Berita

Juli 2009

Mendorong Masyarakat Menghargai Bambu

Sumber:http://www.ugm.ac.id/Edisi 84/V/21 Juli 2009. 

Di beberapa negara seperti Belanda, Jerman, AmerikaSerikat dan negara-negara Amerika Latin, bangunan bambu dikenal sebagai bangunan yang eksotik, kuat, tahan lama, dan tahan terhadap pengaruh gempa. Kalau masyarakat Indonesia ingin meniru bangunan bambu di negara-negara maju tersebut, maka bambu yang akan digunakan untuk bahan bangunan dan teknologi konstruksinya harus baik pula. Demikian yang dituturkan Ir. Morisco, PhD, Ketua Panitia Seminar Nasional ?Perkembangan Perbambuan di Indonesia?. Acara seminarya sendiri berlangsung tanggal 17 Januari 2005 di Ruang Sidang Jurusan Teknik Sipil UGM.

Menurut Pak Morisco, masyarakat Indonesia masih enggan menggunakan bahan bambu untuk konstruksi bangunan rumah, karena mereka belum tahu bagaimana menangani masalah pengawetan bambu yang harus digunakan untuk bahan konstruksi bangunan. Di samping itu, mereka hanya hanya mengandalkan teknologi konstruksi tradisional yang kekuatannya masih disangsikan. ?Hal-hal ini mendorong para peneliti bambu di Indonesia melakukan penelitian pengawetan dan pengembangan teknologi konstrusi di Indonesia,? kata Pak Morisco.

Dalam konteks demikian, Bamboo Center di Pusat Studi Ilmu Teknik (PSIT) UGM bekerja sama dengan Program Magister Teknologi Bahan Bangunan (MTBB) Jurusan Teknik Sipil UGM dan Perhimpunan Pecinta Bambu Indonesia (Perbindo) Yogyakarta, menyelenggarakan seminar nasional Perkembangan Perbambuan di Indonesia. Setelah berseminar, peserta diajak melakukan field trip ke berbagai industri perbambuan di Yogyakarta tanggal 18 Januari 2005.

Pak Morisco mengemukakan bahwa seminar ini menghadirkan 29 pemakalah yang berprofesi peneliti di berbagai kota di Indonesia. Mereka, antara lain: Dr. Elizabeth A. Widjaja dari LIPI Bogor, Prof. Surjono Surjokusumo dari IPB Bogor, Ibu Linda Garland dari Ubud Bali yang semuanya sudah dikenal oleh masyarakat perbambuan di tingkat dunia. ?Dari UGM sendiri yang mempresentasikan makalah antara lain: Prof. Dr. Ir. Suhardi dan Prof. Dr. Ir. TA. Prayitno dari Fakultas Kehutanan UGM, Dr. A. Ronald, Dr. Morisco, Dr. Fitri Mardjono dari Fakultas Teknik. Di samping itu juga hadir pemakalah dari berbagai kota seperti Bandung, Makasar, Denpasar, Malang, dan pemakalah dari mahasiswa S2 di Jurusan Teknik Sipil UGM,? ujar Pak Morisco.

Makalah yang masuk, kata Pak Morisco, dikelompokkan jadi dua, yaitu kelompok teknologi budidaya bambu dan teknologi pasca panen bambu. Dari kelompok teknologi budidaya bambu yang dipresentasikan 13 makalah dan sisanya dari kelompok teknologi bambu pasca panen. Lewat seminar ini, Pak Morisco berharap bahwa akan terjalin komunikasi antara peneliti dan pecinta bambu di Indonesia, sehingga nantinya dapat terwujud hubungan yang harmonis antara peneliti, produsen/industri bambu dan masyarakat pemakai bambu. ?Kegiatan ini sebetulnya merupakan kelanjutan setelah Indonesia berhasil menyelenggarakan kongres bambu sedunia di Ubud, Bali, tahun 1994. Di masa mendatang akan ada lagi seminar berskala nasional maupun internasional secara periodic di Indonesia. Bamboo Center di PSIT UGM juga merencanakan penyelenggaraan seminar bambu di tingkat regional Asia pada tahun 2006,? tegas Pak Morisco (Mon).

September 2010

Hari Depan Itu Bambu

Sumber:   http://www.sitihinggil.com/ 23 September 2010 

Proses tumbuh yang taklama membuat bambu jadi solusi ketersediaan materi kontruksi

Ketika pemanfaatan bambu sebagai bahan konstruksi bangunan dan untuk produk mebel mulai marak, maka hal itu diikuti tingginya tingkat permintaan, baik perorangan maupun perusahaan kontraktor. Sayangnya, selama ini, di Indonesia masih jarang ada pihak yang tertarik untuk membudidayakan bambu.

Padahal, pembudidayaan bambu dinilai sangat mudah. Menurut Prof. Ir. Morisco, Ph. D., Guru Besar Fakultas Teknik UGM yang mendalami pemanfaatan bambu, bambu bisa ditanam di lahan kering atau basah. Selain itu, untuk memulai pembudidayaan bambu, hanya dibutuhkan waktu selama lima tahun untuk pembentukan rumpun akar beserta batang bambu. Sementara itu, saat berusia tiga tahun, bambu sudah bisa dipanen, dan cepatnya waktu panen itu memungkinkan setiap tahun bisa dipanen.
Selama ini, masyarakat mendapatkan bambu bukan hasil dari pembudidayaan, sekedar tanaman yang memang tumbuh di halaman rumah. Padahal, permintaan masyarakat atas bambu sangat besar. Akibatnya, bambu semakin langka. ”Karena kita ketergantungan terhadap warisan tanaman bambu nenek moyang,” ujar Morisco sembari tertawa kecil.

Ketika harga bambu semakin mahal karena dipicu kelangkaan keberadaannya, maka menurut Morisco hal itu suatu peluang yang mesti dikerjakan. Dalam konteks ini, menurut Morisco, semestinya pemerinah yang mulai melakukan atas pembudidayaan tanaman bambu. Sebabnya, masyarakat petani tak mudah percaya untuk memulai pembudidayaan suatu tanaman baru. “Maka, pemerintah semestinya yang bisa memulai usaha ini,” ujarnya.

Untuk permintaan bambu sendiri, menurut Indra Setiadarma, Manager Preservation CV Sahabat Bambu, cukup banyak. Meski tidak menyebut angka pasti, menurut Indra, CV Sahabat Bambu kerap mendapat tawaran kerjasama untuk memasok ke luar DIY, seperti Bali, Jakarta, NTB, Kalimantan dan lainnya. “Setiap minggu selalu ada kontraktor yang minta dikirimi,” ujarnya.

Sayangnya, CV Sahabat Bambu bukan perusahaan yang bergerak untuk pembudidayaan. Selama ini, perusahaan yang di tahun 2006 awal merupakan LSM ini, mengandalkan bambu dari desa-desa binaannya di Purworejo dan Magelang. Kemudian, CV Sahabat Bambu bergerak dalam usaha pengawetan bambu, konsultan desain bangunan bambu dan kerap memberikan pelatihan tentang bambu.

Saat belum banyak yang membudidayakan bambu, maka hal itu sesungguhnya peluang prospektif yang dapat dilakukan siapapun mengingat semakin banyaknya masyarakat menggunakan bambu untuk keperluannya. Bisa jadi, benar apa yang dikatakan Morisco. Ketika kayu banyak dijarah, dan hutan semakin gundul, maka “Hari depan itu ya bambu,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: