Abdul Khafidz

Arsitektur Rumah Bambu, kenapa minder ?

Oleh Abdul Khafidz 

Sumber: http://bebas-berilmu.blogspot.com/2012/05  

Puri Cinere dengan material bambu, arsitek Yu Sing

Suatu ketika saya bersama teman yang tetangga saya juga, sedang melaju dengan kendaraan kami di daerah Bojong, Muntilan, Jawa Tengah. Sore itu sore yang indah. Kami melewati sawah-sawah yang indah di kaki gunung Merapi. Hmm …betapa kaya negeriku dengan pemandangan yang sangat eksotis. Tiba-tiba saya menghentikan kendaraan roda dua yang membawa kami.

“Lho, kenapa kok berhenti ?” tanya temanku keheran-heranan.

Tanpa berkata-kata, seraya menunjuk sesuatu seolah-olah saya menjawab pertanyaan temanku itu. Apa yang saya tunjuk ? Ternyata sebuah bangunan dua lantai terpampang di hadapan kami. Lho apa yang aneh? Ya, menurut saya bangunan dua lantai itu sangat menakjubkan bagi saya sebagai seorang arsitek. Bangunan tersebut keseluruhannya terbuat dari ‘bahan bangunan masa depan’, bambu. Apa Anda terbayang ? Bangunan dua lantai semuanya terbuat dari bambu. Luar biasa ! Yang terbayang dalam benak Anda bangunan dari bambu pasti rumah-rumah makan Sunda yang biasa hanya terdiri satu lantai.

“Itu bangunan apa ?” tanyaku kepada temanku tanpa menjawab pertanyaan temanku dan tanpa memperdulikan temanku masih dalam kebingungan.

“Ooo.. itu.., itu khan bangunan penjaga ternak ayam,” jawab temanku masih setengah keheranan.

“Canggih !,” kataku membuat temanku makin bingung.

“Apanya yang canggih ? lha wong itu khan cuma rumah penjaga ternak ayam…” tanya temanku mulai mengerti kenapa saya menghentikan kendaraan kami. Rupanya dari mimik wajahnya dia mulai mengerti. Dia sepertinya mulai ingat bahwa dia sedang bersama seorang arsitek.

“Ya canggih lah …. semua bahan bangunan rumah itu terbuat dari bambu dengan struktur konstruksi dua lantai. Disamping itu bahan dinding dan lantai juga terbuat dari bambu. Bambu adalah bahan bangunan masa depan, tapi sayang bangsa Indonesia sendirilah yang meremehkan bambu,” jelasku seperti seorang dosen.

Bambu, bagi orang Indonesia sering disepelekan. Bambu di anggap materialnya “wong kere”. Bahan bangunan bagi orang yang tidak mampu membeli batu bata, semen, genteng dan lain-lain yang relatif mahal.
Sedangkan rumah adalah menunjukkan status sosial seseorang, gengsi seseorang. Maka hanya orang miskinlah yang dianggap yang mampu membeli bambu.

Hal ini semua tercermin dengan adanya hutan bambu tidak dilindungi oleh Dinas Kehutanan. Yang dilindungi hanya hutan jati dan kayu-kayu yang relatif mahal harganya karena makin habisnya hutan tropis di negara kita yang tercinta ini. Disamping itu makin banyak hutan bambu di daerah Jawa Barat yang ditebas habis untuk pemukiman dengan makin maraknya bisnis property. Padahal suku Sunda dahulu terkenal identik dengan bambu. Sampai-sampai ada pepatah mereka “Lamun hayang numpurkeun kahirupan urang sunda, tumpurkeun heula wae tangkal awina nu aya di sabu deureunana” yang artinya : ” jika ingin menghilangkan suku sunda, maka lebih dahulu harus menghancurkan hutan bambu yang mengelilinginya”.

Ironisnya, para ahli asing berpendapat bahwa bambu merupakan material masa depan yang berpotensi menggantikan kayu karena makin menipisnya hutan tropis yang merupakan penghasil kayu yang utama untuk saat ini. Di tangan para ilmuwan inilah bambu menjadi suatu yang sangat bernilai dan menunjukkan bahwa pemakainya adalah orang yang berfikiran maju. Orang yang mempunyai intelektual tinggi, karena berwawasan lingkungan. Sejumlah riset telah dilakukan untuk mengetahui lebih dalam kegunaan bambu dan mengatasi kelemahan-kelemahannya.

Ada banyak kelebihan bambu, tapi akan saya sebutkan di sini secara global saja. Untuk membahasnya lebih detail tentang kelebihan-kelebihannya perlu menghabiskan tulisan ber lembar-lembar.

Diantaranya adalah bambu dapat cepat tumbuh. Bambu yang mencapai usia lima tahun adalah bambu yang siap tebang. Dengan demikian diperhitungkan dapat menjadi bahan bangunan pengganti kayu. Dimana kebutuhan kayu akan meningkat terus selaras dengan meningkatnya populasi manusia di planet bumi ini.

Kemudian dengan mengembangkan bambu, sebenarnya kita juga melestarikan hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia, karena berkurangnya penebangan hutan bambu.

Lalu dengan masa tumbuh yang cepat, maka bambu akan mempunyai harga yang relatif murah dibandingkan dengan harga kayu.

Kelebihan lain apabila dibuat untuk konstruksi bangunan, bambu terkenal dengan kelenturannya dan beratnya yang ringan sehingga menjadikan konstruksi bangunan yang tahan terhadap gempa.

Bambu merupakan tanaman yang sangat fleksibel, mudah menyesuaikan diri dengan kondisi tanah dan cuaca yang ada. Dari ratusan jenis yang dikenal di dunia ini, ada yang tumbuh di daerah yang sangat kering sampai yang sangat lembab, ada yang tumbuh pada tinggi permukaan laut sampai dengan 3’800 mdpl. Bambu bukan kayu, melainkan sejenis rumput liar yang berkembang biak tanpa memiliki tumbuhan atau bunga yang bersifat betina dan jantan. Akar rimpang yang berbentuk kelompok atau batang menjalar memungkinkan berkembang biak.

Bambu sebagai hasil tumbuhan rumput2 an merupakan sumber kekayaan alam yang mengikuti peredaran alam dengan rantai bahan yang tidak mengalami perubahan (transformasi) yang mempengaruhi keseimbangan keadaan entropi maupun peredaran karbondioksida (CO2). Sebagai bahan bangunan, bambu dapat diproses dan dikerjakan dengan mudah, dengan menggunakan energi sedikit dan akhirnya dapat dimusnahkan (dibakar atau dibusukkan) tanpa merusak lingkungan.

Nah, itu baru sedikit kelebihan-kelebihan bambu yang saya tuliskan di sini. Masih banyak lagi kelebihan-kelebihan lainnya. Dan sungguh sangat disayangkan, seharusnya ilmuwan-ilmuwan dari Indonesialah yang mengembangkan bambu, karena bambu banyak tumbuh di Indonesia. Tetapi justru orang-orang asing lah yang banyak menelitinya. Sepertinya ini sudah menjadi “adat istiadat” orang Indonesia yang tidak perduli dan tidak tahu cara bersyukur dengan kekayaan alam yang telah Allah Subhana wa ta’ala berikan.

Mereka akan menyesal dan kalang kabut ketika orang lain sudah mulai merambah miliknya tanpa mereka sadari.

Coba simak ini : Pertambangan Freeport telah mengasilkan 7,3 JUTA ton tembaga dan 724,7 JUTA ton emas. Saya mencoba meng-uangkan jumlah tersebut dengan harga per gram emas sekarang, saya anggap Rp. 300.000. dikali 724,7 JUTA ton emas/ 724.700.000.000.000 Gram dikali Rp 300.000. = Rp.217.410.000.000.000.000.000 Rupiah!!!!! ada yang bisa bantu saya cara baca nilai tersebut?

Tapi ketahuilah Indonesia hanya mendapatkan 1 % saja dari nilai tersebut. Yang 99% untuk Amerika. Hmm … apakah kita mau mengulang kembali hal tersebut ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: