Makalah

PRODUK DARI BAMBU DAN TURUNANNYA

Oleh : Purwito

Puslitbang Permukiman Balitbang PU Kementerian Pekerjaan Umum

Bahan Presentasi WorkShop Rekonstruksi Topic Bumi Village, Sanggar Kreatif Anak Bangsa, 11 Juli 2012, Ciputat,  Tangerang Selatan

Download file:  

1. PENDAHULUAN

1.1.  UMUM

Bambu merupakan bahan lokal yang sudah sangat dikenal di Indonesia dan  memegang peranan sangat penting dalam kehidupan masyarakat, ini dapat dilihat dari banyaknya penggunaan bambu pada berbagai keperluan masyarakat kita sejak nenek moyang kita ada.

Di Indonesia ditemukan sekitar 60 jenis dan bambu  banyak ditemukan di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian sekitar 300 m diatas permukaan laut.   Pada umumnya ditemukan ditempat-tempat terbuka dan daerahnya bebas dari genangan air. Dari kurang lebih 1.000 species bambu dalam 80 genera, sekitar 200 species dari 20 genera ditemukan di Asia Tenggara (Dransfield dan Widjaja, 1995).

Di Indonesia bambu hidup merumpun (symphodial), kadang-kadang ditemui berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa yang identik dengan batas desa. Di Jawa, penduduk  sering menanam bambu disekitar rumahnya dicampur dengan tanaman lain untuk berbagai keperluan.

Berbeda dengan bambu di negara China dan Amerika Latin, tanaman bambu berdiri sendiri-sendiri seperti pohon pinus sehingga lurus dan tinggi. Kualitas bambunya sanagt baik dan sudah diklasifikasikan sebagai bahan untuk struktur dimana masyarakat dapat membeli bambu sesuai dengan kebutuhannya dan kualitas yang diinginkan.

Bambu dikenal memiliki sifat-sifat yang sangat menguntungkan untuk dimanfaatkan karena,  batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain seperti kayu.

Bambu dalam bentuk bulat dapat dipakai untuk berbagai macam keperluan mulai dari alat-alat kerajinan tangan, alat rumah tangga, alat musik, upacara keagamaan, makanan, obat-obatan, sebagai energi pembakar  serta konstruksi bangunan seperti rumah,  jembatan, penahan tanah, tangga, pipa saluran air dll. Beberapa jenis bambu  akhir-akhir ini produksinya mulai banyak disenangi masyarakat karena produknya sangat  bervariasi  mulai dari produk lokal sampai produk import (dari China, India, vietnam dll).

Kendala yang ditemui adalah, bambu mempunyai keterbatasan dalam penggunaannya seperti, sifat fisik sehingga sukar dikerjakan secara mekanis, ukurannya bervariasi  dan tidak seragam panjang ruasnya serta mudah terserang hama perusak kayu bubuk, rayap dan jamur. Sering ditemui barang-barang yang berasal dari bambu umumnya yng sudah dibuang kulitnya dan dalam keadaan basah mudah diserang oleh jamur biru dan bulukan. Begitu pula bambu bulat utuh dalam keadaan kering yang terserang  serangga bubuk kering dan rayap kayu kering. Hal ini membuat anggapan (image) negatif pada masyarakat sehingga bambu diidentikan dengan kemiskinan.

1.2.    MANFAAT DARI BAMBU ?

Kondisi lingkungan dunia terutama yang berkaitan dengan isu pemanasan bumi (global warming) semakin meruak yang salah satunya diakibatkan oleh eksploitasi sumber daya alam (kayu) yang tidak terkendali serta penggunaan bahan bakar minyak untuk berbagai kebutuhan di dunia.

Kerusakan hutan khususnya dari eksploitasi sumber daya alam terutama kayu telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang signifikan, selama pengganti kayu yang dipakai sebagai bahan utama bangunan belum tersedia.

Perbaikan hutan (reforestration) hutan memerlukan waktu lebih dari 10 tahun karena sifat tumbuhnya yang lama untuk dapat digunakan, sementara ada bahan bangunan lain yaitu bambu yang potensinya banyak apabila diperlakukan secara khusus, dapat menggantikan peran kayu di masa mendatang karena kekuatannya yang tinggi..

Bambu dikenal sebagai tanaman alam dapat dipanen dalam waktu 2 – 3 tahun dan dapat tumbuh di sembarang kondisi tanah serta harganya murah, telah banyak dipakai sebagai bahan bangunan sejak dahulu. Secara tradisional bahan ini banyak dipakai di Indonesia sebagai glondongan (culm) untuk berbagai bangunan tanpa melalui perlakuan awal (proses mekanisasi) dan penampilannya kurang menarik sehingga, masih menimbulkan image bahwa bambu hanya untuk bangunan rumah pedesaan atau rumah orang miskin disamping keawetannya terhadap hama perusak kayu sangat rendah.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan teknologi dan rekayasa, bambu dapat diproduk dalam berbagai bentuk dengan kekuatan yang tidak kalah dengan  kayu. Hasil produknya dapat berbentuk balok, papan dalam ukuran yang tidak terbatas sehingga memudahkan pengguna dalam memanfaatkannya. Dalam konstruksi produk ini dapat dipakai  sebagai bahan bangunan struktural dan non-struktural dalam bentuk bahan komposit. Bambu sebagai bahan pengganti kayu yang sekaligus dapat menyelamatkan dunia dari kerusakan hutan,  akan sangat berperan pada tahun mendatang mengingat keberadaan kayu yang semakin berkurang.

2. MENGENAL BAMBU

2.1.   PERSEBARAN BAMBU

Beberapa pakar berpendapat bahwa, bambu di Jawa dikategorikan sebagai bambu kampung yang telah umum dibudidayakan dan dikategorikan, juga sebagai  bambu  liar yang berasal dari hutan. Data resmi potensi bambu di Indonesia hampir tidak ada, beberapa referensi lama yang telah dilakukan oleh UGM, IPB serta Institusi Pemerintah  saat ini sudah tidak dapat digunakan karena telah dikonversi menjadi hutan tanaman kayu dan perumahan. Namun demikian Puslitbang Biologi sebagai pangkalan data telah menyelesaikan beberapa proyek penelitian dengan membangun kebun koleksi bambu yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan pemanfaatan jenis-jenis bambu.

Budidaya bambu telah lama diketahui diintroduksi ke suatu daerah sejak dulu dan ada hubungannya dengan migrasi penduduk dari Indocina ke Indonesia. Jenis-jenis yang ada hubungannya dengan migrasi adalah, yang termasuk dalam marga Gigantochloa (Holtum 1958). Golongan gigantochloa apus atau bambu tali menyebar dan tumbuh secara melimpah di Pulau Jawa dan umumnya ditanam di pedesaan atau tumbuh liar di tebing/tepi sungai atau di daerah pegunungan yang terjal (Widjaja).

2.2.    SIFAT FISIK MEKANIK

Seperti hanya tebu, bambu mempunyai ruas dan buku. Pada setiap ruas tumbuh cabang-cabang yang berukuran jauh lebih kecil dibandingkan dengan buluhnya sendiri. Pada ruas-ruas ini pula tumbuh akar-akar sehingga pada bambu dimungkinkan untuk memperbanyak tanaman dari potongan-potongan setiap ruasnya, disamping tunas-tunas rimpangnya.

1).  Klasifikasi bambu

Bambu dibagi dalam 5 famili yaitu;

  • Dendrocalaminae
  • Melocanninae
  • Bambusinae
  • Arundinaeiinae
  • Puellinae

2).  Spesies bambu

Jumlah dari famili bambu dan spesiesnya adalah,

  • Pada tahun 1903 Sporry : 45 famili
  • Pada tahun 1912 perancis : 230 spesies
  • Pada tahun 1931 Ueda : 47 famili /1250 spesies.
  • Pada tahun 1954 Sineath/Daughtery : 60 famili /1000 spesies.
  • Pada tahun 1956 Raizada/Chatterji : 30 famili /500 spesies.
  • Pada tahun 1959Hutchinson: 45 famili.
  • Pada tahun 1967 Lubke : 500 spesies.

3). Sifat bambu

  •  Titik jenuh serat bambu 20-30%. Bagian dalam bambu lebih banyak mengandung    lengas (air bebas), daripada bagian luar,
  •  Bagian buku-buku (nodes) mengandung +10% lebih sedikit kadar airnya dari pada bagian ruasnya,
  • Bambu kurang tahan jika dipergunakan sebagai tulangan beton karena  daya serap airnya bisa mencapai 300%,
  • Bambu perlu diawetkan agar dapat mencapai mutu dan umur yang diharapkan,
  • Penggunaan pada konstruksi bangunan harus dihindarkan dari hujan dan  panas matahari langsung, agar tidak mudah rapuh dan membusuk.

4).  Tipe bambu

Bambu terdiri dari dua tipe yaitu;

  • Bambu monopodial dengan batang yang panjang dan lurus serta  tumbuhnya  sendiri-sendiri. Bambu ini  tumbuh di daerah yang mempunyai 4 musim seperti, Jepang, China, Amerika dll,
  • Bambu simpodial dengan batang yang lebih pendek serta bambu rambat yang tumbuhnya   tidak  beraturan.  Bambu   ini  tumbuh   di  daerah  tropis  seperti, Indonesia, Philipina, Thailand, India, Amerika Selatan, Afrika dll. Beberapa jenis juga tumbuh dengan merambat pada pohon yang ada di sekitarnya  seperti layaknya rotan.

5).  Kondisi iklim

Kebanyakan bambu tumbuh pada temperatur 8.8° C sampai  36° C. Moso dan bambu Ma yang tumbuh di Jepang dapat  tumbuh pada temperatur – 10° C. Ketinggian tanah dimana bambu tumbuh dapat mencapai 3.600 m di atas permukaan laut seperti bambu yang tumbuh di Ekuador.

6).  Kondisi tanah

Bambu umumnya tumbuh pada tanah yang berpasir (sandy loam)  sampai di tanah liat (kuning, coklat kekuning-kuningan atau merah kekuning-kunigan). Kualitas tanah tidak penting bagi pertumbuhan bambu.

7).  Properti dari bambu

Moisture content bambu, Phisikal propertis, Mekanikal/teknikal propertis sebagaimana juga dalam penggunaan bambu sebagai bahan baku atau komponen bangunan tergantung dari kadar airnya (moisture content).  Kadar air bambu pada buku dan batang sangat tergantung pada umur dan musim.

Pada batang antar buku dapat mencapai 25% dibandingkan dengan pada bagian buku sedangkan pada bagian dasar sangat bervariasi. Pada daerah subtropical musim sangat mempengaruhi moisture content (kandungan air) bambu dan pada musim hujan dapat mencapai dua kalinya. Kandungan air bambu ini sangat mempengaruhi kualitas bambu terutama pada saat akan dimanfaatkan sebagai komponen bangunan.

8).  Pemuaian dan penyusutan bambu

Pemuaian dan penyusutan bambu hampir sama dengan kayu. Perubahan yang terjadi pada panjang, lebar serta tebal kurang  lebih proporsional dengan kadar air yang dikandung.

Pada penggunaan konstruksi yang seluruhnya menggunakan bambu kondisi ini tidak begitu berpengaruh pada konstruksi, berbeda dengan konstruksi yang menggunakan kombinasi antara bambu dan kayu kemungkinan terlepasnya sambungan sangat besar.

9).  Ketahanan terhadap api

Dibandingkan dengan kayu lunak sejenis spruce (famili pinus) maka  bambu mempunya daya rambat yang lebih baikSpruce terbakar lebih cepat sedangkan bambu dua kali lebih lama. Kulit bambu yang mengandung silisic acid sangat membantu menahan rambatan api shingga proses terbakarnya lebih lama dibandingkan spruce.

Komponen yang dipasang secara horizontal lebih tahan dibandingkan dengan yang posisinya vertikal.

10).  Kekuatan bambu

  • Kekuatan tarik (tegangan patah untuk tarik bumi) 1.000 – 4.000 Kg/cm2.
  • Kekuatan tekan (tegangan patah untuk tekanan) 250 – 1.000 Kg/cm2
  • Modulus kenyal untuk tarikan 100.000 – 300.000 Kg/cm2
  • Tegangan izib tarik = 300 Kg/cm2
    • Tegangan izin tarik = 80 kg cm2
    • Tegangan izin lentur = 100 kg cm2
    • Modulus kenyal untuk tarikan dan tekanan = 200.000 kg/cm2

2.3.   KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN BAMBU

1).     Keuntungan bambu ;

  • Bambu mudah ditanam dan tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus. untuk melakukan budidaya bambu, tidak diperlukan investasi yang besar, setelah tanaman sudah mantap, hasilnya dapat diperoleh secara menerus tanpa menanam lagi. budidaya bambu dapat dilakukan sembarang orang, dengan peralatan sederhana dan tidak memerlukan bekal pengetahuan yang tinggi.
  • Pada masa pertumbuhan, bambu tertentu dapat tumbuh vertikal 5 cm per jam, atau 120 cm per hari. bambu dapat dimanfaatkan dalam banyak hal. Berbeda dengan pohon kayu hutan yang baru siap ditebang dengan kualitas baik setelah berumur 30-50 tahun, maka bambu dengan kualitas baik dapat diperoleh pada umur 3-5 tahun.
  • Tanaman bambu mempunyai ketahanan yang luar biasa. rumpun bambu yang telah dibakar, masih dapat tumbuh lagi, bahkan pada saat hiroshima dijatuhi bomatom sampai rata dengan tanah, bambu adalah satu-satunya jenis tanaman yang masih dapat bertahan hidup.
  • Bambu mempunyai kekuatan cukup tinggi, kuat tariknya dapat dipersaingkan dengan baja. Sekalipun demikian kekuatan bambu yang tinggi ini belum dimanfaatkan dengan baik karena biasanya batang-batang struktur hanya dirangkaikan dengan pasak atau tali yang kekuatannya rendah.
  • Bambu berbentuk pipa sehingga momen kelembabannya tinggi, oleh karena itu bambu cukup baik untuk memikul momen lentur. ditambah dengan sifat bambu yang elastis, struktur bambu mempunyai ketahanan yang tinggi baik terhadap angin maupun gempa.

2).    Kelemahan Bambu

  • Bambu mempunyai durabilitas yang sangat rendah sehingga  sangat potensial untuk diserang kumbang bubuk. Bangunan atau perabot yang terbuat dari bambu tidak awet kurang dapat bertahan lebih dari 5 tahun dan ini menimbulkan konotasi masyarakat bahwa bambu dikenal sebagai bahan bangunannya orang miskin,
  • Kekuatan sambungan bambu yang pada umumnya sangat rendah karena perangkaian batang-batang struktur bambu sering kali dilakukan secara konvensional memakai paku, pasak, atau tali ijuk. Pada perangkaian batang-batang struktur dari bambu yang dilakukan dengan paku atau pasak, maka serat yang sejajar dengan kekuatan geser yang rendah menjadikan bambu mudah pecah karena paku atau pasak.
  • Penyambungan memakai tali sangat tergantung pada keterampilan pelaksana. Kekuatan sambungan hanya didasarkan pada kekuatan gesek antara tali dan bambu atau antara bambu yang satu dengan bambu lainnya Dengan demikian penyambungan bambu secara konvensional kekuatannya rendah, sehingga kekuatan bambu tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Pada saat tali mengendur sebagai akibat kembang susut (perubahan temperatur) kekuatan gesek itu akan turun, dan bangunan dapat runtuh. Oleh karena itu sambungan bambu yang memakai tali perlu dicek secara berkala  terutama kekuatan ikatan tali.
  • Sifat bambu yang mudah terbakar. Sekalipun ada cara-cara untuk menjadikan bambu tahan terhadap api, namun biaya yang dikeluarkan relatif cukup mahal.
  • Bersifat sosial berkaitan dengan opini masyarakat yang sering menghubungkan bambu dengan kemiskinan, sehingga orang segan tinggal di rumah bambu karena takut dianggap miskin. Orang baru mau tinggal di rumah bambu jika tidak ada pilihan lain.
  • Hampir tidak ada fasilitas kredit dari perbankan, karena kurang yakinnya pihak perbankan,
  • Belum ada Standar Nasional Rumah Bambu

2.4.    STANDAR BAMBU

Untuk mendapatkan produk yang memenuhi persyaratan teknis dan keseragaman dalam penggunaannya maka INBAR (International Network Bamboo and Rattan) telah menerbitkan standar sebagai berikut;

1)    International Standard ISO 22156 (2004) Bamboo – Structural Design

2). International Standard ISO 22157-1: 2004 (E) Bamboo – Determination of physical and mechanical properties – Part 1: Requirements

  • Terms and definition
  • Scope
  • Symbols and abbreviated terms
  • Organization and use of this standard
  • Sampling and storage of specimens
  • Moisture content
  • Mass by volume
  • Shrinkage
  • Compression
  • Bending
  • Shear
  • Tension
  • Bibliography

3). Technical Report ISO/TR 22157-2: 2004 (E) Bamboo – Determination of physical and mechanical properties – Part 2: Laboratory Manual

  • Scope
  • Measurement and weight
  • Marking and conversion into test specimens
  • Moisture content
  • Mass by volume
  • Shrinkage
  • Compression
  • Static bending
  • Shear
  • Tension
  • Bibliography

a.    Batasan

  • Part 1merupakan metode pengujian untuk mengevaluasi karakteristik pada sifat fisis dan mekanis bambu seperti: kadar air, kerapatan, penyusutan, tekan, lentur, geser dan tarik.
  • Part 2merupakan laporan teknis (technical report) yg menyediakan petunjuk  informasi bagi staf laboratorium tentang bagaimana mengerjakan pengujian sesuai part 1.
  • Standard ini mencakup pengujian pada spesimen bambu untuk mendapatkan data, sehingga dapat digunakan untuk menentukan karakteristik kekuatan bahan  sampai mendapatkan tegangan ijin.
  • Data tersebut dapat digunakan untuk mencari hubungan antara sifat mekanis dan faktor lain seperti kadar air, kerapatan, tempat tumbuh, posisi sepanjang buluh, keberadaan buku (node) dan ruas (internode), dll yang berfungsi sebagai pengendali kualitas.

2.5.   NILAI EKONOMIS BAMBU

Dari segi ekonomis bambu sangat menguntungkan, demikian bambu yang ditanam tumbuh menjadi rumpun, selanjutnya rumpun bambu akan berfungsi sebagai bank. Setiap kali diperlukan, batang bambu dapat ditebang seperti halnya orang mengambil bunga deposito. Lebih dari itu, sekalipun seluruh rumpun ditebang, rumpun  baru dapat tumbuh lagi. Hal ini berarti bahwa sekali tanam bambu, hasilnya dapat diambil terus-menerus.

Permintaan bambu di Indonesia kini semakin meningkat. Kalau dulu orang memakai bambu karena kurang mampu, sekarang sedikit demi sedikit bambu telah bergeser menjadi barang seni yang dibeli karena keindahannya. Perlengkapan rumah seperti meja, kursi, dipan, sekat dari bambu sudah masuk ke hotel-hotel berbintang dan bangunan,-bangunan wisata. Lebih dari itu perabot rumah dari bambu juga mulai menjadi komoditi ekspor. Perajin bambu sudah mulai merasakan kesulitan dalam membeli bambu dengan umur yang cukup, karena budidaya bambu di Indonesia masih sangat langka. Budidaya ini hanya dijumpai di beberapa daerah, antara lain di Bengkulu dan Lampung.

2.6.   PELUANG BAMBU SEBAGAI PENGGANTI KAYU

Perkembangan jumlah penduduk mengakibatkan naiknya kebutuhan perumahan, yang juga berarti meningkatnya kebutuhan kayu, apalagi kalau dilihat bahwa kayu dalam bentuk kayu lapis juga dipakai sebagai sumber devisa negara. Kebutuhan kayu yang berlebihan akan dapat mangakibatkan penebangan kayu hutan dalam jumlah banyak dan membahayakan kelestarian hutan. Untuk kelestarian hutan, kiranya perlu dicari bahan bangunan lain sebagai pengganti kayu hutan.

Dengan memperhatikan kekuatan bambu yang tinggi, dan bambu dengan kualitas yang baik dapat diperoleh pada umur 3-5 tahun, suatu kurun waktu yang relatif singkat, serta mengingat bahwa bambu mudah ditanam, dan tidak memerlukan perawatan khusus, bahkan sering dijumpai di desa-desa, rumpun bambu yang sudah dibakar pun masih dapat tumbuh Iagi, maka bambu mempunyai peluang yang besar untuk menggantikan kayu yang baru siap ditebang setelah berumur sekitar 30 – 50 tahun.

2.7.      NAMA BAMBU BERDASARKAN SEBUTAN DAERAH

2.8.   BAMBU DI JAWA BARAT DAN PERUNTUKANNYA (E. Wijaya)

1).  Awi duri atau bambu duri

·   Tumbuh di lahan yang basah (tepi sungai) dan daerah kering

·   Peruntukan, keranjang sayur/buah, boks, bahan baku kertas dll.

2).   Bambu tutul atau awi tutul

·   Tumbuh di tanah beriklim kering di dataran rendah

·   Peruntukan, kerajinan tangan dan furnitur.

3).   Awi krisik atau bambusa multilex

·   Tumbuh di lahan kering dan lembab

·   Peruntukan, tanaman hias dan pagar.

4).   Awi ampel, haur yang berwarna kuning disebut haur koneng

·   Tumbuh di daerah yang kering atau lembab dan dapat tumbuh di daerah yang tergenang air selama 2 – 3 bulan.

·   Peruntukan, bambu yang berwarna hijau dipakai sebagai pagar, bahan bangunan, mebel dan yang kuning sebagai tanaman hias.

5).   Awi bitung atau bambu betung

·   Tumbuh di tanah aluvial tropis yang kering dan basah.

·   Peruntukan, diambil rebungnya (makanan), bahan bangunan, mebel, alat musik, alat rumah tangga dll.

6).   Awi cangkoreh

·   Tumbuh di tanah berpasir dan tanah berkapur lahan basah

·   Peruntukan, sebagai pengganti tali.

7).   Awi tali atau bambu tali

·   Tumbuh di lahan yang basah (tepi sungai) dan daerah kering

·   Peruntukan, bahan bangunan,keranjang, kerajinan tangan dan dipakai sebagai bahan untuk industri papan serat bambu..

8) . Awi hideung atau bambu hitam

·   Tumbuh di daerah kering dan berkapur

·   Peruntukan, alat musik tradisional, mebel dan kerajinan tangan..

9).   Awi temen atau bambu ater

·   Tumbuh di lahan yang lembab dan daerah kering

·   Peruntukan, sumpit, tusuk gigi, bahan bangunan dan alat musik.

10).  Awi Tela atau awi Lengka atau Bambu Lengka Tali

·   Tumbuh di dataran rendah hingga tinggi dan di daerah tropis rendah.

·   Peruntukan, untuk membuat keranjang sayur/buah dan rebung (makanan).

11).  Awi Gombong atau bambu Gombong

·   Tumbuh di daerah tropis yang lembab

·   Peruntukan, bahan bangunan dan alat musik tradisional

12).  Awi mayan atau bambu mayan

·   Tumbuh di daerah lembab dan kering

·   Peruntukan, tempat air. alat musik tradisional, sumpit, rebung

13).  Awi eul – eul

·   Tumbuh di daerah tinggi, lereng atau lembah dan di hutan yang lembab

·   Peruntukan, bahan bangunan (bilik), alas pengeringan daun tembakau dan tempat untuk pembibitan.

14).  Awi Tali Koneng atau Bambu Lemang.

·   Tumbuh di daerah tropis lembab di dataran tinggi dan rendah.

·   Peruntukan, warna hijau untuk membuat lemang dan kunig untuk acara keagamaan dan perkawinan.

15).  Awi Tamiyang atau Bambu Suling

·   Tumbuh di daerah yang curah hujannya tinggi, hutan tropis, lereng bukit.

·   Peruntukan, kerajinan tangan dan alat musik suling

16).  Awi Jepang atau Bambu Jepang atau Bambu Bangkok

·   Tumbuh di dataran rendah dan tinggi

·   Peruntukan, tanaman hias dan pagar rumah.

2.9.   TEKNIK PENANAMAN

Akar rimpang atau bonggol bambu merupakan organ vegetatif yang penting  bersifat terestrial, berkayu,  bercabang-cabang  dan  membawa  akar  adventif pada setiap bukunya. Setiap buku organ mempunyai mata tunas yang selanjutnya berkembang menjadi bentuk batang dan buluh baru. Dengan adanya tunas-tunas ini akar rimpang mempunyai bibit dalam pembudidayaan bambu.

Berdasarkan sistem percabangan rimpangnya, secara garis besar dibagi dalam dua tipe.

Kelompok pertama berakar rimpang yang tumbuh secara simpodial sehingga menghasilkan rumpun yang rapat (contoh, Bambusa, Dendrocalamus, Gigantochloa dan Schizostachyum) dan banyak dijumpai di daerah tropis.

Kelompok keduaberakar rimpang yang tumbuh secara monopodial atau secara horisontal dan bercabang secara lateral untuk menghasilkan rumpun dengan letak batang tersebar (contoh, Arundinaria dan Phyllostachys) yang banyak dijumpai di daerah beriklim sedang..

Secara garis besar cara penanaman bambu dilakukan dalam 4 tahap yaitu;

1).  Persemaian

Persemaian dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menanam biji dan  stek. Perbanyakan dengan biji diambil dari biji yang jatuh yang kemudian tumbuh di bawah rumpun kemudian setelah tinggi mencapai ± 5 cm dipindahkan ke dalam kantong plastik untuk dipindahkan ke lapangan.

Perbanyakan dengan stek dilakukan dengan memotong bambu yang sudah berumur 1 – 1.5 tahun. Potongan diletakkan dalam posisi ditidurkan dalam galian bedengan sedalam besarnya stek batang kemudian ditimbun dengan tanah setebal ± 8 – 10 cm. Penyiraman dilakukan selama 3 hari sekali selama 2.5 – 3 bulan. Pada umur ini stek batang sudah tumbuh  dan berakar dan bisa dipindahkan ke kantong plastik selama 4 – 6 bulan untuk dilakukan perawatan. Pada masa perawatan ini akan tumbuh anakan (sucker) untuk dipisahkan dan dirawat kembali selama 3 – 4 bulan dan disebut bibit baru  yang siap untuk di tanam.

2).  Penanaman

Sebelumnya perlu dipersiapkan lahan dengan membersihkan dari semak belukar atau rumput sampai bersih. Kemudian pembuatan dan pemasangan ajir sesuai dengan jarak tanam yang dikehendaki serta pembuatan lubang tanam. Pekerjaan ini umumnya memerlukan waktu 3 – 4 bulan.

Untuk penanaman yang bertujuan menghasilkan rebung ukuran lubang adalah, 50 x 50 x 75 cm  sedangkan untuk yang menghasilkan buluh adalah, 150 x 150 x 75 cm.  Kemudian lubang diisi dengan serasah atau rumput hasil babatan sampai penuh lalu ditimbun dengan tanah galian di bagian atasnya. Pada umur 3 – 4 bulan lubang atau lahan tersebut sudah siap ditanami bibit.

Penanaman sebaiknya dilakukan pada musim penghujan dan pada musim kemarau dilakukan penyiraman setiap 3 hari sampai tanaman benar-benar hidup.

Dari hasil penelitian pembudidayaan bambu yang dilakukan oleh Dahlan (1991) di Universitas Sriwijaya menyatakan, tingkat keberhasilan dengan sistem stek batang adalah sangat bergantung pada bagian batang (ujung, tengah dan bawah) yang digunakan untuk bibit dan jenis yang ditanam. Musim hujan lebih baik untuk pembuatan stek, tetapi percobaan pada pada musim kemarau juga menghasilkan keberhasilan yang cukup baik (40 – 60%). Stek dengan panjang 0.5 – 1 m yang diambil dari bagian pangkal dan tengah batang serta berumur lebih dari satu tahun akan memberikan hasil yang baik  dibandingkan dengan bagian ujung.

3).  Perawatan

Setelah tanaman berumur 1 (satu) bulan jika ada yang mati perlu disulam secepatnya. Perlu dilakukan pemupukan sebanyak 0.5 kg dengan komposisi campuran sbb, 1 Urea: 2 TSP : 1 KCI untuk setiap rumpun. Pada bulan-bulan berikutnya dilakukan pembersihan di sekitar tanaman dari rumput dan gulma karena berpotensi menghambat dan membunuh.

Pemupukan dapat dilakukan dua kali setahun tergantung pada keadaan dan tingkat kesuburan tanah, dan  umumnya dapat dilakukan menjelang musim hujan (oktober) dan menjelang musim kemarau (April). Untuk rumpum yang sudah berumur 4 tahun ke atas cukup diberi pupuk 2 kg per rumpun, cara perawatan ini dapat meningkatkan kualitas dari bambu yang dihasilkan.

Beberapa cara penanaman baik dilaboratorium lapangan maupun dilapangan pada skala besar telah dilakukan di lingkungan perkebunan PT. GGPC Lampung Tengah tahun 1988.

2.10.   TEKNIK PENEBANGAN

Pada umumnya cara penebangan  yang dilakukan oleh masyarakat adalah, dengan tebang tanpa pilih (tebang habis), karena pembeli/pengguna tidak terlalu mempermasalahkan umur dan kualitas bambu. Ini merupakan cara penebangan yang tidak ekonomis karena akan merusak rumpun secara keseluruhan.

Pada jenis bambu monopodial yang tumbuh di negara 4 musim, seleksi untuk penebangan mudah dilakukan karena jarak antara bambu yang satu dengan yang lain cukup lebar (kurang lebih 75 – 1.00) cm.

Waktu yang baik untuk menebang adalah sbb;

1)    Untuk jenis monopodial (subtropics) pada musim gugur dan musim dingin,

2)    Untuk jenis simpodial (tropis) pada musim kering/kemarau.

Untuk kondisi daerah tropis, penebangan dilakukan pada musim kemarau supaya kadar air yang ada dalam buluh bambu lebih rendah sehingga tidak mudah diserang kumbang bubuk basah.

Penebangan dilakukan dengan  memotong bambu setinggi kurang dari  30 cm dari permukaan tanah. Pemotongan dapat dilakukan dengan menggunakan  golok atau alat sejenis yang cocok. Penebangan dengan gergaji akan membuat bagian yang terpotong tidak membusuk sehingga akan merusak pertumbuhan akar baru, demikian pula kerusakan pada bagian terpotong secara melintang akan mempersulit air hujan untuk masuk ke dalamnya.

Menurut Pearson, 1 batang bambu baru akan tumbuh dari setiap 4 batang bambu lama dan memerlukan waktu lebih dari 4 tahun untuk memindahkan batang bambu lama.

Penebangan pertama hanya dapat dilakukan apabila bambu sudah benar-benar mencapai umur di atas 3 – 4 tahun setelah penanaman. Dari sekelompok bambu sebaiknya ditinggalkan antara 10 batang, ini dimaksudkan untuk menjaga bambu muda yang tumbuh dan menjaga pertumbuhan akar secara baik. Umur bambu antara 3 – 4 tahun sudah menunjukan kualitas bambu yang dapat dipakai sebagai bahan konstruksi.

Setelah penebangan,  cabang-cabang harus dibuang dengan hati-hati supaya tidak merusak kulit bagian luar bambu   karena jika rusak, memudahkan organisme perusak menyerang dan mengakibatkan rusaknya bambu.

2.11. PENGAWETAN BAMBU

1).  Hama penyerang bambu

Bambu rentan terhadap serangan kumbang bubuk, tanda-tandanya berupa bubuk seperti tepung dan munculnya lubang-lubang kecil sekeliling buku-buku tersebut.

1)     Jamur(fungi):  menyebabkan  bambu  rusak.   Jamur  ini  berasal  dari spora-spora  murni yang akan tumbuh dimana-mana di bawah kondisi-kondisi yang cocok.

2)     Jamur cendawan dan noda cemar dapat terjadi pada permukaan dan pada lintang akhir tunas dalam kelembaban atmosfir  yang tinggi, umumnya di atas 70%.

Text Box: 1)	Jamur(fungi):  menyebabkan  bambu  rusak.   Jamur  ini  berasal  dari spora-spora  murni yang akan tumbuh dimana-mana di bawah kondisi-kondisi yang cocok.<br /><br /><br /><br />
2)	Jamur cendawan dan noda cemar dapat terjadi pada permukaan dan pada lintang akhir tunas dalam kelembaban atmosfir  yang tinggi, umumnya di atas 70%.</p><br /><br /><br />
<p>

Gambar  – 5 ; Pelapukan bambu

3). Serangga  merupakan sumber dari serangan yang paling merusak pada bambu. Kondisi-kondisi iklim lembab dan hangat pada daerah-daerah tropis adalah kesukaan hama ini.

Text Box: 3). Serangga  merupakan sumber dari serangan yang paling merusak pada bambu. Kondisi-kondisi iklim lembab dan hangat pada daerah-daerah tropis adalah kesukaan hama ini.

Gambar  -6 ; Hama perusak bambu

Pengawetan bambu adalah, proses memasukan bahan kimia / pengawet kedalam bambu agar keawetannya bertambah atau lebih tahan terhadap serangan organisme perusak

Menurut Liese (1980), bambu tanpa pengawetan hanya dapat tahan satu sampai-tiga tahun jika langsung berhubungan dengan tanah dan tidak terlindung terhadap cuaca. Bambu yang terlindung terhadap cuaca dapat tahan empat sampai tujuh tahun. Tetapi untuk lingkungan yang ideal, sebagai rangka, bambu dapat tahan sepuluh sampai 15 tahun.

Pada prinsipnya bambu  sebelum   digunakan   baik   dalam   bentuk   bulat   atau   belahan,   harus diawetkan untuk mencegah dan mengurangi serangan organisme perusak sehingga memiliki umur pakai lama.

Bambu mudah dimasuki bahan pengawet dengan proses yang sederhana seperti difusi atau rendaman namun pengawetan secara efektif masih belum banyak dilakukan, yang lazim digunakan di pedesaan sifatnya masih tradisional.

2).  Cara pengawetan

a. Pengawetan cara tradisional

·         Merendam  bambu  dalam kolam, air yang mengalir (sungai), air laut, lumpur dsb, Kerugian jika bambu direndam dalam air yang mengalir adalah daya tahan bambu akan bertambah buruk (lapuk),

·         Bambu  yang sudah  ditebang  dibiarkan buluhnya masih tetap bersama cabang dan daunnya, sampai beberapa hari. Perlakuan ini dimaksudkan agar pati yang ada di dalam buluh bambu masih dimanfaatkan sebagai metabolisme sehingga pati di dalam buluh bambu berkurang,

·         Pengasapan  dan  pemanasan,  maksudnya  untuk mengusir hama dan merusak zat pati yang ada di dalam buluh bambu,

·         Menutupi pori buluh bambu dengan kapur atau ter/aspal cair sehingga permukaan tidak mudah terserang hama,

·         Dilabur   dengan  kotoran  sapi  yang  telah   dicampur  dengan   kapur. Umumnya dilakukan oleh masyarakat di Pulau Jawa.

b.  Pengawetan sementara

Pencegahan sementara hanya dimaksudkan untuk mencegah serangan jamur biru dan kumbang bubuk basah, yang dilakukan bilamana bambu akan segera diolah atau dikeringkan. Bambu harus segera diproses maksimum 2 kali 24 jam setelah penebangan, agar tidak terserang jamur atau kumbang ambrosia.

Peralatan yang diperlukan untuk pengawetan bambu segar adalah, bak pengawet, bak persediaan, bak pencelup atau penyemprot dan tempat untuk menyimpan bambu yang sudah diawetkan.

Cara lain untuk memproteksi bambu segar, dapat dilakukan dengan cara melabur atau menyemprot bagian-bagian yang terbuka atau bagian kulit yang terkelupas dengan larutan pestisida.

Gambar – 7 : Pengawetan dengan cara rendaman  dengan menggunakan bak dari drum logam

presa1

Lembaran plastik

Penahan dari batu atau pasak kayu/besi

100

100

Gambar – 8 : Pengawetan dengan menggali tanah

c.   Pengawetan jangka panjang.

a).  Proses tanpa tekanan

·         Proses pelaburan dengan menggunakan peralatan kuas dan tempat untuk bahan pengawet (ember, dll). Proses ini biasanya dilakukan untuk barang (furnitur) yang sudah jadi sebelum finishing. Pelaburan dilakukan secara periodik dengan tenggang waktu 1 – 3 tahun tergantung efektifitas bahan pengawetnya.

·         Proses pencelupan dilakukan dengan mencelupkan bambu dalam bahan pengawet selama beberapa menit.

·         Proses penyemprotan  dilakukan dengan menggunakan alat penyemprot yang telah diisi bahan pengawet dengan jarak semprot kurang lebih 30 cm agar bahan pengawet tidak tercecer.

·         Proses rendaman  dapat dilakukan dengan rendaman dingin dan panas – dingin. Pada proses panas dingin air yang digunakan harus ber-temperatur 70ºC, yang dipertahankan sampai beberapa jam sampai tidak ada gelembung udara yang keluar kemudian didiamkan selama 24 jam.

·      Proses difusi terdiri dari 2 tahap yaitu, tahap pencelupan atau pelaburan kemudian diteruskan dengan tahap penyimpanan. Cara ini dilakukan pada bambu yang masih basah (kadar air minimum 40%). Peralatan yang digunakan adalah, bak pencelupan dan plastik berwarna hitam untuk menutupi bambu yang sudah dicelup kemudian disimpan selama 4 – 8 minggu.

·         Metode stepping diberlakukan pada bambu yang masih hidup dalam keadaan baru ditebang dan daun masih utuh. Bagian bawah dikuliti sepanjang 10 cm kemudian dimasukan ke dalam bak pengawet. Pengawetan dianggap selesai setelah daun dan ranting mengering.

b)  Proses tekanan sistem boucherie

Sistem dilakukan dengan memanfaatkan tekanan grafitasi air yang sudah dicampur dengan bahan pengawet yang dipakai.

Posisi bambu yang diawetkan dalam posisi kemiringan antara 5 – 10 derajat sehingga bahan pengawet dapat mengalir .

Keterangan ;

a.   Tangki bahan

pengawet

b.   Menara

c.   Pipa pralon

d.   Kran

e.   Bambu miring 5 – 10º

f.   Bak penampung bahan

Pengawet

f

d

c

b

a

e

Gambar – 10;   Pengawetan secara vertical cara grafitasi

Gambar – 9;  Pengawetan sistem Boucherie

c).  Modifikasi Boucherie (dengan tekanan)

Proses ini merupakan modifikasi dari sistim boucherie dengan merubah sistem grafitasi ke cara tekan pompa sehingga penetrasi bahan pengawet dapat lebih cepat dan lebih dalam.

Gambar – 11 : Modifikasi Boucherie dengan tekanan (kompresor)

d)   Proses vakum tekan

Proses vakum tekan menggunakan peralatan yang lebih sempurna yang dilengkapi dengan alat ukur mekanik.

Tangki pengawet berbentuk setengah bulat atau persegi panjang yang dilengkapi dengan tangki pengukur, untuk mengetahui banyaknya pelarut serta pompa vakum untuk menghisap udara dari bambu dan menekankan bahan pengawet ke buluh bambu. Alat lain yang diperlukan adalah kompresor, monometer, termometer, pengukur volume, aerometer dan gelas ukur untuk mengetahui konsentrasi bahan pengawet, alat pengukur kadar air dan timbangan.

Text Box:

Gambar –12: Alat sistem vacum pressure

Kapasitas besar (5 m3)

e).  Jenis bahan pengawet

Jenis bahan pengawet adalah sebagai berikut ;

No

Nama bahan pengawet

Bentuk formulasi         Organisme

Pemgawetan

1

2

3

4

5

6

CCB (tembaga sulfat, kalium dikromat, asam borat)CCB2 (tembaga sulfat, kalium dikromat, asam borat)

CCB3 (tembaga sulfat, kalium dikromat, asam borat)

CCB4 (tembaga sulfat, kalium dikromat, asam borat)

CCF (tembaga silikonfluorida, asam dikromat)

Celbor 63 PA (asam borat, Natrium tetraborat)

Impralit 16 SP  (asam borat, boraks, polibor. dekanol)

 

Bubuk 100%

Bhn aktif garam Bubuk 100%

Bhn aktif garam Bubuk 100%

Bhn aktif garam Bubuk 100%

Bhn aktif garam Bubuk 100%

Bhn aktif garam Bubuk 100%

Bhn aktif garam

Jamur, bubuk, rayapJamur, bubuk, rayap

Jamur, bubuk, rayap

Jamur, bubuk, rayap

Jamur, bubuk, rayap

Bubuk kayu kering

Rendaman dingin/vakum tekan Rendaman dingin/vakum tekan Rendaman dingin/vakum tekan Rendaman dingin/vakum tekan Rendaman dingin/vakum tekan Difusi, Rendaman dingin/vakum tekan,

Sumber : Brosur produk Sanpak,(2006)

Tabel  –  2 :  Beberapa bahan pengawet yang dapat digunakan

Retensi dan penembusan bahan pengawet dapat dilihat di tabel berikut;

Golongan

Bentuk/formulasi

Retensi (Kg/m3)

Penembusan

(%)

Di bawah atap

Di luar atap

CCB1

CCB2

CCB3

CCB4

CCF

Boron

1.  Bahan aktif garam2.  Formulasi

1.  Bahan aktif garam

2.  Formulasi

1.  Bahan aktif garam

2.  Formulasi

1.  Bahan aktif garam

2.  Formulasi

1.  Bahan aktif garam

2.  Formulasi

1.  Bahan aktif garam

6.4

8.4

8.0

8.2

8.0

8.0

8.2

8.4

6.0

6.0

8.0

9.1

11.6

11.4

11.3

11.0

11.0

11.2

11.6

8.6

8.6

11.6

100

100

100

100

100

100

100

100

100

100

100

Sumber : Barly (1999)

Tabel   – 3 ;  Besaran retensi dan penembusan bahan pengawet

Bahan yang umum digunakan oleh beberapa pengusaha pengawet bambu atau kayu saat ini adalah, Borax dan asam Borix dan dapat dibeli di beberapa toko kimia.

Bahan ini berbentuk tepung dan sulit larut dalam air sehngga pada waktu pelarutannya harus memerlukan perebusan pada temperatur air mendidih (100˚ C).

3).  Peralatan untuk pengawetan

a.  Alat keselamatan kerja

·         Sarung tangan karet

·         Untuk melindungi tangan dari gatal-gatal akibat

·         Bahan  pengawet

·         Pelindung mata

·         Untuk melindungi mata dari bahan pengawet

·         Sepatu karet

Untuk melindungi kaki dari gatal-gatal akibat

bahan pengawet

b.     Alat bantu

Alat bantu terdiri dari (lihat gambar atas)

a).    Gergaji, untuk  Memotong bambu jika diperlukan

b).    Sikat, untuk membersihkan bambu

c).    Selang air plastic untuk mengisi air

d).   Saringan untuk menyaring bahan pengawet,

e).   Batang besi untuk melubangi sekat bambu

f).    Batang kayu untuk alat pengaduk

g).   Ember plastik untuk tempat air dan mencampur larutan bahan pengawet

h)   Alat ukur Hidrometer skala 1000 – 1050 untuk mengukur kadar larutan pengawet

i).    Tempat bahan pengawet

2.13.  PENGERINGAN BAMBU

Bambu harus dikeringkan didalam ruangan yang kering supaya tidak mengganggu manusia atau binatang yang ada di sekitarnya. Penyimpanan untuk bambu yang sudah diawetkan dilakukan pada posisi bambu berbaring (horizontal) di tempat yang teduh terlindung dari matahari dan terlindung dari hujan supaya tidak melarutkan bahan pengawet.

Untuk bambu pelupuh, perlakuan setelah pengawetan sama dengan bambu utuh hanya posisinya dalam keadaan terbuka (tidak digulung) sehingga udara dapar mengalir disela-sela anyaman. Untuk pengeringan di ruangan terbuka karena alasan tempat atau ruang yang terbatas maka, sebelum bambu disimpan harus dipasang dahulu pengganjal dari batu/bata atau dudukan dari pasangan setinggi kurang lebih 20 cm. Kemudian ditutup dengan plastik  sehingga jika terjadi hujan, bambu yang disimpan terhindar dari genangan air.

Text Box:

b

a

a

Gambar – 13 : Pengeringan bambu  cara vertikal (a) dan di bawah ruangan beratap (b)

3. TEKNIK PENGOLAHAN BAMBU

3.1.  CARA MANUAL

a.   Membelah menjadi 2 bagian dapat   dilakukan dengan alat :

·   Golok atau kapak

·   Besi beton ǿ 10 mm yang diikatkan pada tiang bambu ǿ 7 – 8 cm

c.  Membelah menjadi 8 bagian

Peralatan :

·   Pisau bundar bermata 8

·   Arah pembelahan : dari samping (a) atau dari atas (b)

Bambu yang akan dipotong

Golok

Besi plat pembelah t = 5 mm

Bambu terbelah 4

(b)

Arah pembelahan

Bambu terbelah 8

(a)

Pisau bundar pembelah mata 8

b.   Membelah menjadi 4 bagian dapat dilakukan dengan alat :

Besi plat dalam bentuk silang t = 5 mm dan pemukul dari kayu atau besi yang berbentuk pipih

Besi pembelah ǿ 12 mm

Bambu terbelah 2

Bambu penopang besi pembelah

   1).  Membelah bambu

Gambar – 14 a,b,c ; Teknik membelah bambu

3.2. Pembuatan bilah atau pelupuh bambu

a.  Pembelahan   bambu  pada   salah   satu sisinya dilakukan dengan menggunakan kapak terutama pada bagian bukunya.

b.  Pembelahan selanjutnya dilakukan dengan

menggunakan sendok besi.

c.  Kemudian  pembelahan    dilanjutkan  dari ujung yang satu ke ujung lainnya samp[ai bagian bukunya terbelah tanpa menembus sisi yang lain.

d.  Pembukaan    bambu  sampai    menjadi lembaran dilakukan dengan tangan, dari ujung satu ke ujung lainnya

e. Proses  selanjutnya  dari lembaran yang sudah diratakan adalah membuang bagian dalam (dagingnya) karena bagian ini bagian paling lunak yang mudah terserang bubuk atau lapuk.

f.  Pembuangan    bagian    dalam   (daging)  bambu dengan menggunakan sendok besi.

5

Bagian yang sudah terbuang dagingnya  dagingnyaddagingnya(daging) harus dibuang  

Bambu sudah terbuka dan siap dibuang bagian lunaknya

e

Gambar – 15 (a,b,c,d,e dan f) ; Teknik pembuatan bilah cara tradisional

a

b

c

d

f

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3.   Pembuatan bilah dengan pisau bermata banyak

Alat ini digunakan untuk membuat bilah bambu ukuran kecil seperti untuk pembuatan sumpit, bilah untuk pembuatan anyaman dll.

Alat ini terbuat dari besi cor-an berbentuk bulat dengan diameter kkurang lebih 20 cm dengan mata pisau dapat berjumlah 2, 4, 8, 10 atau 12 sehingga penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan desain.

Penggunaan alat dilakukan dengan memukulkan pisau tersebut ke permukaan bambu sampai terbelah secara sempurna.

b

a

Gambar – 16 ;    a.  Mata pisau

b.  Produk  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cara semi masinal

Gambar – 17 ; Mata pisau

 

 

 

 

 

 

 

 

Alat ini digerakan dengan listrik dengan kapasitas produk 50 batang bambu/jam untuk dibelah menjadi beberapa bagian sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan.

 

        

3.4.    Alat pembuat bambu laminasi

 

a.    Bambu dan dibuat balok atau papan dengan beberapa cara yaitu dengan cara dibuat menjadi pelupuh terlebih dahulu kemudian di beri lem (perekat) dan dipres pada mesin pengepers.

 

 

 

 

b

a

Gambar – 18 ; ;Alat pembuat balok bambu (bambu  laminasi)

a.     Alat pemecah bambu (bamboo   crusher machine).

b.    Alat pengepres (system dingin) ukuran 60 x 120) cm.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.5. Jenis perekat (lem)

1).   Lem dengan system pres panas

Beberapa jenis perekat yang umum digunakan pada pembuatan bambu laminasi yaitu;

a.    Phenolic impregnated paper

b.    Liquid Phenol Formaldehyde Resin Adhesive

c.    Dynosol S-178

d.    Liquid Melamine Urea Formaldehyde Resin

e.    Liquid Phenol Formaldehyde Resin Adhesive S-190

f.      Urea Formaldehyde Adhesive (UA – 104)

g.    Phenol Formaldehyde Adhesive )PA – 302)

h.    Urea Formaldehyde Adhesive (UA – 125)

i.      Urea Formaldehyde Adehsive (UA – 104)

 

Pada umumnya jenis perekat tersebut digunakan dengan menggunakan pres   panas pada temperature tertentu sesuai dengan produk yang dihasilkan. 

2)   Aplikasi

      Aplikasi umum dari perekat ini adalah, untuk produksi plywood dengan kualitas exterior sesuai dengan spesifikasi plywood namun dapat juga digunakan untuk bambu lapis atau bambu balok. Lem perekat ini hanya digunakan dalam hot bonding. Penggunaannya harus dicampur dengan hardener yang sesuai dengan jenis lem yang digunakan.

3)   Spesifikasi

Bentuk fisik                               :  cairan berwarna merah kecoklatan

Kekenyalan pada temperatur 30º C :  70 – 110 cps

Kadar air zat padat pada 2h/120º     :  42 – 44%

PH pada 30º C                                  : 12.0 – 13.0

Berat  jenis pada  30º C                   : 1.175 – 1.200 

4)   Hardener

Hardener berupa tepung warna kelabu kecoklatan dan dapat disimpan agak lama jika tertutup baik di tempat yang sejuk dan kering. Hardener ini dikemas dalam karung plastik dengan berat bersihnya 25 kg.

5)   Komposisi campuran lem perekat

Phenol      =  250 kg

Hardener  =    75 kg

Tepung     =    25 kg

Air             = 10 kg

Kekentalan lem dapat dikontrol dengan penambahan banyak atau sedikitnya air.  Ini tergantung pada filternya (tepung) yang digunakan. Tepung dapat berupa tepung kelapa atau tepung terigu sampai 5% bagian berat.

6)   Metoda pengepresan

a.   Prepressing

Prepressing akan menghasilkan kualitas perekatan dan dapat mempersingkat hot presing cycle sebab pemeliharaan perekat dan pemuatan hot press lebih mudah.

Lay up time harus cukup singkat, untuk meyakinkan glue film pada assembled panel pertama masih mempunyai daya rekat sehingga dalam prepressing, gluenya dapat merekat pada lembaran kebalikannya.

Tekanan prepressing harus lebih rendah dari hot pressing. Tekanan yang paling sesuai berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan adalah 7 – 12 kg/cm2.

Lamanya prepressing tergantung pada kondidi pelaksanaannya, biasanya 10 – 15 menit.

b.  Tekanan hot pressing 

Tekanan optima tergantung pada berat jenis dari jenis-jenis bahan

yang dipakai.

Berat jenis dibawah 550 kg menggunakan tekanan 8 – 12 kg/cm2

Berat jenis di atas 550 kg menggunakan tekanan 12 – 16 kg/cm2

c.   Lama pengepresan

Untuk menghitung jumlah pressing time harus menambah waktu pengerasan yang di atas yaitu  waktu yang diperlukan untuk perjalanan panas dari plat press kepada glue line yang terjauh.

Penambahan waktu tersebut pada berbagai temperatur adalah sbb :

Temperatur press dalam   °C

   130

       120

    130

    140

Temperatur press dalam  °F

     120

       240

    260

    280

Basis pengerasan dalam menit

      7

       4

      3

     2

 

Waktu pengepresan dibandingkan dengan temperatur yang diharuskan dapat dilihat pada table berikut:

 

Jarak pada lem lain yang terjauh

                Temperatur plat press

 

120º

 

130º

 

140º

 

Kurang dari 5 mm

Kurang dari 10 mm

lebih dari 10 mm

 

 

1.0   mnt/mm

1.3   mnt/mm

1.5   mnt/mm

 

0.8   mnt/mm

1.1   mnt/mm

1.3   mnt/mm

 

0.6   mnt/mm

0.75 mnt/mm

1.0   mnt/mm

 

Kecepatan panas tergantung pada jenis bambu dan kadar airnya.

Daftar di atas hanya sebagai pembantu tetapi untuk lebih baiknya harus dilakukan percobaan-percobaan. Rekatifitas dari phenolic resin glue merosot dengan cepat dengan penurunan temperaturnya dan temperatur pada glue line yang paling dalam harus diukur sewaktu-waktu dengan memakai thermocouple, untuk mengecek apakah temperaturnya sudah mencapai nilai yang diinginkan.

 

2).  Lem dengan sistem pres dingin

Jenis le mini dikenal dengan  waterbased polymer-isocyanate

Perekat ini umumnya digunakan untuk kayu tetapi dapat juga digunakan untuk bambu dengan kualitas yang sama.

Teknologi perekat ini adalah polymer-isocyanate dengan sistem berbasis air (waterbased polymer isocyanate).

Perekat ini dibentuk untuk tahan terhadap air, panas dan berdaya lekat tinggi, oleh karena itu perekat ini dapat juga dipakai untuk pengepresan dengan sistim pres panas.

Perekat ini didesain untuk melekatkan kayu dengan kayu dan kayu dengan plastik atau baha selulosa lain seperti bambu dengan babmbu atau bambu dengan kayu.

Perekat ini idak hanya diperuntukan untuk dipakai di negara Jepang tetapi  juga untuk dipakai di negara Asia lainnya termasuk Indonesia serta  teknologinya sudah dilisensikan ke pada 14 perusahaan di 8 negara.

 

a.      Sifat (features)

a.Cepat kering

b.Tidak mengandung formaldehyde

c.Hemat

d.Berkekuatan tinggi

e.Tahan terhadap air dan panas.

 

b.  Sifat fisik

                      

Jenis/tipe

KR-7800

 

KR-134

 

KR-560

 

Warna

Putih cair

Putih cair

 

Putih cair

 

Kekentalan pada 25˚ C

 

60 ± 20 ps

 

100 ± 20 ps

 

150 ± 30 ps

 

Kepadatan

58 ±   3%

 

60 ±   3%

 

43 ±   3%

 

pH

7.5 ± 1.0

 

7.5 ± 1.0

 

7.5 ± 1.0

 

 

 

 

 

Sifat pengeleman pada beberapa jenis kayu

                                                                             

  Tipe kayu

Ash, birch, alder

jati, kalin, Sungkai           Oak merah dll

Kayu keras                                                       dan kayu lunak

Kayu karet, ramin dan Kayu lunak

 

Main features

 

keawetannya tinggi

 

mudah pengerjaannya

 

harga murah

 

 

Waktu pres                                                                                 pendek

waktu pres pendek

 

 

 

Jenis lem ini banyak digunakan untuk pembuatan bambu komposit karena tidak banyak menggunakan bahan bakar dibandingkan dengan lem dengan sistem pengepresan panas.

Dengan menggunakan lem ini harga produk jadinya menjadi murah tetapi dari segi kekompakan produk masih kurang baik dibandingkan dengan lem untuk pres panas.

Banyak produk lem seperti ini yang dijual di pasaran (toko bahan bangunan) hanya waktu pengeringan (setting time)nya cukup lama (kurang lebih 24 jam) sehingga. untuk produk yang bersifat massal kurang cocok.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.  PRODUK BAMBU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.1.  Produk dari bahan bambu utuh

4.1.  Produk dari bambu utuh

 

Produk dari bambu utuh umumnya digunakan pada pembuatan furnitur (perabotan rumah tangga) seperti tempat tidur, kursi, meja dll.

Produk ini umumnya dibuat oleh pengrajin rumahan yang diperuntukan konsumen lokal sedangkan untuk ekspor produk dibuat oleh pabrik dengan para pembuatnya adalah tukang setempat.

Text Box:

Text Box:

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar – 19 ; Produk dari bambu dengan bahan baku bulat (utuh)

 

 

 

Sebagai pengikat digunakan rotan karena selain kuat juga sambungan akan terlihat rapih. Hanya kelemahan dari pengikat rotan adalah jika jika tidak terawat mudah lepas (lihat gambar – 24 ) misalnya produk disimpan di udara terbuka (teras rumah).      . 

 

4.2.    Produk dari bahan bambu olahan

 

Bambu dibuat menjadi bilah dengan ukuran disesuaikan dengan produk yang dihasilkan.  

Produk dari bahan bambu olahan  ini dibagi dalam dua macam yaitu, bamboo olahan tanpa dengan menggunakan perekathan  umumnya merupakan peralatan rumah tangga (tempat makanan, perhiasan lampu, lampion, keranjang buah-buahan dll.

Beberapa produk dari bambu olahan adalah sebagai berikut;

 SHAPE  \* MERGEFORMAT

PRODUK KERAJINAN RAKYAT (TRADISIONAL)

Gambar – 20 : Jenis produk bambu untuk kerajinan rakyat

4.3.   Produk dari bambu secara masinal (bambu komposit)

 

Bambu komposit adalah produk berupa panel balok atau papan yang merupakan gabungan dengan bahan lain yang proses produksinya melalui teknik pengempaan (pres dingin atau panas) dengan menggunakan perekat sebagai media pengikatnya.

Jenis pengikat untuk bambu komposit adalah lem kimia (resin) atau semen.

Beberapa produk bambu komposit adalah;

a.   Bambu ferro semen : Bambu ferro semen adalah bambu anyaman yang ditutup dengan adukan semen. Penggunaannya untuk dinding, lantai atau untuk bak penampung air.

b.   Bambu  Cement  bonded board : Bahan bangunan ini berbentuk panel dengan tebal bervariasi antara 2 sampai 10 cm tergantung dari penggunaannya. Bahan baku bambu diolah dahulu menjadi serat kemudian dijadikan bubur. Sebagai perekat digunakan semen dengan proses pencetakan umumnya cara dingin.

d.  Bambu  laminasi atau Plyboo : Seperti juga bambu cement bonded board, bambu laminasi merupakan lembaran panel dengan ukuran tebal antara 2 sampai 20 cm tergantung jenis produk (balok atau papan).

      Perbedaannya adalah pada penggunaan bahan pengikat dimana bambu laminasi menggunakan bahan resin (urea atau Phenol formaldehyde). Bahan baku bambu dapat diolah dahulu menjadi bubur atau beruba bilah yang diatur sedemikian rupa menjadi anyaman. Pengepresan harus dilakukan dengan sistem pres panas (hot press). Harga bahan ini memang lebih mahal tetapi ditinjau dari segi kualitas dan kemudahan pemakaiannya   lebih  menguntungkan,  dibandingkan  dengan bamboo cement bonded board.

      Pada prinsipnya pembuatan bambu komposit adalah sebagai berikut;

Bambu Segar

Mesin pembelah bambu

Mesin pemecah bambu

Zephyr (pelupuh) bambu

Mesin pencampur perekat

Kempa

Dingin/panas   

Pemotongan

                        Produk bambu laminasi dapat berupa furnitur atau bangunan rumah            4.4.   Produk bambu untuk keperluan lain Beberapa produk lain dari bambu adalah :1)        Kerajinan tangan seperti patung atau ukir-ukiran2)        Makanan berupa kerupuk atau rebung dan minuman seperti anggur bambu3)        Obat4)        Kain untuk bahan baju atau pembungkus (jok) kursi atau mobil.      4.5.   Bambu untuk konstruksi bangunan                                                               4.3.   PEMELIHARAAN  Seperti juga bahan bangunan lain maka bambu lebih banyak memerlukan perhatian dalam perawatannya. Bambu merupakan bahan yang sangat rentan terhadap hama perusak kayu seperti rayap dan bubuk sehingga walaupun sudah diawetkan masih perlu diperhatikan lokasi penempatan dan kebersihannya. Lokasi penempatan bahan berbasis bambu harus diletakan di tempat yang kering dan tidak langsung menyentuh tanah serta jauh dari kegiatan yang menggunakan api.Untuk bangunan yang terbuat dari bambu yang perlu diperhatikan adalah;1.    Bangunan rumah dengan ikatan penguat tali ijuk dan pasak kayu atau bambu pengontolannya harus dilakukan minimal dua tahun sekali. Hal ini perlu dilakukan karena umumnya akan terjadi perubahan kekuatan atau kekencangan ikatan antara ijuk dan bambu.Jika terjadi perubahan tersebut maka ikatan pada sambungan perlu diperkencang lagi. Hal ini berlaku juga untuk sambungan yang terbuat dari logam. 2.    Pada sudut-sudut bangunan baik di dinding ataun di langit-langit harus dijaga kebersihannya karena disana tempat bersarangnya laba-laba dan serangga lain. Desain yang indah jika di bagian tersebut kotor selain merusak keindahan juga memberi pelkuang hama perusak berkembang biak.3.        Jika terjadi pelapukan sebaiknya di potong dan diganti dengan bambu baru dan jika terserang oleh rayap atau bubuk maka harus di buang bagian yang tgerserang dan diganti dengan yang baru tetapi dijaga suoaya pada membuang bagian tersebut tidak jatuh berserakan di tempat sehingga akan menular pada bagian yang lain. Pemotongan dapat dilakukan ditempat dan pada bagian yang masih baik dapat dipulas dengan minyak tanah atau bahan pengawet yang banyak dijual di toko bangunan. Lebih baik lagi apabila dilakukan pengecatan ulang setelah bangunan berdiri 4 – 5 tahun sehingga permukaan bambu terjaga dari kerusakan. Pengecatan dapat dilakukan dengan cat pengawet yang ada di pasar/took.            KESIMPULAN Beberapa kesimpulan awal adalah;1.    Bambu merupakan bahan yang ramah lingkungan (green materials) yang dapat digunakan sebagai pengganti kayu karena, mudah diperbarukan (renewable), mudah diperbaiki (restorative) dan mudah dibentuk (versatile).2.    Potensi bambu sangat banyak dan hampir di seluruh wilayah Indonesia ada dan sudah familiar dengan masyarakat sejak nenek moyang kita ada.3.    Harganya murah dan tidak memerlukan peralatan yang mahal dan tenaga kerja dengan skill tinggi.4.    Dengan teknologi yang maju sekarang ini, kelemahan bambu sudah dapat di atasi misalnya dengan pengawetan atau menjadikan produk sebagai produk bambu komposit.5.    Produk balok komposit tidak menghasilkan limbah (zero waste industrial) karena tidak ada bahan yang terbuang.6.    Kekuatan bambu komposit sudah teruji dan dapat disetarakan dengan kayu konstruksi. DAFTAR PUSTAKA 1.    British Standard, Code of Practice 112 (1971) 2.    Indian Standard 6874 (1973), Methods of Tests for Round Bamboos 3.    Sulthoni A., 1983, Petunjuk Ilmiah Pengawetan Bambu Tradisional dengan perendaman Dalam Air, International Development Research Center Ottawa, Canada.4.    Morisco, 1996 ; Bambu sebagai Bahan Rekayasa, Pidato Pengukuhan Jabatan Lektor Kepala Madya dalam Bidang Ilmu Teknik Sipil, Fakultas Teknik UGM.5.    ISO 22156 (2004) Bamboo – Structure Design and ISO 22157-1: 2004 (E) Bamboo – Determination of physical and mechanical properties – Part 1: Requirements and Part 2: Laboratory manual. INBAR – 2004.      

Finishing

Gambar – 21 : Langkah – langkah pembuatan bambu komposit 

Gambar – 22 : Produk bambu laminasi bentuk papan dan balok

Gambar – 23 ; Tempat TV dari bamboo laminasi

Gambar – 25 : Kuda-kuda dari bambu dengan bentangan 12 m (pabrik)

Gambar – 29 :   Rumah bambu plester di Kolumbia (Amerika Latin)

Gambar – 24 : Rumah bambu tradisional  di NTB    dan NTT

024ereksi
finishing 002

Gambar – 26 ;  Pemasangan  bambu gedek

Gambar – 27 : Rumah dari bambu plester bahan gedek

Gambar – 28 : Rumah dari bambu plester bahan pelupuh

3 Responses to “Makalah”

  1. lintang Says:

    Wah ,info ini yang selama ini saya cari

  2. Yulianto PK Says:

    Berapa harga per meter kubik bambu laminasi ?

  3. aiizta Says:

    adakah cara pembuatan sumpit dari bambu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: