Bambu Gila

Bambu Gila di Maluku, Adu Kuat Manusia dengan Bambu

Oleh: Afif Farhan – detikTravel 

Sumber: http://travel.detik.com/ 01 Februari 2012 

Permainan bambu gila yang menantang (sholihinramdhani08.blogspot.com)

Ratusan jenis pertunjukan adat tersebar di berbagai pelosok di Indonesia. Salah satunya adalah permainan bambu gila di Maluku. Memang terdengar sedikit aneh, namun permainan ini dikenal sangat unik dan mistis. Anda berani mencoba?

Permainan ini terlihat sangat sederhana. Tidak diperlukan berbagai pernak-pernik dan aksesoris. Permainan bambu gila hanya memerlukan sebatang bambu sepanjang 2,5 meter dengan diameter 8 cm. Serta 7 orang yang berani untuk mengadu kuat dengan bambu dan beberapa pawang dengan kemenyan. Tarian ini adalah warisan dari leluhur mayarakat Maluku. Biasanya tarian ini sering diadakan di pesta-pesta atau acara-acara besar.

Pertunjukan bambu gila dapat Anda temui di dua desa, yaitu Desa Mamala, Kecamatan Leihitu dan Desa Liang, Kecamatan Salahatu, Kabupaten Maluku Tengah. Serta beberapa tempat yang ada di Kota Ternate. Pemilihan bambu pun tidak sembarangan. Bambu dipilih berdasarkan permintaan pawang dan meminta izin terlebih dahulu dengan ‘penunggu’ bambu tersebut. Pertunjukan bambu gila sudah dikenal sejak lama. Konon, sebelum Inggris dan Portugis datang ke Maluku untuk mencari rempah-rempah.

Saat pertunjukan bambu gila berlangsung (sholihinramdhani08.blogspot.com)

Sebelum memulai pertunjukan, pawang melakukan ritual dengan membakar kemenyan yang ada di dalam tempurung kelapa dan membaca mantera-mantera. Mantera yang diucapkan menggunakan ‘bahasa tanah’, yaitu bahasa leluhur Maluku. Saat pawang melakukan ritual, jangan heran jika banyak asap-asap dan nuansa mistis yang Anda rasakan di sekitar tempat pertunjukan. Ritual tersebut dipercaya dapat memanggil roh para leluhur untuk ‘mengisi’ bambu yang akan digunakan.

Saat pertunjukan dimulai, tujuh orang tersebut akan bergerak tidak beraturan seperti terguncang-guncang, berlarian, hingga loncat-loncatan. Pawang tidak tinggal diam, dia terus mengucapkan mantera selama pertunjukan berlangsung. Suasana tambah mistis dengan irama-irama musik yang cepat dengan gendang. Seolah bambu tersebut menari-nari di dalam rangkulan tujuh orang tersebut.

Pawang yang memasukan roh (sholihinramdhani08.blogspot.com)

Bagi Anda yang melihat pertunjukan ini, mungkin akan terhibur. Namun, tidak dengan tujuh orang tersebut. Mereka terlihat sangat kepayahan, karena menggunakan sekuat tenaga mereka untuk menggendalikan bambu. Pertunjukan ini berlangsung sekitar 10 menit. Setelah selesai, tujuh orang tersebut akan dibacakan mantera-mantera oleh sang pawang dan mereka terlihat sangat kelelahan.

Siapkan diri Anda untuk mengadu kuat dan nyali dengan bambu gila.

Tarian Bambu Gila 

Sumber: http://www.bkpmd-maluku.com/ 23 February 2012

Maluku seringkali identik dengan suara indah dan nyanyian serta tarian. Banyak penyanyi, pemusik dan penari yang berasal dari Maluku. Maluku memang erat sekali dengan tradisi bermain musik serta tari-menari.

Jika ingin mengenal Maluku maka perlu juga mengenal tarian tradisionalnya yang beraneka ragam dan begitu dinamis.

Salah satu tarian tradisional yang dapat kita kenal adalah sebuah tarian yang bernama tari Bulu Gila atau Bambu Gila, suatu tarian yang berasal dari permainan rakyat Maluku Tengah. Tarian ini adalah permainan tradisional yang biasanya dipertunjukkan para pemuda desa pada acara-acara tertentu. Dahulu para penari akan bergerak dengan lincah mengikuti gerakan bambu gila yang telah dimanterai oleh pawang. Mereka akan membuat gerakan rangkaian dan saling mengaitkan tangan, dengan kelincahan gerakan kaki yang meliputi berjalan, melompat maupun berlari mengikuti suara musik yang dinamis. Dengan gerakan yang begitu dinamis maka para penari dituntut memiliki fisik yang cukup kuat.

Kini tari itu hampir punah, dan hanya tinggal gerakan-gerakannya yang diubah menjadi tari lincah dengan gerakan kaki serta bulu (bambu) yang didekap kedua tangan. Gerak itu menandakan kesatuan dan persatuan dalam masyarakat. Gerakan yang kompak dan seirama ini sebenarnya merupakan lambang dari semangat gotong royong, yaitu membangkitkan jiwa persatuan dan kesatuan dalam melaksanakan berbagai segi hidup, yang adalah gambarang dari jiwa kegotong-royongan atau “Masohi” yang adalah budaya masyarakat Maluku sejak dulu kala.

Tari adat lainnya adalah Tari Lolyana yang merupakan tradisi dan kebudayaan masyarakat Kepulauan Teon Nila, Serua. Tarian ini mengangkat upacara panen lola ke dalam bentuk pertunjukan. Lolyana sendiri adalah kata umum yang dipakai untuk pekerjaan untuk mengumpulkan salah satu hasil laut, lola. Panen lola ini dilaksanakan setelah sasi lola dibuka secara resmi oleh ketua agama dan pemangku adat setempat.

Di daerah Maluku, sasi dikenal sebagai salah satu pranata adat yang diartikan sebagai larangan atau pantangan untuk mengumpulkan hasil alam, baik hasil alam maupun hasil laut, sampai batas waktu yang telah disepakati bersama oleh seluruh masyarakat desa. Fungsinya adalah sebagai alat kontrol untuk mengatur dan menjaga kelangsungan dan kelestarian sumber daya alam dari keserakahan manusia.

Proses panen lola diawali dengan pesta rakyat mengelilingi api unggun sejak malam hari hingga subuh. Upacara itu dilanjutkan syukuran dan doa kepada Yang Maha Kuasa demi keberhasilan panen yang akan dilaksanakan. Menjelang terbitnya matahari, panen dilakukan secara gotong royong oleh kaum pria dan wanita. Proses panen lola itulah yang kemudian diabadikan dalam tari Lolyana.

Ritual peniupan dupa di bagian tengah bambu

Ritual Bambu Gila

OLEH Rafly Rinaldy

Sumber:  http://fotokita.net/ 

Goyangan Bambu Gila

Bara Masuwen, begitulah nama bambu gila itu. Juga nama pertunjukkan rakyat, khas Maluku Utara, kali itu dipertontonkan dipantai Liang. Merupakan bentuk pertunjukan tertua rakyat yang bersifat ritual. Mencerminkan sifat kegotong royongan dan ciri keseharian rakyat di Maluku Utara.

Awal sejarahnya berasal dari hutan bambu terletak di kaki Gunung Berapi Gamalama, Ternate, Maluku Utara. Sejumlah pemuda semula mencari bambu di kawasan ini untuk mengadakan permainan bambu gila.

Sengatan matahari dan tajamnya sisi batu yang menghitam, bukan penghalang langkah mereka. Tetap bersemangat mencari sebatang bambu, yang bisa memberi hiburan bagi rakyat sekampung. Sesampai di rumpun bambu, mereka tak lupa meminta izin dari sang pemilik, agar merelakan sebatang bambunya.

Setelah dipilih, bambu pun ditebas. Dibersihkan dan diperiksa kelayakannya untuk menjadi bahan pertunjukan bambu gila. Penghitungan ruas harus dilakukan dengan cermat.

Sebelum permainan dimulai, doa pun dipanjatkan, memohon izin dari Sang Pencipta. Aroma kemenyan atau pun dupa dibawa asap pada ujung suluh, mulai membuat bambu bergoncang. Tak pelak lagi, para pemegang bambu gila ini, mulai mengerahkan tenaganya mempertahankan posisi, agar tak mudah dikalahkan tujuh ruas bambu.

Kekuatan tarian bambu gila ini bukan main. Kalau tidak dijaga oleh beberapa pembantu pawang para pembawa bambu gila ini bisa dibuat puyeng. Selama hampir tiga puluh menit, enam pembawa bambu gila ini diajak mengitari lapangan seluas 50 meter persegi. Ayunan yang mengikuti irama gamelan, awalnya pelan. Tetapi kemudian menjadi kian keras sehingga membuat mereka yang memegangnya kewalahan mempertahankan posisi pegangannya.

Di akhir pertunjukan bambu yang tadinya dibawa seorang saja kuat, ketika dilepaskan bagai besi berton-ton beratnya, sehingga sang pawang tak kuasa membawanya, sehingga terlihat sempoyongan untuk menahan bambu yang telah diletakkan di tanah. Dan uniknya meski sudah selesai daya ghaib dari bambu itu tidak mau lepas kalau tidak diberi makan api. Oleh karena itu dibuatlah api dari kertas yang dibakar. Dan sang pawang pun melahap api dengan telapak tangannya tanpa dilambari pengaman. Dan sirnalah isi bambu itu dan kemudian sang pawang lemas kelelahan .

Pemlihan sebatang bambu

Ritual pembacaan dupa

Ritual peniupan dupa ke bambu

Ritual peniupan dupa ke bagian tengah bambu

Ritual peniupan dupa di bagian ujung bambu

Pelepasan bambu

Goyangan Bambu Gila

Istirahat sejenak

100 Bambu Gila Akan Catat Rekor MURI

Sumber: http://regional.kompas.com/  17 April 2012 

TERNATE, KOMPAS.com — Sebanyak 700 peserta berikut 100 pawang akan menampilkan 100 bambu gila (baramasuwen), permainan tradisional di Maluku Utara dan Maluku, sebagai bagian dari Festival Legu Gam di Ternate, Maluku Utara, Jumat (20/4/2012). Atraksi ini akan dicatatkan di Museum Rekor Indonesia sebagai bambu gila dengan peserta terbanyak.

Ketua Bidang Humas Festival Legu Gam Syarifudin Abdurrahman menjelaskan, dalam acara tersebut, setiap bambu dengan panjang sekitar 4,5 meter akan dipegang oleh tujuh peserta. Di setiap bambu itu pula akan ada satu pawang yang mengendalikan bambu.

“Permainan tradisional ini akan digelar di lapangan yang berada di depan Kadaton (keraton) Ternate. Mereka semua akan bermain serentak,” ujar Syarifudin, Selasa, di Ternate.

Permainan bambu gila yang berkembang di Maluku Utara dan Maluku diyakini memiliki kekuatan magis. Bambu akan bergerak sesuai dengan keinginan pawang meskipun dipegang banyak orang.

Syarifudin mengatakan, penampilan 100 bambu gila ini untuk dicatatkan di Museum Rekor Indonesia (Muri) sekaligus menjadi salah satu daya tarik dalam festival budaya Legu Gam, yang telah berlangsung sejak 25 Maret dan akan berakhir 21 April. Selain itu, permainan sebagai bagian dari budaya ini pun ditampilkan agar keberadaannya tetap lestari.

Jika pada 20 April mendatang permainan 100 bambu gila ini dicatat di Muri, berarti untuk kedua kalinya acara di Legu Gam dicatat sebagai rekor di Indonesia. Pada pelaksanaan Legu Gam tahun 2011, sebanyak 8.125 orang menarikan soya-soya, tarian tradisional, dan tercatat sebagai rekor ke-4816 di Muri.

Menurut Syarifudin, pencatatan rekor di Muri akan menjadi salah satu target setiap Legu Gam digelar. Pasalnya, ini menjadi daya tarik wisatawan untuk datang sekaligus melestarikan budaya Maluku Utara.

Legu Gam merupakan pesta rakyat Maluku Utara yang menonjolkan budaya Maluku Utara. Legu Gam menjadi agenda rutin sejak sepuluh tahun lalu—diadakan pada bulan April setiap tahun—untuk memperingati hari ulang tahun Sultan Ternate Mudaffar Syah yang jatuh setiap 13 April.

Arifin: Permainan Bambu Gila Berasal dari Malut

Sumber: http://travel.kompas.com/  23 April 2012

KOMPAS/A PONCO ANGGORO
Pertunjukan tradisional baramasuwen (bambu gila) menjadi atraksi dalam Legu Gam Moloku Kie Raha 2010 atau Pesta Rakyat Maluku Utara 2010 di Lapangan Ngara Lamo, Ternate, Maluku Utara, Maluku, Rabu (7/4/2010). Meskipun diangkat oleh lima orang, bambu tersebut tidak bisa dikendalikan. Bambu itu mengikuti gerak dari sang pawang yang memberikan kekuatan magis pada benda tersebut.

TERNATE, KOMPAS.com – Kesultanan Ternate menyatakan permainan bambu gila berasal dari Maluku Utara, khususnya Ternate. Oleh karena itu kalau ada daerah di Indonesia yang mengklaim bahwa permainan bambu gila asal daerahnya, jelas itu tidak benar. “Banyak bukti yang menunjukkan bahwa permainan bambu gila asal Malut, seperti dari penggunaan bahasa dalam permainan bambu gila itu,” kata seorang perangkat Kesultanan Ternate, Arifin Djafar di Ternate, Senin (23/4/2012).

Menurut Arifin, bahasa yang digunakan dalam permainan bambu gila yang di Malut dikenal dengan nama ‘bara masuen’ itu adalah bahasa Ternate, baik saat prosesi saat menyiapkan bambu maupun mantra yang dibaca saat dimainkan.

Bahasa yang digunakan saat akan memulai permainan bambu gila misalnya berbunyi ‘bara masuen jadi gou-gou’ itu adalah bahasa Ternate yang artinya ‘bambu gila jadi betul-betul’. “Dimana pun bambu gila dimainkan pasti menggunakan kalimat itu,” kata Arifin yang juga Wakil Wali Kota Ternate.

Jadi, lanjut Arifin, sangatlah aneh kalau ada daerah yang mengklaim permainan bambu gila itu dari daerahnya, sementara bahasa yang digunakan dalam permainan itu termasuk seluruh mantranya menggunakan bahasa Ternate.

Arifin menjelaskan, permainan bambu gila sudah ada di Ternate sejak ratusan tahun silam dan saat itu permainan bambu gila dimanfaatkan masyarakat adat Kesultanan Ternate untuk memindahkan barang yang tidak mungkin diangkat menggunakan tenaga manusia.

Selain itu, kata Arifin, bambu gila saat itu digunakan oleh masyarakat Kesultanan Ternate sebagai senjata untuk melumpuhkan musuh. Saat itu bambu gila bisa dikerahkan dengan kekuatan supranatural untuk menyerang lawan. “Sekarang permainan bambu gila tetap dilestarikan di Ternate, tapi fungsinya sebagai permainan untuk hiburan rakyat, seperti yang ditampilkan pada Festival Legu Gam di Ternate pekan lalu,” kata Arifin.

Arifin yang juga sering tampil sebagai pawang permainan bambu gila itu menambahkan, permainan bambu gila kini telah menjadi salah satu daya tarik wisata di Ternate, karena permainan ini dianggap unik oleh wisatawan.

Keunikan permainan bambu gila itu, diantaranya terletak pada adanya kekuatan supranatural pada bambu yang bergerak sendiri mengikuti pergerakan api obor dan asap kemenyan di tangan pawang, meski bambu itu dipegang sejumlah orang.

Sumber : Antara

Bambu Gila, Tradisi Mistik Yang Terpelihara 

Sumber: http://www.gatra.com/ 06 May 2012 

Anak kecil itu bernampilan unik. Berbalut pakaian putih, lengkap dengan surban yang berkibar-kibar ditiup angin. Di tangan kirinya memegang sabut kelapa, sedangkan tangan kanannya menggenggam korek api. Lalu sabut kelapa disulut dengan korek api yang sudah menyala, sambil mendekati sebarisan anak-anak yang memegang erat sebatang bambu.

Sejurus kemudian, mulut si anak berkomat-kamit merapal mantera mengibas-ngibaskan asap hingga mengepul-ngepul ke udara. “Wala yatalattaf wayus fir’aun…” Mantra dirapal sambil mengasapi ujung bambu dengan serabut kelapa.

“Bara masuen (bambu gila),” teriak si anak kecil bak seorang pesulap. “Dadi gogo (benar-benar jadi),” para pemeluk bambu menjawab serentak. Tiba-tiba, bambu warna hijau sepanjang lima ruas atau sekira 3 meter itu mulai bergerak-gerak. Bambu makin berat, terasa seperti hidup dan ingin berontak dari pelukan tangan. Selongsong bambu itu membetot dan mengocok para pemegangnya ke kiri dan ke kanan.

Bambu hijau itu menggila, membuat suasana di pantai Pantai Susupu, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat, pada Jumat (23/3/2012), riuh oleh teriakan dan gelak tawa. Ia memaksa para penggenggamnya mengeluarkan tenaga ekstra untuk melawan kekuatan sang bambu. Sampai akhirnya, mereka harus mengakui kekuatan bambu tersebut, dan rame-rame terjerembab ke tanah. Si pawang kembali menjampi-jampi. Mulutnya komat kamit sambil tangannya memegang ujung bambu. Lalu, kekuatan bambu pun menghilang. Semua tampak kelelahan.

Permainan tradisonal berbau magis itu disebut bambu gila. Atraksi ini sering diperagakan di berbagai acara adat dan kesenian di Pulau Halmahera. Dalam permainan tersebut, seseorang yang memiliki ilmu akan mengendalikan sebatang bambu yang dipegang oleh sekitar 7-9 orang anak laki-laki (jumlahnya harus ganjil). Mereka mendekap bambu itu dengan pergelangan tangannya. Lalu si pawang mentransfer ilmu tenaga dalam ke bambu itu, hingga bambu dapat bergerak, bahkan terbang. Tak jarang anak-anak ikut terbang bersama bambu gila itu.

Bambu gila juga dikendalikan oleh gerakan tangan sang pawang yang memegang benda berasap. Jika tangan bergerak ke selatan, maka bambu itu akan bergerak ke selatan. Begitu juga jika tangan pawang bergerak ke arah barat, maka bambu akan bergerak ke arah barat. Anak-anak yang memegang bambu hanya terkekeh-kekeh sambil memegang erat bambu gila itu supaya tidak terjatuh.

Dulu, di masa Kesultanan Ternate, penduduk menggunakan bambu gila untuk mendorong perahu kora-kora dari daratan ke laut. Beberapa orang, jumlahnya harus ganjil, mengapit bambu di lengan mereka dan berdiri di belakang kapal. Dengan jampian pawang, bambu pun memiliki kekuatan untuk mendorong kora-kora.

“Mantranya campuran bahasa daerah dan doa, bisa dari Al-Quran atau Injil,” kata Syarif Alif, salah seorang pawang bambu gila. Menurut Syarif, kekuatan bambu tidak hanya datang dari rapalan pawang, tapi juga dipengaruhi asap. Makin banyak asap, semakin besar juga kekuatan si bambu. Asap tersebut bisa berasal dari serabut kelapa atau kemenyan. Dan si pawanglah yang mengatur kekuatan bambu. Dimana si pawang memberikan asap, di situlah kekuatan terbesar bambu.

Kini fungsi bambu gila sudah bergeser. Sebab, tradisi mendorong dengan bambu gila sudah ditinggalkan sejak muncul teknologi modern. Kini masyarakat Halmahera menjadikan bambu gila sebagai permainan tradisonal. Filosofinya adalah mengasah kerja sama dan kekompakan masyarakat untuk mencapai suatu tujuan. (HP)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: