Jawa Barat

mKabupaten Bogor

Industri Kerajinan Bambu Andalan Desa Sukasari

Sumber:http://informasi-bogor.com/  22 Mei 2012 

KETERSEDIAAN pohon bambu yang banyak ditemui di wilayah Kecamatan Rumpin secara tidak langsung menjadi salah satu barometer yang tidak dapat dilepaskan dalam sektor kerajinan warganya.

Salah satunya adalah usaha kerajinan pembuatan tusuk sate dan bilik bambu yang terdapat di Desa Sukasari. Usaha ini sudah dimulai banyak dilakukan sejak puluhan tahun silam dan kini semakin berkembang menjadi salah satu ikon wilayah Rumpin secara keseluruhan.

“Sebetulnya usaha ini sudah ada sejak lama. Seperti usaha pembuatan bilik yang merupakan usaha turun temurun dari jaman dahulu kala yang bersentra di wilayah RT 5 dan 7,” kata Kepala Desa Sukasari, Encep Dulmuis.

Pohon bambu yang batangnya kuat dan sangat elastis, rupanya menjadi pilihan utama para penduduk lokal yang berprofesi sebagai pengrajin untuk menyulap bambu-bambu tersebut menjadi sebuah benda yang bermanfaat seperti bilik, kerai, meja, dan kursi.

“Kami menghasilkan bilik dengan motif batik, kere, kursi, dan meja. Sudah dua tahun saya menggeluti bisnis ini, melanjutkan bisnis keluarga, tadinya ayah saya yang bisnis bambu ini,” jelas Suhrowadi.

Menurutnya, untuk mendapatkan bambu sebagai bahan dasar utama tidaklah sulit. “Didaerah sini banyak pohon bambu, jadi ga sulit dapetnya, yang agak ribet ngangkutnya aja ke mobil pas mau dibawa,” ungkap Suhrowadi saat ditemui kios tempat ia berjualan.

Untuk omset perharinya, sambung Away begitu ia kerap disapa, apabila kondisi berjualan sedang bagus, sehari bisa mendapatkan omset sebesar Rp 500.000 rupiah. “Klo Bilik biasa kita jual Rp 5.000 permeter, tapi yang motif batik dijual Rp 25.000 permeter, kursi dan meja harganya disesuaikan, biasanya ada yang mesen juga mas,” ungkapnya.

Sedangkan untuk usaha kerajinan tusuk sate, diakui Encep, juga sudah ada sejak dahulu namun baru mengalami perkembangan sejak tahun 2008 silam. Namun sayang, belakangan ini sejumlah pengrajin tusuk sate di Kecamatan Rumpin, terancam gulung tikar. Pasalnya, mereka kesulitan mendapatkan bambu sebagai bahan baku. “Di Rumpin sudah susah nyari bambu tua untuk dijadikan tusuk sate,” ujar Ulis (36), salah seorang pengrajin.

Padahal, setiap pengrajin hanya membutuhkan lima hingga sepuluh batang bambu dalam satu minggu. “Mau tidak mau, biaya produksi bertambah. Akibatnya, tak sedikit pengrajin yang menstop produksinya,” katanya.

Maka dari itu, solusi yang bisa diambil untuk mengatasi kendala tersebut adalah keberadaan “bapak angkat” sebagai penopang permodalan, guna meningkatkan produksi dan kesejahteraaannya. Karena, keberadaannya, selain sebagai salah satu sumber ekonomi, juga bisa menjadi lapangan pekerjaan.

Pasalnya, selain bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, terutama kaum ibu-ibu. Pekerjaan ini juga bisa menjadi bisnis yang menguntungkan. Karena, untuk membuat tusuk sate ini tidaklah sulit, dan yang diperlukan hanyalah kemauan dan ketekunan saja. “Bahkan, hanya dengan modal sebilah bambu dipotong-potong berukuran. Kemudian dibelah tipis-tipis seukuran tusuk sate, lalu dibersihkan,” tuturnya.

Sementara itu, sektor usaha lain yang kini sedang mengalami peningkatan dan menjadi salah satu indikator dalam perekonomian warga Desa Sukasari dapat terlihat dari usaha pembidingan atau mute yang dilakukan hampir setiap ibu-ibu rumah tangga di wilayah tersebut.

“Usaha itu dilakukan secara maklon yang diambil dari perusahaan-perusahaan garment yang ada di sekitarnya. Umumnya, mereka yang bekerja itu adalah kaum ibu dan perempuan tapi ada juga kaum laki-laki tapi hanya untuk sekadar membantu para istrinya saja,” ungkap Encep.

Keberadaan usaha kerajinan tersebut memang memberikan dampak yang positif bagi perekonomian warga. Tingkat perekonomian warga Bitung Sari sendiri rata-rata merupakan warga kelas menengah. (aim)***

Kabupaten Garut

Kerajinan Bambu 

Industri ini berada di sentra-sentra yang tumbuh secara alamiah turun temurun dengan keterampilan dan keahlian yang berasal dari generasi sebelumnya. Industri ini secara alamiah dapat berkembang karena beberapa faktor :

  • Tersedianya bambu dihampir semua wilayah Kabupaten Garut;
  • Hasil produksi diperlukan oleh masyarakat luas untuk peralatan rumah tangga.

Ketersediaan bambu bambu di Garut setiap tahun cukup besar. Dari data terakhir, tercatat luas kebun bambu sebesar 323,10 Ha dengan hasil sebesar 726.492,00 ton. Produk Anyaman Bambu ini masih terbatas pada fungsi/kegunaan saja, sedangkan variasi produk anyaman ini masih sangat dimungkinkan dalam rangka peningkatan kualitas sekaligus peningkatan pendapatan para perajinnya. Potensi industri ini adalah :

Dalam rangka inovasi produk, telah diberikan pelatihan-pelatihan di sentra – sentra industri ini antara lain : pelatihan desain, pelatihan mengukir, pembuatan produk baru. Disamping itu juga telah diupayakan bantuan peralatan produksi. Kemampuan sebagian kelompok pengrajin saat ini cukup dapat diperhitungkan di tingkat nasional. Salah satu kelompok pengrajin Anyaman Bambu telah mampu mewakili Indonesia pada even Internasional di Korea beberapa waktu yang lalu.

Kabupaten Purwakarta

Petani Bambu Jatiluhur Tersingkir di Kampung Sendiri

Sumber:http://pawanglele.blogspot.com/2011/11/   

JATILUHUR bukan semata soal waduk. Di seberang waduk yang duduk sekitar sembilan kilometer dari pusat Kab. Purwakarta, Jawa Barat, punya hutan bambu. Kawasan pepohonan bambu dimaksud bagian kekayaan tanah air yang memiliki sekitar 200 jenis bambu.

Hutan bambu terletak di Sukasari, salah satu kecamatan yang beberapa tahun lalu terisolir. Tak pelak karena sebelum akses jalan darat dirintis, Sukasari hanya dapat dijangkau dengan menyeberangi waduk Jatiluhur berjam-jam.

Kini, tantangan bagi Pemkab Purwakarta guna mempercepat pengentasan kemiskinan di Sukasari, tak lain dengan mengoptimalkan potensi tak kurang 20 ribu hektar hutan bambu sebagai katrol ekonomi. Warga setempat memang selama ini hanya menekuni budidaya bambu di lahan Perhutani. Mereka minim lahan sendiri dan tak terbiasa dengan komiditas lain.

Salah satu desa yang masyarakat nyaris total bergantung budidaya bambu yakni Kutamanah, pusat Kec. Sukasari. “Kutamanah dulu hanya ada belukar. Kami pindahan beberapa kampung sekitar dua kilometer dari sini. Kami pindah 1971 karena desa ditenggelamkan waduk,” ungkap Omo, 65 tahun, sesepuh kampung Ciputat, Sukamanah.

Di Sukamah terdapat tiga blok hutan bambu yang totalnya 385 hektar. Data Resort Pemangkuan Hutan Parang Gombong yang membawahi kawasan hutan setempat menyebutkan, di sini hidup 118 kepala keluarga petani bambu. “Masyarakat memang diizinkan menanam bambu di lahan milik Perhutani,” jelas Kepala Resort Pemangkuan Hutan Parang Gombong Andi Kusnadi.

Omo dan Dudung, ketua RT 12/05 Desa Sukamanah, menceritakan, warga mengembangkan budidaya bambu bukan tanpa alasan. Awalnya, warga menanam tumbuhan menjulang ini untuk kebutuhan pembuatan rumah sendiri, walaupun pihak Perhutani melarang. Belakangan masyarakat serius berbudidaya bambu karena penanganannya mudah, nyaris tanpa biaya operasional khusus, dan cepat menghasilkan dibanding tanaman kayu –mulai dipanen setelah lima tahun.

“Dahulu warga menanam bambu sembunyi-sembunyi. Hasilnya sekarang ada 40 ribu lebih rumpun bambu, sebagian besar di Ciputat Wetan, yakni sekitar 22 ribu rumpun,” tandas Dudung yang juga pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan Bambu Jaya, Sukamanah.

Menggambarkan manfaat ekonomi hutan bambu, Dudung mengatakan satu keluarga yang memiliki 100 rumpun bambu siap panen dapat mengantongi sekitar Rp 200 ribu per bulan. Hasil ini dari penjualan sebatang setiap rumpun dengan harga Rp 2.000/batang.

Tak besar memang, namun warga masih mengantongi pendapatan tambahan dengan menjadi pekerja saat pemanenan dan pengangkutan bambu. Dari sini seorang kuli dapat penghasilan hingga Rp 100 ribu setiap hari.

Angka kecil hasil penjualan bambu di atas bukan sama sekali tidak menarik. Bagi pelaku usaha skala menengah ke atas, budidaya tanaman yang kebanyakan untuk bahan bangunan di Jabodetabek ini tetap menggiurkan. Betapa tidak, aliran pemasukan pengusaha tersebut mudah dihitung dengan kepemilikan ribuan rumpun bambu.

Inilah salah satu ironi masyarakat kampung bambu di Jatiluhur. Kini, ratusan ribu rumpun bambu tak lagi dimiliki warga setempat. Dengan kata lain, pengusaha berduit dari kota, telah menjadi penguasa baru di kawasan hutan bambu. Sementara warga desa satu demi satu menjadi penonton.

“Ada keluarga miskin yang cuma punya 20 rumpun, sementara yang kaya miliki lima ribu rumpun. Bahkan ada yang puluhan ribu rumpun,” ujar Dudung.
Pekerjaan rumah bagi dinas terkait Pemkab Purwakarta –sebelum petani bambu benar-benar tergusur dari kampung halamannya– yakni megintensifkan pelaksanaan rencana program pariwisata kampung bambu Jatiluhur. Toh, ini memperkuat kepariwisataan waduk Ir. H. Juanda.

Dan, satu lagi, terkait dengan program pariwisata dimaksud, pemerintahan setempat wajib serius membuka akses pasar bagi kerajinan bambu warga Sukasari dan sekitarnya. Jangan hanya di tataran upacara. “Bukan tidak butuh pelatihan pembuatan kerajinan bambu namun lebih penting dibukakakan pasarnya. Ini yang dilupakan pemerintah Purwakarta,” Dudung prihatin.*

Kabupaten Sumedang

KEANEKARAGAMAN JENIS BAMBU DI KABUPATEN SUMEDANG JAWA BARAT¹

Oleh: Budi Irawan, Sri Rejeki Rahayuningsih, Joko Kusmoro²

Download file:Keanekaragaman Bambu Jabar 

ABSTRAK

Studi taksonomi terhadap jenis-jenis bambu di Kabupaten Sumedang telah dilakukan berdasarkan pengamatan karakter Morfologi dan Anatomi Epidermis buluh. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yang meliputi eksplorasi, koleksi, preparasi, serta pengamatan morfologi dan anatomi epidermis buluh. Hasil penelitian di Kabupaten Sumedang diperoleh 16 jenis (spesies) dan 2 varietas bambu yang termasuk ke dalam 6 marga, yaitu Bambusa glaucophylla Widjaja, B.vulgaris Schard ex.Wendl. var.vittata A.riviere, B.vulgaris Schard ex.Wendl. var.vulgaris, B.tudoides Munro, B.multiplex (Lour.) Raeusch, Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex. Heyne, D.giganteus Munro, Gigantochloa apus (J.A.&J.H.Schultes) Kurz, G.atter (Hassk.) Kurz, G.atroviolaceae Widjaja, G.kuring Widjaja, G.pseudoarundinacea (Steud.) Widjaja, Phyllostachys bambusoides Siebold et Zuccarini, Schyzostachyum brachycladum Kurz, S. Iraten Steud, S.silicatum Widjaja, dan Thyrsostachys siamensis Gamble. Kunci determinasi bambu disusun untuk mengidentifikasi jenis-jenis bambu di Kabupaten Sumedang berdasarkan karakter morfologi dan anatomi.

Kata kunci : Taksonomi, Bambu, Sumedang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: