Hudoyo Hupudio

“Chopstick Controversy” — Hati-hati yang suka pakai Sumpit

Oleh:  Hudoyo Hupudio

Sumber: http://groups.yahoo.com/ 

Di beberapa blog Indonesia saya melihat posting tentang sumpit yang “mengerikan”.

“Chopstick Controversy” ini mula-mula merupakan judul sebuah artikel ditulis  oleh Yang Zheng di majalah New Internationalist, April 1999: “Chopstick  controversy: China eats its forest away”. (Lihat di: http://findarticles.com/p/articles/mi_m0JQP/is_311/ai_30130478, saya lampirkan di bawah.) Artikel itu mengungkapkan penebangan kayu besar-besaran di Cina, antara lain untuk membuat sumpit.

Disusul sebuah buku yang diterbitkan oleh WWF International berjudul “China’s
Wood Market, Trade and the Environment”, th 2004 (bisa didownload di http://www.wwfchina.org/wwfpress/publication/forest/Chinawood.pdf), yang juga mengungkapkan penebangan hutan besar-besaran di Cina, antara lain untuk membuat sumpit. Dikatakan: “In 2003, Japan imported the majority of China’s chopstick exports …” (halaman 18)

Buku itu juga memuat cara-cara untuk mengurangi perusakan lingkungan itu: “Government agencies and environmental groups could encourage environmentally friendly resource-saving consumption. This could include, for example, restrictions on the use of “disposable” chopsticks. China is the biggest consumer, producer and exporter of chopsticks. According to one estimate, it fells 25 million trees a year to make 45 billion pairs. Two-thirds are used in China and few are recycled (Yang 1999).” (halaman 51) Cara-cara pelestarian hutan itu antara lain adalah menggunakan sumpit yang dapat dipakai ulang setelah dicuci, yakni sumpit bambu, sumpit plastik atau sumpit lacquer.

***

Berita yang benar ini kemudian dimanfaatkan oleh beberapa orang yang “kreatif” di internet dengan menambah-nambahi masalah sumpit itu dengan berita-berita sensasional tentang ketidaksehatan & kekotoran sumpit, lengkap dengan foto-fotonya. Semua itu palsu! SETIAP SUMPIT KAYU YANG MASIH TERBUNGKUS RAPI BISA DIPERIKSA SENDIRI, APAKAH MENGANDUNG KOTORAN YANG MEMBAHAYAKAN KESEHATAN ATAU TIDAK. (Kalau benar, tentu pihak Badan POM telah lama bertindak.) Maka menjadilah ini sebuah HOAX !

Yang menarik adalah, bahwa yang “kreatif” itu tampaknya adalah orang-orang
Indonesia, karena blog-blog yang memuat berita sensasional dengan gambar-gambar itu semuanya blog-blog berbahasa Indonesia. Saya tidak berhasil menemukan artikel serupa dalam bahasa Inggris. Sungguh memrihatinkan melihat banyaknya orang Indonesia yang suka iseng. Lebih memrihatinkan lagi adalah banyaknya orang Indonesia yang mempercayainya begitu saja, tanpa mengeceknya lagi, menunjukkan lemahnya intelektualitas.

Salah satu kesalahan besar dari orang-orang yang menciptakan hoax itu adalah
ini:

“Tahukah Anda, bagaimana sumpit ini dibuat ?

1. Dipotong dari pohon bambu …”

Padahal yang menjadi masalah di Cina adalah sumpit yang dibuat dari kayu (yang “sekali pakai” dan relatif modern), bukan yang dari bambu. Malah sumpit yang dari bambu bisa digunakan lagi dengan mencucinya lebih dulu. Jadi tampaknya orang-orang “kreatif” itu tidak tahu persoalan sebenarnya.

Kepada rekan-rekan pembaca saya serukan, harap jangan mudah percaya pada
artikel-artikel yang sensasional di internet, kalau tidak ingin terperosok ikut-ikutan menyebarluaskan kebohongan. Jangan mudah percaya sekalipun ada foto-foto segala, foto-foto itu bisa direkayasa atau tidak relevan sama sekali.

— Pencipta berita sensasional itu tidak bisa disalahkan, karena manusia itu suka sekali menjadi pusat perhatian dengan menceritakan hal-hal yang “wah”. Di
bawah ini ada peingatan dari sebuah situs: TruthOrFiction.

Ingat: tidak semua yang ada di internet BENAR! Dengan hoax ini, sadarilah betapa kita ini mudah sekali percaya akan hal-hal yang “menggemparkan”, atau yang “gaib-gaib”. Itulah sebabnya pergunjingan mudah sekali meluas, dan sinetron paranormal sangat disukai orang Indonesia.

Di sini masalahnya adalah pelestarian hutan, bukan masalah kesehatan pengguna sumpit kayu. Saya setuju dengan gerakan pelestarian hutan dengan tidak menggunakan sumpit kayu yang “sekali pakai”, tapi sumpit bambu–yang sudah dipakai orang selama ribuan tahun–yang bisa dipakai berulang-ulang tidak ada salahnya dipakai; kan pohon bambu mudah sekali tumbuh.

Saya setuju dengan gerakan “bring-your-own” (lihat: http://www.bringyourown.org/ , sangat informatif), tapi saya menolak orang-orang yang iseng menambah-nambahi dengan masalah kesehatan sumpit kayu yang sebetulnya tidak ada dan hanya memperbodoh publik.

Dan kita harus lebih waspada dalam menggunakan sarana internet yang masih
relatif baru bagi orang Indonesia. Banyak orang tidak jujur, orang jahat dan orang iseng di internet.

Salam,
Hudoyo

==============================
**** Chopstick controversy: China eats its forest away

New Internationalist, April, 1999 by Yang Zheng

EACH DAY in Chengdu, China – capital of the world-renowned Sichuan cuisine –
hundreds of thousands of people crowd into the city’s 60,000 restaurants to eat
barrowloads of meat, rice, eggs, vegetables and chillies. To do this they use
disposable chopsticks which require 4,000 cubic metres of timber. `For that
amount you need to fell 100 trees with an average height of ten metres,’ said
Cai Shiyan, a deputy of the National People’s Congress.

Throwaway chopsticks are now used in all but the poorest and the most expensive
restaurants throughout China. The poor ones reuse bamboo chopsticks after
cursory washing. The expensive ones prefer sanitized, lacquered-wood chopsticks.
All the rest use disposable wooden chopsticks.

China is the biggest consumer, producer and exporter of chopsticks. It fells 25
million trees a year to make 45 billion pairs. Two-thirds are used in China and
few are recycled.

But concern is growing over the environmental consequences. The Government is
convinced that the devastating floods last summer, which killed more than 3,000
people, were caused by soil erosion due to excessive logging in river basins.
Within weeks, the State Council banned logging and lumberjacks became planters
in Sichuan Province.

Cai, who is campaigning for a ban on disposable chopsticks, says: `It takes 30
to 40 years for a birch tree to mature, yet thousands are eaten away in the time
it takes to finish a meal.’

China is severely short of trees – only 13.9 per cent of its 9.6 million square
kilometres is covered by forest. Its amount of forest land per capita is ranked
121st in the world. Now 12 of the 40 state-owned logging companies have nothing
left to fell. `The remaining 80 million hectares of natural forests will
disappear in a decade if this felling continues,’ says Professor Shen Guofang,
of Beijing Forestry University.

Cai suggests Chinese restaurants should go back to the old days and reuse
chopsticks – but always sterilize them. `Individuals could solve the problem
themselves by carrying their chopsticks in their pockets,’ said Cai.

At Beijing Forestry University, disposable chopsticks have been banned. Workers
at the National Environmental Protection Agency now use their own and six
well-known restaurants in Chengdu have stopped using the disposable kind. `We
need rigorous control over the felling of trees for disposable chopsticks,’
insists Liu Yun, director of the China Chopsticks Museum. `Export should be
reduced, and production restricted.’

Yang Zheng/Gemini News Service

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: