Herry Gunawan

Jalan Panjang Menyelamatkan Lingkungan  

Oleh:  Herry Gunawan;  

SALAM, 9 Desember 2004

Download file: article_pdf  

Sebagai anak seorang petani dan tinggal di desa saya memiliki kepedulian terhadap bidang pertanian. Kepedulian itu sempat membuat saya berjaya dalam melakukan usaha tani, setidaknya di wilayah desa saya, dengan peningkatan hasil produksi usaha tani yang melebihi rata-rata untuk ukuran
setempat.

Namun ternyata, cara-cara yang saya lakukan untuk mencapai hasil tersebut menimbulkan dampak jangka panjang yang kurang baik. Akhirnya, muncul kesadaran dalam diri bahwa kepedulian tersebut harus ditingkatkan menjadi kepedulian yang berbasis lingkungan. Untuk itu, melalui tulisan ini saya ajak
pembaca untuk mengikuti beberapa pengalaman di desa dalam upaya menjaga lingkungan.

Berjaya dengan Produksi

Sebelum dasawarsa 1970-an, Desa Sumbermujur Kec. Candipuro, Lumajang, Jawa Timur merupakan gudang padi varietas lokal joko bolot, jawa baru, dewitara, melati dan lain sebagainya. Dengan teknologi warisan nenek moyang dan kearifan lokal (pranoto mongso) tanpa mengenal pupuk kimia, ternyata hasil produksi mencapai 3-3.5 ton/ha gabah organik kering sawah.

Pada era revolusi hijau (tahun 1976) saya mencoba menanam padi IR 26 (VUTW) dan mensosialisasikan penggunaan pupuk sintetis yang bisa menghasilkan produksi 6-7 ton/ha gabah kering sawah. Keberhasilan ini diikuti oleh petani lain di Desa Sumbermujur dan Desa Penangkal. Saya tidak menyadari bahwa gerakan revolusi hijau dengan pemakaian pupuk kimia secara besar-besaran akhirnya berdampak pada kerusakan tanah dan kesehatan manusia.

Perasaan bersalah karena ikut mensosialisasikan pupuk kimia yang berdampak rusaknya lingkungan dan keanekaragaman hayati, saya tebus dengan mengajak beberapa petani untuk kembali membudidayakan pertanian yang lebih berkelanjutan.

Diversifikasi Tanaman

Dengan harapan ada peningkatan pendapatan, pada tahun 1982 saya bersama beberapa petani lain mencoba usaha ternak sapi perah dengan memanfaatkan bantuan pemerintah. Hasilnya, pada tahun 1984 kelompok kami meraih juara I Tingkat Nasional lomba kelompok tani ternak sapi perah dan mendapat penghargaan dari Presiden RI kala itu.

Keberhasilan itu memacu saya untuk terus mengembangkan jenis usaha pertanian lainnya. Tahun 1990 saya mencoba menanam cabe merah dan  tomat pada lahan 0,25 ha dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak (MPHP). Saat itu, teknologi MPHP ini merupakan teknologi baru yang mengherankan petani di mana bedengan di tengah sawah ditutup dengan plastik.

Demplot tersebut cukup berhasil karena ditunjang oleh lingkungan yang belum tercemar. Setelah itu banyak petani meniru menanam cabe sekalipun kondisi lingkungan mungkin tidak mendukung. Seringkali mereka mengalami kerugian karena gagal panen akibat serangan hama penyakit, namun hal tersebut seakan tak mempengaruhi keinginan mereka untuk tetap menanam cabe.

Pada tahun 2003 demplot tersebut saya kembangkan dengan menanam 1000 batang tanaman cabe. Dengan hanya menggunakan 30 kg pupuk NPK, 2 kg fungisida serta 1 liter pestisida selama satu musim ditambah dengan pestisida nabati buatan sendiri terbukti kualitas produksinya tidak kalah dengan jika dibudidayakan dengan sepenuhnya menggunakan bahan kimia.

Perjuangan Berbuah Kalpataru

Segala upaya peningkatan pendapatan melalui berbagai jenis budidaya tidak akan lepas dari persoalan tanah dan air. Air merupakan kehidupan dan penghidupan bagi makhluk hidup di atas bumi. Sumber mata air yang menjadi tumpuan masyarakat Desa Sumbermujur dan sekitarnya, berada di tengah-tengah hutan bambu seluas + 9 ha. Sumber tersebut dapat mengairi + 891 ha sawah di empat desa di Kec. Candipuro. Sementara di musim kemarau air dapat dialirkan ke tiga desa lain di Kec. Tempeh yang meliputi sekitar 550 ha sawah.

Letak Desa Sumbermujur berbatasan dengan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS). Bersama-sama dengan hutan bambu dan hutan rakyat seluas + 400 ha, hutan lindung di kawasan taman nasional ini merupakan penyangga utama sumber mata air yang dimanfaatkan masyarakat Desa Sumbermujur dan sekitarnya. Namun kurangnya kesadaran masyarakat terhadap arti penting ketiga hutan penyangga ini telah mengancam sumber air melalui pengrusakan hutan lindung dan penebangan bambu secara liar dan kurang bertanggung jawab.

Untuk menyelamatkan lingkungan yang mulai rusak tesebut, pada bulan Desember 1981 saya mengajak masyarakat untuk mengawali penyulaman dan penanaman kembali bambu dan pohon-pohonan seperti jolali, mesosis, mahoni, damar dan sebagainya. Selain itu kami juga melakukan penajaman mitos dan penyadaran tentang lingkungan melalui kelompok pengajian. Setelah kurang lebih 20 tahun berjuang hasilnya mulai kelihatan antara lain berupa peningkatan debit air mencapai 600-800 liter/detik; keanekaragaman hayati; kembalinya flora dan fauna khususnya kera dan elang jawa (kalong) ke habitatnya semula.

Ritual warisan nenek moyang juga kami lestarikan misalnya setiap tanggal 1 Muharam (tahun baru umat Islam) dilaksanakan penanaman kepala kerbau diiringi kesenian kuda lumping (jaranan).

Respon positif pun diberikan oleh Bupati Lumajang dengan diikutsertakannya lokasi dan kegiatan ini dalam lomba lingkungan hidup tingkat nasional tahun 1999, 2000, dan 2001. Sayangnya daerah kami gagal masuk nominasi dikarenakan kera yang menjadi komponen dalam pengajuan tidak muncul pada saat penilaian. Kegagalan ini memacu saya mempelajari bagaimana cara menjinakkan dan berkomunikasi dengan kera-kera tersebut. Setelah mempelajarinya selama 6 bulan akhirnya saya dapat memanggil mereka dengan menirukan teriakan Tarsan: “AAAUUUUUUUUUKK..!!!!”.

Keberhasilan ini membuat orang menjuluki saya “Si Raja Kera” dari hutan bambu. Hingga akhirnya, pengalaman dan pelajaran ini membawa saya menghadap Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 5 Juni 2002 untuk menerima penghargaan Kalpataru kategori Penyelamat Lingkungan. Dan pada tanggal 14 Mei 2004 saya mewakili kelompok tani Kab. Lumajang menerima secara simbolis bantuan pengering gabah dari presiden yang diserahkan dalam acara kunjungan kerja panen perdana tebu PG Jatiroto di Kec. Jatiroto, Kab. Lumajang.

Keberhasilan yang Manis

Keanekaragaman hayati hutan bambu Sumber Deling yang terdiri dari kurang lebih 15 jenis bambu, 30 jenis tanaman keras berumur ratusan tahun, serta flora dan fauna kiranya bukan hanya sekadar untuk dipandang tapi diharapkan dapat menambah wawasan, menjadi pusat penelitian dan wahana pembelajaran lingkungan hidup bagi kita semua.

Kini, hutan bambu Sumber Deling ramai dikunjungi wisatawan domestik, khususnya pada hari Minggu dan hari libur, untuk menikmati indahnya Obyek Wisata Alam Hutan Bambu Sumber Deling Istana Kalong Kera dan menghirup segarnya udara serta jernihnya sumber air lereng Semeru.

Konsep umum kawasan agrowisata yang berwawasan lingkungan, berimbang, selaras alam dan berkelanjutan akan terwujud apabila semua pihak baik Pemerintah Kab. Lumajang maupun masyarakat, khususnya Desa Sumbermujur, menyamakan langkah, persepsi, visi dan misi untuk mencapai tujuan. Demikian sekelumit pengalaman saya. Mudahmudahan bermanfaat bagi pembaca. Penulis sedang mengamati hama tripa pada tanaman cabe besar miliknya. Latar belakang Gunung Semeru Foto: Herry G.

Herry Gunawan
Petani di Lereng Gunung Semeru, Candipuro – Lumajang, Jawa Timur

One Response to “Herry Gunawan”

  1. Herry Gunawan | A Y A R U M Y | Sunshine Sunset Says:

    […] Herry Gunawan. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: