonesia.

Dalam pameran akan ada 400 UKM dari seluruh Indonesia berpartisipasi dalam pameran yang menempati 300 stand terbagi di main lobby, assembly, dan plenary hall. Selama lima hari pameran yang akan dibuka secara resmi oleh Ani Bambang Yudhoyono tersebut ditargetkan akan dikunjungi 35 ribu pengunjung dengan target transaksi Rp17,5 miliar.

”Penyelenggaraan pameran bertujuan untuk mempromosikan aneka ragam keindahan dan keunggulan budaya bangsa serta membangun citra positif kebudayaan Indonesia di mata internasional. Selain itu untuk menciptakan serta menumbuhkan kepedulian masyarakat dan Pemerintah Indonesia agar mengukuhkan ataupun mempatenkan seni budaya Indonesia yang lain sehingga kepemilikannya tidak diakui oleh negara lain,” ungkap Bramantyo sebagai penyelenggara pamerandari PT Mediatama Binakreasi. [H-15]

Produk Serba Bambu dalam Pameran Kridaya 3-7 Agustus 

Sumber:  http://indonesiatourismmonitor.blogspot.com/ 30 July 2011 

JAKARTA, ITM- Pameran Kerajinan Indonesia sebagai Warisan Budaya (Kridaya) 2011 yang berlangsung di Jakarta Convention Center, 3-7 Agustus 2011 akan menampilkan produk kerajinan serba bambu dari seluruh Indonesia. Ibu Negara Hj Ani Yudhoyono akan membuka pameran ini, kata Ketua Umum Pameran Kridaya Triesna Wacik di Jakarta, pekan ini.

Menurut Triesna Wacik, pameran itu pameran kerajinan berbasis budaya dengan menampilkan bambu sebagai ikon utama, bertujuan untuk mengapresiasi serta melestarikan angklung sebagai hasil budaya berbahan dasar bambu yang telah diakui badan PBB UNESCO sebagai warisan budaya dari Indonesia.

Semua produk yang terbuat dari bambu akan ditampilkan baik berupa alat musik seperti biola bambu, furniture, interior, souvenir, anyaman, dan sebagainya. Juga akan ditampilkan pagelaran musik Simponi Musik Bambu yang dimainkan dengan beberapa instrumen musik yang terbuat dari bambu seperti angklung, jegog Bali, calung, suling, dan saluang.

Paduan musik itu akan menjadi kolaborasi seni dari berbagai daerah yang dipadukan menjadi kesatuan aransemen irama musik dan lagu.

Dikatakan, sebanyak 400 UKM dari seluruh Indonesia berpartisipasi dalam pameran dengan menempati 300 stan yang terbagi dalam tiga hall yaitu main lobby, assembly, dan plenary hall. Selama lima hari, pameran ini ditargetkan akan dikunjungi 35 ribu pengunjung dengan target transaksi Rp17,5 miliar. (itm-3)

Agustus 2011

Topi Bambu di Pameran Kridaya Pecahkan Rekor Muri

Sumber:  http://travel.okezone.com/ 8 Agustus 2011 

Triesna Wacik (foto: Pasha Ernowo/Okezone)

PAMERAN Kridaya 2011 digelar di Jakarta Convention Center (JCC) 3-7 Agustus. Pameran menampilkan aneka kerajinan perpaduan tradisional dengan sentuhan modern dari berbagai bahan, terutama bambu.

Pameran Kridaya mengambil tema “Meningkatkan penggunaan produk kerajinan dalam keseharian” ini ditutup secara resmi oleh Ketua Umum Panitia Pameran Kridaya 2011, Triesna Wacik.

Dalam penutupan tersebut Triesna Wacik mengatakan pihaknya mendorong semakin banyaknya penggunaan bambu termasuk topi dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita mendorong produk dan kerajinan bambu bisa dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ini pasti akan membantu perajin dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata Trisna, kepada wartawan saat menutup pameran Kridaya di Jakarta, Minggu, (7/8/2011).

Menurut dia, semakin masyarakat menggunakan produk bambu dalam kehidupan sehari-hari semakin mendorong perajin untuk terus berproduksi sekaligus melestarikan budaya lokal bangsa.

“Melalui pameran ini masyarakat Indonesia lebih menghargai dan bangga terhadap produk dalam negeri,” ujarnya.

Dalam acara penutupan pameran kridaya 2011, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menyerahkan penghargaan kepada Komunitas Topi Bambu Tangerang, Banten, sebagai topi terbesar di dunia.

“Topi berdiameter helai 2 m, jari-jari helai 1 m, tinggi lingkaran topi 20 cm, lingkaran kepala topi 60 cm, dan berat 2 kg sebagai topi terbesar di dunia,” kata pendiri MURI Jaya Suprana.

Selain itu, Ketua Komunitas Topi Bambu Tangerang, Agus Hasanudin, menjelaskan, topi tersebut diharap bisa meningkatkan citra perajin dan mempromosikan topi bambu.

“Dengan memperoleh rekor MURI ini Kami berusaha untuk membantu promosi dan mengangkat derajat perajin topi bambu Tangerang,” katanya.

“Kami berharap ada perhatian lebih dari berbagai pihak untuk mendukung promosi topi bambu agar nasib perajin topi bambu semakin membaik di masa depan,” harapnya.
(uky)

Oktober 2011

Perkakas Bambu Dipamerkan di Mal

Sumber: http://properti.kompas.com/ 16 Oktober 2011 

Berdiameter antara 4 hingga 10 cm, bambu apus banyak digunakan sebagai komponen atap atau bahan pembuat dinding bangunan.

BANDUNG, KOMPAS.com–Sebanyak 75 buah benda berbahan dasar bambu (awi) koleksi museum dipamerkan di tengah mal Bandung Indah Plaza (BIP), Bandung, dalam “Awi Goes to Mall” Pameran Kriya Awi, Bandung.

Benda yang dipamerkan tersebut seluruhnya merupakan koleksi milik Museum Sri Baduga, ungkap staf Museum Sri Baduga yang bertindak sebagai pemandu dalam pameran ini, Iip Syarif Hidayat, Jumat.

“Pengunjung bisa melihat berbagai benda yang seluruhnya berbahan dasar bambu, mulai dari alat mata pencaharian hingga alat musik,” kata Iip Syarif Hidayat.

Dalam pameran itu, benda-benda yang ditampilkan dibagi ke dalam beberapa unsur budaya, seperti sistem pengetahuan (pengobatan dan penanggalan), sistem mata pencaharian (perdagangan, perikanan, peternakan, pertanian), sistem peralatan hidup (alat rumah tangga, permainan), dan kesenian (suling, angklung, karinding).

“Indonesia, khususnya Jawa Barat merupakan salah satu wilayah yang menjadi surga bagi jenis tanaman bambu. Jadi, kehidupan masyarakat Jawa Barat pun sesungguhnya tidak bisa lepas dari unsur bambu dan budidayanya,” kata Iip.

Berdasarkan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), terdapat sekitar 1.500 jenis bambu di seluruh dunia. Indonesia memiliki 157 jenis tanaman bambu, 70 persen atau sekitar 95 jenis di antaranya tumbuh di wilayah Jawa Barat. Dari jumlah tersebut, 70 jenis di antaranya merupakan jenis khas asli Indonesia dan tidak bisa ditemukan di negara lain.

“Sekitar 13 jenis tanaman bambu telah lama dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, terutama jenis bambu dari marga ’Gigantochloa’, Bambusa, dan ’Dendrocalamus’,” katanya.

Dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat, lanjut Iip, bambu memiliki peranan penting sebagai tanaman serbaguna karena sifatnya yang lentur atau mudah dibentuk, tahan lama, dan ringan.

Berdasarkan pemikiran tersebut pameran ini pun digelar, “agar masyarakat bisa lebih mengenal potensi yang dimiliki tanaman bambu, tahu manfaatnya, lebih peduli terhadap budidaya bambu, terlebih bisa sama-sama melestarikannya,” kata Iip.

Seluruh koleksi dalam pameran yang digelar sejak 11 hingga 16 Oktober ini merupakan benda-benda asli yang dibuat langsung dari daerah asalnya.

“Waroge” misalnya, benda terbuat dari setengah ruas bambu yang diberi torehan ragam hias manusia ini berasal dari Kanekes Banten. Waroge biasa digunakan sebagai media tolak bala oleh masyarakat Baduy.

Ada pula “Token Bambu Cihoreni”, yaitu token bambu yang pernah digunakan sebagai alat tukar syah pada masa Kolonial Belanda di lingkungan perkebunan Ciroheni, Sukabumi.

Menurut Iip, antusias dan apresiasi pengunjung tentang kehadiran pameran ini cukup tinggi. “Hampir setiap pengunjung mall yang melewati area pameran ini pasti tertarik dan langsung melihat-lihat, bahkan memotretnya. Ada juga yang bertanya untuk menggali informasi lebih lanjut,” kata Iip.

Selain pameran benda koleksi museum, ada pula sejumlah workshop yang setiap harinya menghadirkan tema berbeda.

“Kemarin kami sudah menggelar workshop pembuatan angklung. Ada juga penampilan kesenian dari alat-alat musik yang terbuat dari angklung,” kata Iip.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: