Berita

Agustus 1991 

Meeting of Editors of PROSEA-7: Bamboos

Sumber:   http://proseanet.org/prosea/7_oktober1991_

A meeting of editors (Dr. Soe-yatmi Dransfield & Dr. Elizabeth A.Widjaja) of PROSEA-7: BAMBOOS and general editors (Dr. E.Westphal & Dr. P.C.M. Jansen) was held in Wage-ningen on August 27-28, 1991. In the meeting was decided that three associate editors would be appointed, i.e. ‘Dr. Songkram Thammincha, Dr. Paul Pui Hay But and Mr. Wong Khoon Meng. A list of species and prospective authors was prepared. Illustra-tions would be presented only for the major groups showing the habit and detailed charac-teristics of the group. A bamboo data base was prepared which covered both the important as well as the minor species. A time schedule was prepared for the, communication between authors, editors and the Publication Office. Authors would receive formal invitations with detailed in-structions for manuscripts. E.A. Widjaja

Editors of PROSEA -7 Bamboos Left: Dr. S. Dransfield (Great Britain), Right: Dr. E. Widjaja, Bogor (Indonesia)

September 2006

Pohon Bambu Bermanfaat Untuk Tahan Erosi DAS

Sumber: http://www.merdeka.com/  15 September 2006 

Kapanlagi.com – Peneliti pohon bambu dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Elizabeth A Widjaja mengatakan, pohon bambu memiliki manfaat besar dalam menahan terjadinya erosi di Daerah Aliran Sungai (DAS).

“Pasalnya pohon bambu memiliki akar tunjang dan akar serabut yang menutupi tanah dan terikat dengan tanah, sehingga dapat mencegah terjadinya erosi di pinggiran sungai,” katanya di sela-sela acara “Jambalaya 2006” yang diselenggarakan PT Indonesia Power di PLTA Saguling, Kabupaten Bandung, Kamis.

Oleh karena itu ia berharap Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dapat memanfaatkan pohon bambu guna mencegah terjadinya kerusakan lingkungan, seperti erosi di pinggiran sungai.

Dikatakannya, kelebihan lain dari pohon bambu adalah memiliki kemampuan untuk menyerap air dan kuat dari terjangan arus sungai, bahkan dapat menampung air sebagaimana sering digunakan oleh para petani di tanah air.

“Penanamannya sendiri dapat dilakukan di kemiringan lereng pinggiran sungai antara 70 sampai 80 derajat,” katanya seraya menyebutkan bahwa dari pengalaman musibah tsunami di Aceh pada 2004 tampak bahwa pohon bambu kuat dari terjangan gelombang tersebut.

Proses pertumbuhan dari pohon bambu itu sendiri terbilang cepat, asalkan saat penanamannya dilakukan pada musim penghujan, antara November dan Desember saat curah hujan cukup tinggi.

Ia mengatakan, kehandalan dari pohon bambu sebagai penahan terjadinya erosi di pinggiran sungai juga sudah terbukti di Sungai Ayung, Denpasar, Bali.

“Jenis bambu yang dapat digunakan untuk penahan erosi itu di antaranya bambu ampel yang sangat mudah didapatkan di tanah air,” katanya.

Di bagian lain, ia mengemukakan, Indonesia memiliki kekayaan pohon bambu cukup besar dibandingkan negara lainnya, dan saat ini sepuluh persen atau 157 jenis pohon bambu dari total 1.500 jenis pohon bambu di dunia ada di Indonesia.

“Biasanya ada pembedaan antara jenis bambu yang ada di Indonesia bagian barat dengan bagian timur. Bambu di Indonesia bagian barat memiliki batang yang besar, sedangkan di Indonesia bagian timur memiliki batang yang kecil,” katanya.

Dalam acara Jambalaya 2006, PT Indonesia Power melakukan penanaman pohon bambu di DAS Citarum untuk mencegah terjadinya erosi di areal sungai tersebut. (*/lpk)

Sudah Waktunya Pemerintah Membudidayakan Bambu

Sumber: http://www.opensubscriber.com/ 19 September 2006 

Selama ini masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap tanaman serbaguna itu hanya pohon kelapa. Padahal di Indonesia ini masih ada yang namanya bambu, yang fungsinya tidak kalah banyak dari pohon kepala. Hanya sayangnya, potensi tersebut masih belum disadari.

Peneliti tanaman bambu dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Elizabeth A Widjaja menuturkan, sampai dengan hari ini ada sekitar 1.500 jenis bambu di seluruh dunia. Indonesia sendiri memiliki 157 jenis yang 60 hingga 70 jenisnya merupakan khas asli Indonesia dan tidak ada di negara lain.

“Kita ini memiliki 10 persen jenis bambu di dunia. Hanya saja, kita itu terlalu terfokus untuk menggunakan kayu yang memang banyak di Indonesia. Seharusnya kita sudah beralih untuk lebih menggunakan bambu,” ungkapnya.

Berdasar perkiraan potensinya di Indonesia, sekitar 13 jenis tanaman bambu tumbuh dan telah lama dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat pedesaan, terutama jenis-jenis Gigantochloa, Bambusa dan Dendrocalamus. Namun potensi yang besar ini kurang diperhatikan, sehingga sedikit sekali data dan informasi yang bisa didapat.

“Kalau sekarang ditanya berapa besar lahan bambu di Indonesia, saya yakin tidak akan ada yang bisa menjawabnya. Bahkan dari Perhutani sekalipun,” tutur dia.

Bambu mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi bila dibudidayakan. Sekarang ini yang sudah ada baru usaha-usaha kecil seperti membuat anyaman, topi, dan juga kursi. Kalau di China, mereka membuat laminating bamboo atau sering disebut play bamboo yang kemudian jadi dinding, jadi atap dan sebagainya.

“Kalau saja kita mau beralih ke bambu, maka kayu yang ada di hutan bisa tidak ditebang. Kelemahan dari kayu itu kan sekali ditebang habis, sedangkan bambu itu bisa tumbuh terus dan baik untuk kesinambungan. Kita harus sadar akan itu,” tukasnya.

Selain itu, bambu juga memiliki kelebihan lain seperti seratnya yang panjang serupa dengan serat pinus. Sehingga bagus untuk dijadikan pulp atau bahan dasar kertas.

Jika digarap dengan baik, maka kertas itu bisa dijual dengan harga US$ 30 per meternya seperti yang sering dipakai di Jepang dan Amerika.

“Yang bagus untuk kertas seperti berasal dari bambu duri, kita punya itu dahulu di Gowa. Hanya saja untuk dapat menebangnya karena ada duri, biayanya menjadi lebih mahal,” urainya.

Sayangnya, sambungnya, sampai sekarang baru ada satu industri saja di Karawang, Jawa Barat, yang memproduksi bambu itu menjadi askaboard. Olahan itu dihasilkan dari bambu yang dicacah dengan semen, sehingga mampu tahan api dan memiliki daya resonansi yang membuatnya kedap suara jika dipasang sebagai sekat-sekat ruangan.

“Masalahnya kalau sudah industri itu kebutuhannya perlu banyak bambu. Berarti butuh areal yang luas, sedangkan kita tidak tahu berapa banyak areal bambu itu. Askaboard yang ada di Karawang itu harganya menjadi mahal dan dijual secara ekspor ke Jepang,” katanya.

Fungsi lain dari bambu itu ialah sebagai penahan erosi di daerah lereng seperti pinggiran sungai. Meski bambu tidak memiliki akar tunggang, tumbuhan yang bisa dimakan saat usianya masih muda itu memiliki akar serabut yang dapat menutupi permukaan tanah dan mengikat serta bisa menyimpan air tanah.

“Kalau mau tahu soal itu, tanya saja petani di desa. Mereka pasti bilang kalau di bawah bambu ada mata airnya,” paparnya.

Selain itu, bambu juga dapat digunakan sebagai bahan dasar dari alat kesenian. Contohnya di Jawa Barat saja terdapat lebih dari 20 jenis alat-alat musik bambu yang dibagi dalam tiga kelompok sesuai dengan metode-metode yang digunakan untuk menghasilkan suara-suara.

Masing-masing kelompok adalah Idiophone (instrumen pukul) dengan alat musiknya angklung, calung, gambang dan lainnya, Aerophone (instrumen tiup), alat musiknya hatong, suling, taleot. Kelompok yang terakhir adalah Chordophones (instrumen petik/tali), alat musiknya Celempung. Species bambu yang digunakan untuk pembuatan alat musik ini adalah jenis bambu Schizostachyum blumei, Gigantochloa apus.

Jika memang banyak fungsinya dan bisa diberdayakan, mengapa kita tidak coba lebih berkonsentrasi mengembangkan budidaya bambu. [Pembaruan/Adi Marsiela]

Januari 2007

Pohon Bambu Penahan Erosi

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/15 Januari 2007

PADA musim penghujan seperti sekarang ini, ancaman tanah longsor harus terus diwaspadai. Lebih-lebih di daerah yang tanahnya mudah bergerak atau retak akibat tiadanya pohon penahan.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menawarkan suatu solusi dengan menanam pohon bambu, terutama di pinggir sungai yang tanahnya potensial terkena gerusan air (erosi).

Dr Elizabeth A Widjaja, peneliti dari LIPI mengatakan bahwa pohon bambu mempunyai manfaat besar dalam menahan terjadinya erosi di daerah aliran sngai (DAS).

Pasalnya, pohon bambu memiliki akar tunjang dan akar serabut yang menutupi tanah dan terikat dengan tanah, sehingga dapat mencegah terjadinya erosi di pinggiran sungai.

Dia pun mengharapkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bisa memanfaatkan pohon bambu untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. Kelebihan lain dari pohon bambu adalah kemampuannya menyerap air dan kuat menerima terjangan arus sungai. Bahkan dapat menampung air sebagaimana sering digunakan oleh para petani. “Penanamannya dapat dilakukan di kemiringan lereng pinggiran sungai antara 70 sampai 80 derajat,” tutur dia.

Tentang kekuatan bambu sebagai penahan erosi ataupun longsoran, dia ketahui pula dari pengalaman pada musibah tsunami di Aceh pada akhir 2004. Di banyak tempat ditemukan pohon bambu kuat menerima terjangan gelombang air laut yang amat dahsyat yang menewaskan 200 ribu orang lebih. Pohon-pohon bambu itu tetap menancap di tempatnya tumbuh.

Cara Menanam Mudah

Menurut dia, pertumbuhan pohon bambu juga terbilang cepat dan cara menanamnya pun mudah. Asalkan penanamannya dilakukan pada musim penghujan antara November dan Desember, yakni saat curah hujan cukup tinggi.

Selain itu, keandalan pohon bambu sebagai penahan terjadinya erosi di pinggiran sungai juga dia temukan di Sungai Ayung, Denpasar, Bali.

“Jenis bambu yang bisa digunakan untuk penahan erosi, di antaranya bambu ampel. Jenis ampel sangat mudah didapatkan di negeri kita. Jika kita pergi ke desa, hampir dipastikan akan menemukan pohon bambu jenis itu,” ujarnya.

Indonesia memang tercatat sebagai negara yang memiliki kekayaan pohon bambu cukup besar dibandingkan dengan negara lain.

Dewasa ini di Indonesia terdapat sepuluh persen atau 157 jenis pohon bambu dari total 1.500 jenis pohon bambu di dunia. (Silvi-68)

November 2007

Dr. Elizabeth Widjaja visits ABS SoCal

Sumber:http://www.abssocal.org/  

The below images were taken during Dr. Elizabeth Widjaja’s lecture and bamboo identifying efforts at Quail Botanical Gardens November 10, 2007. There are also a couple videos from Dr. Widjaja’s visit that can be viewed in the new ” Bamboo Tube ” area of this web site.

Members of the ABS SoCal board, Dr. Widjaja and other bamboo lovers gathered at Quail Saturday morning to begin what ended up being a full day of bamboo identification. Both the ABS SoCal reference collection and the planted bamboo collection at Quail benefited greatly from Dr. Widjaja’s expertise in the field of taxonomy. The ABS SoCal is in the process of documenting the many bamboos that were re-identified and will be presenting this information to the public in the near future.

The Southern California chapter of the American Bamboo Society is proud to have sponsored Dr. Widjaja’s visit to the United States and hopes to do so again in the future.

Juni 2009

Pohon Bambu Terancam Punah

Sumber: http://sains.kompas.com/  27 Juni 2009 

BANDUNG,KOMPAS.com-Diperkirakan sekitar 15 tahun hingga 20 tahun ke deapan orang Indonesia tidak akan melihat lagi pohon bambu akibat eksplorasi besar-besaran tanpa disertai dengan budidaya dan jika dibiarkan akan berpangaruh terhadap keseimbangan lingkungan.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Elizabeth A. Widjaja, mengatakan itu kepada wartawan di Bandung, Sabtu (27/6), dan pemerintah Indonesia hingga kini belum menunjukkan keperduliannya.

“Buktinya, hingga saat ini pemerintah Indonesia belum memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman yang dilindungi,” kata Elizabeth seusai bicara dalam Seminar sehari Bambu untuk Kehidupan Modern (Bamboo for Modern Life) di Saung Angklung Udjo Bandung itu.

Untuk melindungi pohon bambu dari kepunahan, menurut Elizabeth, salah satunya tidak mengeksplorasi secara besar-besaran dan ada upaya pengendalian atau kuota dalam mengeksplorasinya. “Selain itu, juga harus ada upaya budidaya, sehingga habitatnya tetap seimbang,” kata Elizabeth, seraya menambahkan pohon ini sangat baik untuk konservasi air.

Selain upaya tersebut, lanjut wanita yang selama 33 tahun hingga sekarang eksis dalam penelitian bambu itu, harus ada kemauan pemerintah Indonesia membuat regulasi perlindungan bambu. “Bisa saja pemerintah memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman lain yang dilindungi, lengkap dengan sanksi, sebagaimana regulasi lainnya,” katanya.

Ancaman lain terhadap kepunahan bambu, sebagai pohon penahan erosi tersebut karena emakin sempitnya lahan kebun bambu akibat berubah fungsi, antara lain jadi perumahan atau industri. Ia menyebutkan, di Indonesia terdapat 160 jenis bambu, dan 88 jenis di antaranya, merupakan bambu endmik atau jenis bambu khas yang terdapat di suatu daerah.

Semua jenis bambu itu memiliki barbagai nilai yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, selain untuk kebutuhan perumahan dan perkakas rumah tangga atau tanaman hias, bambu merupakan salah satu jenis pohon yang sangat baik untuk kelestarian lingkungan. “Sebagai fungsi pelestari lingkungan yang paling baik, bisa kita buktikan setiap ada rumpun bambu di sana sudah pasti ada sumber air,” katanya.

Februari 2009

Bambu, Bukan Cuma untuk Kandang

Sumber:  http://www.tempo.co/ 05 Februari 2009 

TEMPO Interaktif, Jakarta: Bambu bukan cuma berguna untuk membuat kandang, kedai, ataupun kursi-meja. Serat bambu memiliki keistimewaan antibakteri. Kaos kaki dari serat bambu, misalnya, bisa menjadi juru selamat bagi mereka yang punya problem kaki bau jika berkaos kaki.

Elizabeth A. Widjaja, peneliti botani di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengungkapkan itu di sela-sela lokakarya tentang riset pengembangan bahan bakar hayati (biofuel) yang berkelanjutan di Hotel Sultan, Kamis (5/2).
“Lihat ini semua, saya beli dari Cina yang membuatnya dari bambu,” katanya menunjuk pakaian yang dikenakannya.

Dalam lokakarya yang digagas Cooperation for Development dan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia itu sendiri Elizabeth menawarkan bambu lebih jauh sebagai alternatif sumber biofuel. Kandungan minyak pada batang dan ranting-ranting jenis tanaman ini, menurut Elizabeth, sebesar 57 persen dari total biomassa. Cukup tinggi.

Indonesia memiliki 10 persen dari 1500 spesies bambu di dunia. “Sumbernya yang melimpah dan pengerjaannya yang mudah semestinya membuat penelitian pemanfaatan bambu untuk biofuel jadi lebih murah,” kata Elizabeth.

Alasan itulah yang membuat Elizabeth mencoba merayu Balai Besar Industri Agro milik Departemen Perindustrian di Bogor untuk tidak ”cuma” meneliti pemanfaatan bambu untuk arang. Sedang sejak pertengahan 1980-an ia juga sudah mendorong pemerintah melalui departemen kehutanan untuk lebih giat memanfaatkan bubur bambu sebagai bahan baku kertas. “Bambu adalah hasil hutan nonkayu,” katanya menambahkan.  (WURAGIL)

Mei 2010

Pulau Jawa Kehilangan Keanekaragaman Flora

Sumber: http://www.infogue.com/viewstory/  12 Mei 2010 

Bogor (ANTARA News) – Peneliti Senior Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Elizabeth A Widjaja mengatakan bahwa Pulau Jawa kehilangan keanekaragaman flora sangat banyak.

“Pulau Jawa merupakan pulau terbesar di Indonesia yang mengalami banyak perubahan dan perkembangan, sekaligus tempat yang paling banyak mengalami kerusakan habitat flora,” katanya di Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI di kompleks “Cibinong Science Center” (CSC) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Ia mengatakan, di Pulau Jawa terdapat 6.773 jenis (species) tumbuhan terdiri dari 6.258 jenis tumbuhan berbunga, dan 515 jenis tumbuhan paku.

Dari database yang tersimpan di Herbarium Bogoriense tercatat menyimpan dua juta specimen (satu lembar) berasal dari Indonesia, dan daerah lain di kawasan Malesia.

Spesimen dari Pulau Jawa yang sudah didata baru 24,578 persen specimen yang terdiri dari 4.365 jenis, atau 64,44 persen dari total jenis tumbuhan di Pulau Jawa.

Berdasarkan data pustaka diketahui ada 288 jenis tumbuhan endemik di Pulau Jawa.

Jumlah tumbuhan endemik Jawa yang tertinggi ada di Jawa Barat sebanyak 33,7 persen, Jawa Timur 32,9 persen, dan Jawa Tengah sebanyak 13,9 persen.

Elizabeth mengatakan dari hasil monitoring dan penelitian yang dilakukan selama satu tahun diperoleh data bahwa 15 persen dari 288 jenis tumbuhan itu masih ada tumbuhan liar di hutan, sedangkan sisanya belum diketahui.

“Hasil penelitian selama satu tahun kita sudah meng-cover wilayah seluruh Pulau jawa, Jawa Barat 70 persen, Jawa Tengah 80 persen, dan Jawa Timur 60 persen,” katanya.

Dari penelitian itu, kata dia hasilnya dari 288 jenis yang ada baru ditemukan 15 persen, sisanya hilang belum diketahui.

Namun, ia mejelaskan jumlah ini belum berarti bahwa jenis tersebut sudah hilang, kecuali apabila dilihat dari peta bahwa area tempat tumbuhnya sudah beralif fungsi dari hutan menjadi areal pertanian maupun permukiman.

“Dalam penelitian kita menggunakan peta citra Lansat Pulau Jawa yang ada ditumpang tindihkan dengan peta tata guna hutan. Dari sana kita bisa melihat titik-titik mana yang kawasan hutannya sudah beralih fungsi, dan dipastikan jenis tumbuhan yang ada disana telah hilang,” katanya.

Telah beralihnya fungsi lahan hutan di Pulau Jawa menjadi daerah pedesaan, industri, dan pertanian, mengakibatkan keanekaragaman hayati flora hilang.

Padahal, menurut dia, hutan memiliki fungsi melindungi pengelolaan daerah aliran air sungai, mengontrol erosi, mengkonservasi air, dan lain-lainnya.

Kondisi ini, kata Elizabeth sangat tidak baik untuk ekosistem alam dan kehidupan manusia.

Kondisi itu, menurut dia dapat menurunkan kapasitas manusia untuk mempertahankan hidup di dunia, dan membuat menusia selangkah lebih dekat pada kepunahan diri sendiri.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menjaga keanekaragaman hayati agar kelestarian makhluk hidup tetap terjaga, sehingga tidak terjadi kerusakan alam yang berdampak buruk bagi kehidupan manusia.

Maret 2012

Ada Spesies Bambu Baru dari Mekongga

Sumber: http://sains.kompas.com/ 25 Maret 2012 

JAKARTA, KOMPAS.com — Spesies bambu baru ditemukan di Pegunungan Mekongga lewat ekspedisi yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) beberapa waktu lalu.

Bambu tersebut ditemukan oleh Elizabeth A Widjaja, taksonom bambu dari Pusat Penelitian Biologi LIPI.

“Bambunya kecil sekali, tidak punya bulu, tapi punya lapisan lilin. Daunnya juga kecil, hanya 2 cm. Diameter bambunya juga cuma sekitar 2 cm. Bambunya tumbuh merayap,” jelas Elizabeth.

Sampai saat ini, bambu spesies baru tersebut belum dinamai. Dalam waktu dekat, nama akan diberikan dan dipublikasikan.

Menurut Elizabeth, spesies bambu baru tersebut hanya salah satu wujud kekayaan bambu Indonesia. Spesies bambu endemik di Tanah Air saja saat ini diketahui sebanyak 160 jenis.

“Banyak spesies bambu belum terungkap. Di tangan saya saja masih ada 20 spesies dan saya yakin bertambah kalau saya jalan lagi,” katanya saat ditemui dalam diskusi “Bambu Punya Cerita” yang digelar Yayasan KEHATI di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta, Minggu (25/3/2012).

Spesies bambu yang masih dalam proses identifikasi di antaranya berasal dari wilayah Sulawesi dan Alor.

Bambu Potensial Sebagai Biofuel

Sumber:  http://sains.kompas.com/ 25 Maret 2012 

JAKARTA, KOMPAS.com – Bambu ternyata tak cuma bermanfaat sebagai bahan baku kursi dan meja, tetapi juga potensial sebagai biofuel masa depan. Hal ini terungkap dalam diskusi “Bambu Punya Cerita” yang diadakan di Bumi Perkemahan Ragunan, Minggu (25/3/2012).

“Ada banyak manfaat bambu, salah satunya sebagai biofuel. Bambu bisa diolah menjadi alkohol maupun diesel,” ungkap Elizabeth A Widjaja, peneliti bambu Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Untuk diolah menjadi biofuel, bambu dikoleksi terlebih dahulu untuk diambil selulosanya. Pada selulosa atau serat, terdapat senyawa aktif yang lewat proses kimia dan fisika bisa dijadikan sebagai bahan baku biofuel.

Elizabeth yang menekuni taksonomi bambu mengatakan, pemanfaatan bambu sebagai biomassa ini menjanjikan. “Dari total bambu yang kita ambil, 57 persen atau lebih dari setengahnya bisa kita ubah menjadi biofuel,” katanya.

Beberapa negara sebenarnya sudah memanfaatkan bambu sebagai bahan bakar, di antaranya Laos dan negara-negara Afrika. Afrika bahkan dikatakan mengimpor bibit bambu hasil kultur jaringan untuk diolah menjadi arang.

Di Indonesia sendiri, pemanfaatan bambu masih belum optimal. Untuk mengolah bambu menjadi biofuel, belum banyak kalangan yang tertarik meneliti. LIPI sendiri belum memiliki staf yang khusus mengkaji pemanfaatan bambu sebagai biofuel.

Menurut Elizabeth, pemanfaatan bambu sebagai biofuel sebenarnya bisa dilakukan. Untuk produksi massal, memang masalah yang harus dipecahkan adalah menjamin ketersediaan stok. Namun untuk skala desa, misal untuk tujuan mandiri energi, sudah bisa dilakukan.

Ditemukan Spesies Bambu Baru Di Tanah Air 

Sumber: http://www.koranfesbuk.info/ 26 Maret 2012 

Ditemukan Spesies Bambu Baru Di Tanah Air : Elizabeth A Widjaja, taksonom bambu dari Pusat Penelitian Biologi LIPI menemukan spesies bambu baru di Pegunungan Mekongga, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. “Spesies bambu ini kecil sekali, tidak punya berbulu, tapi punya lapisan lilin. Daunnya juga kecil, hanya 2 cm. Diameter bambunya hanya sekitar 2 cm dan tumbuh merayap,” ungkapnya.

Menurut Elizabeth, spesies bambu baru tersebut hanya salah satu wujud kekayaan bambu Indonesia. Spesies bambu endemik di Tanah Air saat ini diketahui sebanyak 160 jenis. Sampai saat ini, bambu spesies baru tersebut belum dinamai. Dalam waktu dekat, nama akan diberikan dan dipublikasikan. Selain itu, spesies bambu yang masih dalam proses identifikasi di antaranya berasal dari wilayah Sulawesi dan Alor. (KF-Vey/12/Kompas)

Yuk, Manfaatkan Bambu untuk Hidup yang Hijau

Sumber: http://u.lipi.go.id/  13 Juli 2012 

Bambu merupakan salah satu jenis tumbuhan yang sudah tidak asing bagi orang Indonesia. Masyarakat kita memanfaatkan bambu dari hidup hingga mati. Di mana bambu digunakan untuk perlengkapan rumah tangga, hingga untuk mengangkat jenazah.

Namun demikian penggunaannya sejauh ini masih cukup tradisional dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal jika dilihat material ini sangat potensial untuk dikembangkan.

“Tercatat ada 65 jenis yang dapat dikembangkan dari 160 jenis bambu yang terdapat di indonesia, dengan 120 jenisnya merupakan asli indonesia. Sehingga dengan kekayaan yang melimpah sebetulnya bambu sangat prospektif untuk dikembangkan,” ujar Peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI Elizabeth Anita Widjaja dalam rangkaian workshop bambu “Rekontruksi Tapak Bumi Village” di Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (11/7/2012).

Menurutnya, sebagai negara tropis dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah tentunya, harus dimanfaatkan secara maksimal asal tidak merusak lingkungan. “Seperti material bambu yang terdapat cukup banyak dan beragam dapat diaplikasikan pada rumah Anda. Tak hanya sekadar untuk mempercantik, bambu juga merupakan material ramah lingkungan,” ujarnya.

Hal lain yang menarik, tambah Elizabeth, bambu cukup mudah dalam tahap penanaman dan perawatannya. Bambu dapat digunakan pada setiap bagian rumah tinggal, seperti bambu betung untuk tiang rumah karena sifatnya yang kokoh dan kuat, atau bambu tekstil yang juga biasa disebut bambu buta, karena tak memiliki rongga bisa dijadikan sebagai tiang rumah yang kuat.

Sedangkan bambu tali dapat diterapkan pada atap rumah anda karena sifatnya yang ringan dan cenderung lentur. Sementara bambu yang digunakan untuk bilik atau anyaman dinding dari bambu adalah jenis bambu mayan.

“Tentunya untuk mendapatkan bambu yang tahan lama perlu dilakukan pengawetan, namun pada dasarnya bambu dapat digunakan untuk mempercantik setiap sendi rumah Anda,” ujarnya. (NJB)

Indonesia Perlu SNI-kan Bambu

Sumber: http://u.lipi.go.id/   13 Juli 2012 

Menurut Peneliti dari Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI, Elizabeth Anita Widjaja, perlu adanya aturan Standar Nasional Indonesia (SNI) mengenai penggunaan bambu secara massal, khususnya yang berasal dari dalam negeri.

“SNI untuk bambu dibutuhkan untuk kontruksi. Yang memang bersifat lokal, sehingga tidak hanya mengadopsi standar dari luar, karena jenis bambunya sendiri berbeda dengan yang asli Indonesia,” kata Elizabeth dalam workshop bambu “Rekonstruksi Tapak Bumi Village” yang digelar oleh IAI Banten, di Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (11/7/2012).

“Saat ini di Indonesia, bambu sudah digunakan untuk konstruksi bangunan sederhana, sementara untuk bangunan-bangunan yang rumit belum digunakan. Untuk itu jika ada SNI-nya, maka akan sangat membantu para perancang bangunan,” tambah Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat Pon S Purajatnika.

Selain itu, menurut Elizabeth, SNI juga perlu untuk pembudidayaan bambu di Indonesia secara massal. Sehingga tak kalah bersaing dengan bambu luar, khususnya yang berbentuk monopodial dan relatif lurus. Sementara bambu Indonesia yang merupakan jenis simpodial yang berumpun dan melengkung namun hal ini juga dapat menguntungkan lengkungan bisa menjadi elastis.

“Andil pemerintah juga masih kurang, padahal kita tahu kebutuhan akan bambu cukup besar, namun pasokannya sendiri masih sangat kurang. Padahal material bambu sangat potensial dan pemanfaatannya digunakan dalam berbagai aspek,” ujarnya.

Di samping itu belum adanya standar baku untuk kuaitas bambu sendiri, hal ini juga berdampak terhadap kredit perbankan yang diberikan untuk pihak pembangun. “Tanpa adanya SNI sangat sulit mendapatkan kredit perbankan dalam mendirikan bangunan yang bermaterialkan bambu,” pungkas Elizabeth. (NJB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: