Jawa Tengah

Kabupaten Temanggung

Kualitas Bagus, Kerajinan Bambu Wonoboyo Sulit Pemasaran

Sumber:http://krjogja.com/ 20 Mei 2012 

Penyekat ruangan, salah satu hasil produksi kerajinan kelompok tani gemah ripah, Desa Wates Kecamatan Wonoboyo, Temanggung. Foto: Achmad Muzofar

TEMANGGUNG (KRJogja.com) – Produksi kerajinan bambu (handycraft-red) kelompok tani (Klomtan) Gemah Ripah di Desa Wates Kecamatan Wonoboyon, Temanggung memiliki kualitas yang cukup bagus. Namun, seperti kerajinan lain yang dibuat oleh warga di pedesaan, hasil katya mereka ini terkendala pemasaran, hal itu pun dialami Klomtan itu yang kesulitan memasarkan hasiI produksinya.

Produksi hasil kerajinan masyarakat desa yang diapit Gunung Sindoro dan Gunung Prahu tersebut berupa pemisah ruangan, meja mini, pot bunga, tatakan gelas dan aneka bentuk kerajinan lainnya. Selama ini, hasil produksi tersebut hanya dipromokan apabila ada pameran-pameran. Untuk pemasarannya, sejauh ini hanya mengandalkan pesanan perorangan yang minim.

Joko (30) sambil sibuk memilah-milah bambu gendani dibengkel produksinya, Minggu (20/5) mengatakan, bambu jenis ‘gendani’ yang digunakan itu dibuat berukuran hanya sebesar ibu jari dan memanjang dengan ruas-ruas yang halus. Setelah halus kemudian dipotong sesuai dengan sketsa kerajinan yang dikehendaki.

Tidak hanya dipotong, sebagian diantaranya dibengkok-bengkok untuk mendapatkan lengkungan dan lekukan menurut pola. “Untuk membengkokkan bambu, cukup dipanaskan, dengan api yang tidak terlalu panas, sambil ditekuk pelan. Harus pelan jangan sampai patah,” terang Joko seraya menambahkan, agar tidak patah bambu terlebih dulu dijemur hingga kering.

Untuk memproduksi aneka kerajinan bambu tersebut, Joko dibantu 13 orang dari kelompok tani lainnya. Mereka terbagi dalam berbagai tugas, mulai dari menebang bambu sampai mengolahnya menjadi siap edar di pasaran. “Kami berkelompok dan memiliki tugas yang berbeda-beda. Pembagian tugasnya sudah kami lakukan,” terangnya.

Produksi kerajinan bambu itu berawal, Joko bersama warga lainnya mendapatkan pelatihan kerajinan dari Pemkab Temanggung. Dari hasil pelatihan tersebut, ia kemudian mengajarkan kepada warga lainnya. Atas inisiatif kepala desa setempat, akhirnya sepakat untuk mendirikan kelompok tani yang konsentrasi bidangnya pada kerajinan hasil bambu.

“Saat memulai usaha dananya ditopang swadaya dari kelompok dengan cara iuran dan dibantu oleh kas desa juga,” imbuh Setyoko, Ketua poktan Gemah Ripah.

Hanya saja diakui, produksi kerajinan bambu itu diuntungkan oleh kemudahan mendapatkan bahan baku, sebab tanaman bambu berjejer memagari tepi jalan dan selama ini tidak banyak digunakan selain untuk mainan anak-anak. “Bahan bakunya tersedia cukup, tinggal butuh peralatan dan tenaga saja,” tambahnya.

Dalam perkembangannya, kini hasil produksi kelompok tani ini sudah mulai dipasarkan di banyak kota di Jawa Tengah melalui berbagai pameran-pameran. Bahkan, pernah tembus mengikuti pameran di Jakarta pada tahun lalu. “Sayangnya kami terbatas dengan akses pemasaran rutin, kalau hanya mengandalkan pameran, itu tidak cukup sepertinya,” imbuhnya.

Kepala Desa Wates, Kecamatan Wonoboyo, Sri Catur, menambahkan, produksi warganya yang sudah terbilang bagus. Buktinya, setiap mengikuti pameran, produk hasil karya kelompok tersebut habis. Sayangnya, pemasaran rutin dari produk tersebut sangat terbatas hanya pada pameran. “Sebenarnya kalau ada akses ke pasar, kami dapat memproduksi lebih banyak lagi. Bahan kami tersedia cukup. Alat kami sudah mempunyai dan tenaga kerja terlatih kami juga sudah ada,” tandasnya.(Mud)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: