Rita Laksmitasari

Rumah Bambu

Oleh: Rita Laksmitasari, Direktur Mitra Bangun Sekawan

Sumber: http://property.okezone.com/  17 Februari 2012  

Rumah Dengan Atap Bambu (Foto: dok.Rita Laksmitasari)

RUMAH bambu. Hemm… beranikah Anda menggunakan bambu sebagai material rumah? Mulai dari tiang struktur, kuda-kuda, gording, kasau, reng, dan dinding. Tentu akan Anda pikirkan berulang kali, tentang kekuatan dan keawetannya. Sebenarnya bambu termasuk material yang cukup kuat dan lentur sehingga cocok untuk material konstruksi bangunan.

Bambu termasuk salah satu tanaman khas Indonesia, jenis rumput-rumputan yang berongga dan beruas pada batangnya. Waktu pertumbuhannya paling cepat, karena memiliki rhizome-dependen unik, yaitu dalam sehari bambu dapat tumbuh sepanjang 60 sentimeter (cm) tergantung dari iklim dan kondisi tanah. Diperkirakan, terdapat 159 spesies bambu, dari 1.250 jenis bambu yang terdapat di dunia, tersebar di seluruh Indonesia. Kita dapat menjumpai tanaman bambu misalnya di Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatra, Maluku, dan Papua.

Selain digunakan sebagai pengobatan, instrumen musik, kerajinan, kuliner, bambu juga dapat digunakan untuk konstruksi yang baik. Beberapa arsitek sudah menggunakan bambu sebagai material struktur yang kuat, karena bambu memiliki serat lebih elastis dan liat. Dengan spesifikasi bambu yang demikian, maka bambu sangat baik menahan beban tarik, tekan, geser, dan tekuk.

Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) meneliti dan menemukan fakta bahwa kuat tekan bambu yang berkualitas sama dengan kayu, bahkan kuat tariknya lebih baik daripada kayu. Tentu bambu sebagai material konstruksi memiliki kelebihan, yakni mudah digunakan dan murah. Cara penyambungannya cukup dengan baut atau dapat menggunakan pengikat ijuk.

Material ini sangat lentur dan dapat dengan mudah kita bentuk sesuai dengan keinginan. Tetapi material ini juga memiliki kekurangan yaitu memiliki nilai keawetan terbatas, di dalam bambu terdapat kanji atau serbuk bambu yang sangat disukai rayap. Kita juga perlu memperhatikan mutu bambu, yang biasanya dipengaruhi oleh masa potong bambu, perawatan, pengeringan bambu, dan pengawetan.

Beberapa daerah di Indonesia telah memiliki patokan waktu pemotongan batang bambu agar mendapatkan kualitas bambu yang baik. Bila tidak menggunakan patokan waktu tersebut, maka bambu tidak awet. Selain perlu memperhatikan masa potong bambu, bambu juga perlu diawetkan.

Banyak cara pengawetan bambu, ada cara tradisional dengan direndam air atau lumpur, tetapi ada juga yang direndam menggunakan bahan pengawet kimia. Bahan kimia cair dibiarkan masuk ke dalam pori-pori bambu dan dibiarkan sehingga cairan mengalir.

Konstruksi Bambu

Pengaruh gempa terhadap struktur bangunan secara vertikal dan horizontal, yakni terjadi gerakan yang terus menerus dengan intensitas kuat, menyebabkan sambungan antara elemen struktur bangunan akan mudah lepas bahkan menjadi patah. Sambungan yang lepas akan terjadi bila jenis sambungan tersebut tidak bertaut dengan baik. Tetapi sambungan yang sangat kuat tautannya, pada saat terjadi gempa, tidak memungkinkan sambungan tersebut bergerak mengikuti gerakan gempa, akhirnya terjadi patahan pada titik sambungan.

Lebih baik, sambungan berupa tautan yang kuat, tetapi pada saat ada gerakan gempa, sambungan tersebut dapat mengikuti akibat dari gerakan gempa. Sambungan ini dapat menggunakan baut 12 mm yang menciptakan konstruksi yang tidak kaku sehingga tahan terhadap gempa.
Konstruksi akan bergerak mengukuti arah getar gempa. Apalagi bambu merupakan material yang memiliki bobot ringan sehingga berat keseluruhan struktur tidaklah besar. Selain baut, sambungan material bambu dapat juga menggunakan pasak yang diikat dengan ijuk. Pengikat rotan dapat digunakan untuk produk interior.

Bambu sebagai kolom struktur, lebih baik tidak langsung bersentuhan dengan tanah. Tiang bambu berdiri di atas fondasi setempat atau umpak. Fondasi dapat dibuat menggunakan material beton umpak atau diletakkan di atas batu.

Jenis bambu petung berdiameter 14-15 cm digunakan untuk kolom struktur, sedangkan kuda-kuda menggunakan jenis bambu gombong atau bambu andong berdiameter 12 cm. Diameter 10 cm jenis bambu legi digunakan untuk gording. Diameter yang lebih kecil lagi yaitu enam cm jenis bambu tali atau bambu apus dapat digunakan untuk kasau dan reng.

Atap Sirap Bambu
Bagaimana bila bambu digunakan sebagai material penutup atap? Bambu yang digunakan adalah bambu tua yang dipotong pada ruasnya, kira kira 40 cm. Potongan bambu dibelah memanjang selebar empat cm, kemudian diruncingkan pada salah satu sisinya. Pada punggung bilah bambu tersebut disayat memanjang, seperti lidah, yang berfungsi sebagai penjepit antara bilah bilah bambu dengan batang reng bambu.

Susunan bilah-bilah bambu ini disusun rapi berjajar sehingga menjadi satu lajur penutup atap sepanjang bidang atap yang ada. Selanjutnya lajur penutup atap ini dirangkai dengan lajur penutup atap lainnya sampai memenuhi seluruh bidang atap. Seluruh bidang atap sudah ditutup menggunakan lajur-lajur penutup atap, dan perlu ada pengulangan penutupan seluruh bidang atap, sehingga seluruh permukaan atap ditutup berlapis-lapis, sampai enam lapis sirap bambu.

Material penutup bambu ini cukup kuat terhadap cuaca. Data digunakan untuk atap rumah tinggal, dapur, lumbung padi, bahkan bangunan serba guna. Selain memberikan kesan eksotik, tradisional, kuat, dan tahan lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: